Kesimpulan intelijen, Pilot MH370 bunuh diri!

Mantan Kapolri Sutarman dan sumber di pemerintah RI juga menyebut indikasi itu. Bukan kejadian pertama di dunia

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Kesimpulan intelijen, Pilot MH370 bunuh diri!
Kapten Pilot Malaysia Airlines MH370 Zaharie Ahmad Shah. ©theStar

Sudah lebih dari tujuh bulan berlalu. Pencarian Malaysia Airlines MH370 berujung pada jalan buntu. Satu persatu negara yang terlibat operasi evakuasi pesawat terbesar sepanjang sejarah itu mundur.

Tiba-tiba Kapolri saat itu dijabat Jenderal Sutarman, mengaku tahu apa yang sebenarnya menimpa pesawat mengangkut 239 penumpang dan kru itu. "Sampai saat ini MH370 tidak diketahui di mana lokasinya, tetapi sebenarnya saya tahu sedikit dengan kepala Kepolisian Malaysia Tun Mohammed Hanif Omar apa yang sebenarnya terjadi," ujarnya di Jakarta, Jumat (12/9/2014).

Sutarman berkeras tidak mau membocorkan informasi itu. Dia hanya menyatakan penerbangan pesawat harus benar-benar dipercayakan kepada orang yang memiliki integritas dan kompetensi.

"Ucapan Sutarman dulu sama dengan kesimpulan kalangan intelijen. Sebetulnya MH370 hilang karena pilotnya bunuh diri," kata sumber merdeka.com di Kementerian Luar Negeri, Kamis (5/3).

Pilot pesawat naas itu adalah Kapten Zaharie Ahmad Shah, warga negara Malaysia berumur 53 tahun. Zaharie bekerja di Malaysia Airlines sejak 1981 dan memiliki 18.365 jam terbang.

Informasi bahwa pilot memutuskan bunuh diri sekaligus menghabisi penumpang lainnya sangat sensitif. Industri penerbangan di Malaysia maupun kawasan ASEAN dapat terguncang.

"Makanya, sebetulnya untuk menjaga nama baik tidak diungkap penyebab aslinya. Keluarga korban kabarnya juga sebagian sudah tahu pilot bunuh diri," ungkap sumber yang sama.

BBC ternyata mendapat sumber yang tidak jauh beda dalam laporan khususnya Jumat (6/3). Setahun berlalu, teori pilot bunuh diri bukan lagi sekadar isapan jempol atau spekulasi.

Simon Hardy, pilot senior Inggris, mengatakan data radar menunjukkan MH370 terbang bolak-balik di atas wilayah Malaysia-Thailand sebanyak delapan kali. Mustahil pesawat dikendalikan oleh orang yang tidak hafal wilayah itu.

Artinya, Kapten Zaharie masih mengendalikan kemudi setelah perekam percakapan kokpit (ACARS) dimatikan sepihak oleh seseorang.

Hardy menilai satu-satunya tersangka yang mematikan alat komunikasi dengan ATC adalah sang pilot utama itu. Apalagi rute bolak-balik pesawat itu melintasi Penang, kota kelahiran Zaharie.

"Selama memutus komunikasi, pesawat terbang secara akurat. Ini sengaja," kata Hardy.

Sahabat lama Zaharie, Nik Huzlan, juga meyakini indikasi bunuh diri. Seperti dilansir Sydney Morning Herald, Sabtu (7/3), Huzlan mengatakan sobatnya adalah pakar Boeing 777, sehingga memang cuma dia yang bisa membuat pesawat tetap melayang enam jam tanpa arah sebelum jatuh ke laut.

"Itu adalah analisa berdasarkan logika, ketika kita

mengesampingkan emosi pertemanan," tuturnya.

Keluarga Zaharie selalu marah bila ada tuduhan sang pilot terganggu jiwanya lalu bunuh diri. Apalagi bukti bangkai pesawat sampai sekarang tidak ada.

"Tuduan seperti itu menjijikkan. Tidak ada satu pun dari politikus, ilmuwan, ahli penerbangan, penyidik kecelakaan pesawat, pilot, mantan pilot, media, atau apa pun, tidak ada satu pun di antara kalian yang memiliki hak menuding Kapten Zaharie Ahmad (bunuh diri)," kata Kakak Zaharie, Sakinab Shah, di Kuala Lumpur kemarin.

Polisi Malaysia bukannya tak tahu kemungkinan Zaharie bunuh diri. Menteri Transportasi Malaysia, Hishammuddin Hussein, selang sepekan setelah pesawat hilang mengatakan polisi sedang menyelidiki kemungkinan pilot MH370 bunuh diri.

Ahmad Seth, anak Kapten Zaharie, meyakini ayahnya tidak punya masalah ataupun niat bunuh diri. "Saya paling tahu ayah saya. Dia tidak akan berbuat apa pun negatif," tandasnya.

Keluarga Zaharie kini sangat tertutup pada media. Terutama karena intelijen lintas negara sejak tahun lalu suda memojokkan Kapten Zaharie sebagai penyebab hilangnya MH370.

Badan Keamanan Penerbangan Amerika Serikat mencatat ada delapan insiden pesawat komersial di dunia dipicu ulah bunuh diri sang pilot. Jika terbukti, nasib nahas MH370 bukan yang pertama, walau sebab mengerikan ini terhitung jarang terjadi.

Misalnya adalah kecelakaan Royal Air Maroko ATR 42 pada 1994. Dari rekaman kotak hitam, pilot sengaja mematikan autopilot, lalu mengarahkan pesawat ke tanah. Korban jiwa mencapai 44 orang.

Indonesia malah bukan sekali ini berurusan dengan pilot yang diduga kuat bunuh diri. Sebelum penjelasan MH370 beredar, insiden jatuhnya Silk Air Jakarta-Singapura di Sungai Musi pada 1997 juga disebut karena sebab yang sama.

Korban tewas mencapai 104 orang karena pilot mematikan alat perekam kokpit, lalu membuat gerakan vertikal nyaris 90 derajat menghujam daratan. Hasil penyelidikan polisi Singapura, Kapten Tsu Way Ming sebelum kejadian memang terjerat utang sangat besar.

Rekomendasi