Peristiwa ledakan bom yang terjadi di kuil Erawan, Thailand mulai menemui titik terang. Tim investigasi menyebut kuat dugaan pelaku teror tersebut adalah orang Turki.Menurut sumber yang dikutip Bangkok Post, kini polisi tengah menyelidiki orang-orang Turki, yang kedapatan mengunjungi Thailand beberapa hari sebelum ledakan itu terjadi. Bekerja sama dengan pihak imigrasi, kepolisian Thailand kini tengah menyelidiki latar belakang puluhan imigran tersebut. Tak lupa polisi juga mencocokkan foto para turis tersebut dengan sketsa pelaku yang telah disebar ke masyarakat.Kepolisian Thailand mengindikasikan pelaku adalah orang-orang Turki, setelah memperhatikan dengan cermat pelaku yang terekam di CCTV. Pelaku tersebut diduga berasal dari Asia Tengah, salah satunya Turki.
Advertisement
Dugaan ini semakin menguat, ketika beberapa waktu lalu 200 orang Turki berdemo di Konsulat Thailand di Turki. Mereka memprotes Thailand yang mendeportasi 100 muslim Uighhur ke China pada Juli lalu. Bahkan para demonstran ini menggeruduk kantor konsulat Thailand sampai kantor tersebut terpaksa ditutup selama sepekan. Pelaku bom pun akhirnya mengerucut kepada kelompok pro-muslim Uighur di Turki. Satu suara dengan polisi Thailand, Konsultan Keamanan untuk IHS Jane's Defence menganalisis pelaku berasal simpatisan Uighur yang disebut dengan Serigala Abu-abu atau Gray Wolves. "Gray Wolves digambarkan sebagai kelompok fasis, ekstremis gerakan kanan, pan-Turki" jelas dia dalam laman turkishweekly. Analisis ini juga diperkuat oleh Philip Robertson, Kepala Deputi Human Right Watch. Robertson mengatakan banyak orang-orang Turki yang masih memiliki kekerabatan dengan masyarakat Uighur. Pengusiran oleh Thailand pun akhirnya menyebabkan kebencian dan kemarahan. "Semua pasti ada konsekuensinya,"ucap dia singkat. Sementara itu, para investigator juga menemukan sembilan sidik jari berbeda di taksi yang ditumpangi pelaku. Para pemilik sidik jari tersebut juga tidak berhubungan dengan buronan atau pelaku kriminal.Bahkan kini kepolisian Thailand tengah mengusahakan pengadaan biometric scanning yang mampu memindai wajah, sidik jari dan retina orang yang terkait dengan tindak kriminal. Kendati demikian, selain alasan ektremisme agama, pemboman di kuil Erawan dapat juga terkait dengan kekisruhan politik di Thailand atau terorisme internasional.