Deretan lelucon buruk Charlie Hebdo picu kemarahan dunia

Dulu lecehkan sosok Nabi Muhammad, lanjut menghina temuan MH370, kini jasad pengungsi Aylan Kurdi diolok-olok

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Deretan lelucon buruk Charlie Hebdo picu kemarahan dunia
Tabloid Charlie Hebdo ejek jasad bocah pengungsi Aylan Kurdi. ©2015 Merdeka.com

Charlie Hebdo kembali menggegerkan publik. Tabloid satir berpusat di Ibu Kota Paris, Prancis, itu melontarkan lelucon soal foto jasad Aylan Kurdi, bocah pengungsi tiga tahun asal Suriah yang tewas bersama ibu dan kakaknya, ketika perahu mereka terbalik saat menyeberang ke Yunani.

Edisi tabloid kontroversial itu, seperti dilansir Gulf News, Senin (14/9), diberi tajuk 'nyaris mencapai tujuan'. Topik yang dibahas rata-rata bernuansa negatif pada kebijakan imigrasi Uni Eropa.

Charlie Hebdo pun menggunakan lelucon SARA di edisi tersebut. Di salah satu halaman, ada kartun menggambarkan Yesus berdiri di atas air sambil diberi keterangan 'orang Kristen berjalan di air, anak muslim tenggelam'.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Pengguna Internet sedunia kembali mengecam Charlie Hebdo atas leluconnya soal pengungsi Suriah. "Tidak ada lagi yang lebih memuakkan dari kartun menghina anak yang tewas," tulis akun @zesfaye.

Tabloid ini seakan ditakdirkan berkalang masalah karena lelucon yang mereka buat. Publik tentu belum lupa, pada awal 2015, kantor pusat Charlie Hebdo diserbu militan radikal setelah memuat kartun menghina Nabi Muhammad. Akibat serangan itu, 10 wartawan Charlie Hebdo dan tiga polisi tewas.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kartun kontroversial itu menggambarkan panutan umat Islam itu dalam posisi telanjang beserta olok-olok lainnya.

Lima bulan setelah diserang, Redaktur Charlie Hebdo Laurent Sourisseau mengatakan kebijakan redaksional mereka tidak akan berubah. Pelecehan sosok Muhammad menurut Laurent merupakan bentuk kebebasan berekspresi.

"Kami sudah menggambar Muhammad untuk

mempertahankan prinsip bahwa siapa pun bisa menggambar apa yang mereka mau," kata Sourisseau. "Kami sudah tuntaskan pekerjaan kami. Kami sudah mempertahankan hak untuk menggambar karikatur."

Kendati penyerangan kantor Charlie Hebdo dikecam dan memicu gelombang solidaritas untuk perlindungan wartawan, namun konten tabloid itu bukannya diterima oleh pembaca di Negeri Anggur.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Survei digelar Le Journal du Dimanche menyatakan tidak sedikit warga Prancis menolak cara Tabloid Charlie Hebdo menghina agama. Selain Islam, kepercayaan Kristen dan Hindu juga kerap diolok-olok.

Kartun-kartun yang menghina Nabi Muhammad, menurut warga Prancis, seharusnya tidak dipublikasikan. Sikap itu mewakili 42 persen responden, seperti dilansir Majalah TIME.

Seakan tak puas mengundang kontroversi, pada Agustus lalu, Charlie Hebdo kembali membuat sensasi. Sampul kartun mereka mengolok-olok temuan serpihan pesawat di Samudera Hindia yang diduga kuat berasal dari Malaysia Airlines MH370 yang hilang setahun terakhir.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Charlie Hebdo menulis tajuk 'Malaysian Airlines: Hope', disertai gambar potongan tangan menyentuh payudara tanpa badan. Ada tulisan kecil menyatakan 'Kami telah menemukan potongan pilot dan pramugarinya."

Di gambar kartun itu turut menampilkan dua lelaki yang terkejut sekaligus senang di kejauhan.

Pengguna Twitter dari pelbagai negara langsung mengecam sampul Charlie Hebdo itu. Sebagian menyebut cara tabloid satir ini melontarkan guyonan atas bencana MH370 tidak berkelas.

"Humor rendahan #CharlieHebdo, kalian seharusnya malu," tulis pengguna Twitter bernama Azrul Naime.

Komentator lain menyebut Charlie Hebdo

memperpanjang reputasi buruk mereka. "Pesan dari sampul ini merusak seperti biasanya (produk Charlie Hebdo)," tulis Gervais Claude.

Pemilik Charlie Hebdo bahkan sebetulnya berseberangan dengan pemikiran anggota redaksi. Henri Roussel, sang pemilik, menyalahkan redaktur Stephane Charbonnier, akrab disapa Charb, atas insiden penyerangan kantor mereka. Charb ikut tewas ditembak militan.

"Apa yang membuat dia (Charb) merasa perlu menjerumuskan timnya dengan gambar yang berlebihan itu?"

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

"Saya yakin kita ini bodoh karena mengambil risiko yang tidak perlu. Kita berpikir kita tidak akan diserang. Selama beberapa tahun, dekade, bahkan. Tapi itu adalah bentuk provokasi dan suatu hari provokasi itu mencelakakan kita," tulis Roussel.

Terlepas dari humor Charlie Hebdo yang menyudutkan Islam, beberapa bulan setelah insiden penyerangan kantor itu minat warga Negeri Anggur mempelajari Islam justru meningkat.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Minggu (5/4), Asosiasi Toko Buku Prancis menyatakan sepanjang triwulan pertama 2015, buku-buku yang paling laris adalah panduan agama Islam.

Mansour, pemilik Penerbit Al Bouraq, mengatakan buku-buku terbitannya yang membahas kajian fiqih maupun sejarah Timur Tengah laris manis. Peningkatan omzet mencapai 30 persen tiap bulan.

Rekomendasi