Setelah terjadi serangan mematikan di Ibu Kota Paris, Prancis, pada Jumat malam lalu Israel sudah berbagi informasi intelijen dengan otoritas Prancis.Pejabat senior Negeri Bintang Daud menuturkan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pernyataannya pada Sabtu lalu mengatakan Israel punya informasi terkait siapa saja tersangka yang terlibat dalam penyerangan yang menewaskan 129 orang dan melukai 352 lainnya itu."Kita bukan anak bawang dalam kasus semacam ini. Informasi yang kita punya sudah kita bagi dengan Prancis dan negara lain yang terkait, bukan baru-baru ini saja," kata Netanyahu, seperti dilansir koran Haaretz, Sabtu (14/11).Pernyataan Netanyahu membuat sejumlah kalangan tergelitik untuk melayangkan pertanyaan, apakah Israel sebelumnya sudah mengetahui Paris akan diserang?Selepas serangan di Paris, Netanyahu memerintahkan pihak intelijen membantu segala apa yang dibutuhkan Prancis."Israel bahu-membahu bersama Presiden Francois Hollande dan rakyat Prancis untuk berperang melawan terorisme," ujar Netanyahu.Menurut stasiun televisi Israel Channel Two, Negara Zionis itu sebelumnya tidak menyampaikan peringatan akan ada penyerangan di Paris. Tapi hanya beberapa jam sebelum Paris diserang, Israel memberikan informasi rinci tentang sejumlah militan ISIS yang diyakini akan melancarkan serangan itu.Mengutip sumber pejabat senior Israel yang enggan diketahui namanya, Channel Two mengatakan Israel melihat "ada keterkaitan operasional yang jelas" antara serangan di Paris, pengeboman bunuh diri di Libanon sehari sebelumnya, dan jatuhnya pesawat Rusia di Sinai, Mesir pada 31 Oktober lalu, seperti dilansir kantor berita Reuters, Ahad (15/11).Seorang diplomat asing tahun lalu juga mengatakan Israel pernah memberikan
Advertisement
informasi didapat dari data perjalanan internasional kepada pasukan Amerika Serikat tentang para militan Barat yang diduga akan bergabung dengan ISIS.Sementara itu kantor berita the Associated Press (AP) melaporkan, pejabat senior intelijen Irak sudah memperingatkan kepada negara-negara koalisi tentang ancaman serangan dari ISIS sehari sebelum serangan di Paris.Intelijen Irak itu mengatakan, pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi sudah memerintahkan penyerangan kepada negara koalisi dengan cara pengeboman, pembunuhan atau penyanderaan dalam beberapa hari ke depan.Namun intelijen Irak itu mengatakan mereka tidak mempunyai informasi rinci mengenai kapan dan di mana serangan itu akan dilakukan. Pejabat keamanan senior Prancis mengatakan kepada AP, intelijen Prancis menyatakan mereka hampir tiap hari, tiap waktu menerima peringatan semacam itu.Pejabat Irak itu menuturkan para militan yang menyerang Paris itu sudah dilatih menjalankan operasi khusus di Raqqa, ibu kota ISIS di Suriah sebelum dikirim ke Prancis.Para militan ISIS yang terlibat dalam operasi ini berjumlah 24 orang, kata si pejabat, terdiri dari 19 penyerang dan lima orang perencana dan logistik.