Abbott tak bantah suap kapal imigran gelap supaya berbalik ke RI

PM Australia menyebut kebijakan imigrasi yang merugikan Indonesia itu kreatif

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Abbott tak bantah suap kapal imigran gelap supaya berbalik ke RI
Kapal imigran gelap menuju Australia. (c) live.net

Perdana Menteri Australia Tony Abbott tidak membantah informasi anak buahnya menyuap nahkoda kapal imigran gelap supaya berbalik arah ke Indonesia.

Saat diwawancara Radio Melbourne 3AW, hari ini, Jumat (12/6) pagi waktu setempat, pemimpin Negeri Kanguru itu menyatakan kebijakan apapun untuk menghalau imigran harus ditempuh.

"Saya tidak ingin membahas masalah ini. Pemerintah Australia melakukan apa pun yang perlu dilakukan untuk memberantas perdagangan

manusia," kata Abbott.

Tanpa menyinggung kasus yang ditemukan Kepolisian Rote, Nusa Tenggara Timur, Indonesia itu, Abbott menekankan bahwa petugas imigrasi berhak berlaku kreatif untuk menghentikan perdagangan manusia.

Ketika didesak lebih lanjut oleh sang penyiar apakah akan mendukung kebijakan suap kapal imigran di masa mendatang, Abbott berkelit.

"Saya tidak ingin membahas kemungkinan tersebut."

Jawaban Abbott berbeda dari Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop yang sudah menampik isu tersebut. Menteri Imigrasi Peter Dutton kemarin juga telah membantahnya.

Sebelumnya dilaporkan Australia membayar para pencari suaka agar mereka mau memutar kapal yang mereka gunakan kembali ke Indonesia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir membenarkan adanya hal tersebut. Kasus ini sudah ditangani oleh kepolisian Kepulauan Rote, Kupang.

"Pihak Indonesia masih menginterogasi seorang kapten kapal dan ABK yang terindikasi menerima suap dari pemerintahan Autralia guna mengembalikan kapal pencari suaka tersebut ke Indonesia," kata Tata dalam jumpa pers di Kementerian Luar Negeri, Kamis (11/6).

Arrmanatha mengatakan tuduhan yang beredar mereka disuap sebanyak ASD 5 ribu (setara Rp 66,5 juta) untuk nahkoda dan tiap anak buah kapal yang bersedia putar arah ke Indonesia.

Kapal yang mengangkut 65 orang itu diusir oleh otoritas perbatasan Australia pada awal bulan ini. Para imigran gelap itu terdiri dari 54 orang Sri Lanka, 10 orang Bangladesh, dan seorang warga Myanmar.

Rekomendasi