Penyanderaan di Kafe Lindt, kawasan bisnis Martin Place, Kota Sydney, Australia kemarin, punya kaitan dengan serangan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dua korban sandera dipaksa membentangkan bendera Jabal al-Nusra, kelompok pendukung ISIS di Suriah.
Penyanderaan itu sesuai dengan rencana kelompok ISIS yang menyerukan serangan mandiri kepada para pengikutnya di mana pun berada. Apalagi seruan itu sebelumnya menyebut juga serangan terhadap Australia.
Pada September lalu juru bicara ISIS Abu Muhammad al-Adnani menyerukan kepada para pengikut kelompok itu untuk menyerang negara-negara yang melawan ISIS seperti Amerika, Inggris, Prancis, Jerman, dan Australia.
Penyanderaan di Kafe Lindt, terjadi tiga bulan setelah aksi mandiri dari seorang pria bersenjata menyerang dua polisi Victoria. Pelaku akhirnya ditembak mati.
Di Kanada pada Oktober lalu, pelaku bernama Michael Zehaf-Bibeu ditembak mati karena membunuh seorang petugas keamanan dan menyerang gedung parlemen di Ottawa.
Ahli kontraterorisme dari Universitas Sturt Profesor Nick O'Brien mengatakan dia tidak terkejut dengan penyanderaan kemarin yang punya kaitan dengan ISIS.
"Ketika kita mengetahui ada banyak orang Australia pergi ke Timur Tengah untuk bergabung dengan ISIS, maka apa yang akan terjadi di sini tidak terhindarkan," kata dia, seperti dilansir harian New Zealand Herald, Senin (15/12).
Profesor Clive William dari Universitas Nasional Australia mengatakan pelaku penyandera jelas mengharapkan publikasi karena mereka mengincar lokasi yang terkenal sebagai pusat bisnis.