Lima kisah mencekam penyanderaan Sydney

Penyandera mengancam akan meledakkan empat bom, dua berada di dalam kafe dan dua lagi di kawasan bisnis itu.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Lima kisah mencekam penyanderaan Sydney
Penyanderaan Sydney. ©AFP PHOTO

Peristiwa penyanderaan di Kafe Lindt, kawasan bisnis Martin Place, Kota Sydney, Australia, kemarin menggegerkan Negeri Kanguru sekaligus mengejutkan dunia internasional.

Pelaku penyandera, diduga dua orang bersenjata, menyandera sekitar puluhan orang di dalam kafe itu. Mereka juga mengancam akan meledakkan empat bom, dua berada di dalam kafe dan dua lagi di kawasan bisnis itu.

Polisi Australia segera mengamankan dan menutup kawasan bisnis itu dan berusaha membebaskan para sandera. Mereka dilaporkan menjalin kontak dengan pelaku buat bernegosiasi.

Sedikitnya lima korban sandera sudah berhasil membebaskan diri dan diamankan polisi. Namun tak pelak mereka telah mengalami kejadian mencekam dalam hidupnya.

Apa saja kisah mencekam lainnya dalam penyanderaan kemarin itu? Simak ulasannya berikut ini.

Kafe Lindt, tempat terjadinya penyanderaan di area Martin Place, Kota Sydney, Australia merupakan area pusat bisnis paling tersohor. Di wilayah ini banyak sekali perusahaan keuangan, bank dan juga studio stasiun televisi lokal, Channel 7. Selain itu daerah ini dekat dengan Gedung Parlemen New South Wales di jalan Macquarie, Australia.

Faktanya Martin Place sering jadi incaran para teroris dalam melaksanakan aksinya. September lalu daerah ini menjadi target utama penculikan warga. Penduduk yang ada di kawasan ini diculik lalu dieksekusi dengan dipenggal kepalanya. Aksi itu direkam dan disebar ke sosial media, seperti dilansir situs news.co.au, Senin (15/12).

Selain tempat bisnis, daerah Martin Place ini juga dilewati kereta listrik (KRL) dari King Cross dan Bondi Junction, namun kereta tersebut terkadang tidak berhenti di stasiun Martin Place. Dan juga pada saat natal, jalanan di Martin Place sering dikunjungi turis yang ingin melihat keindahan pohon natal terbesar di Australia.

Kafe Lindt sendiri terletak di pojok Jalan Philip. Kafe ini berseberangan langsung dengan kantor stasiun televisi Channel 7, yang pada saat kejadian penyanderaan langsung melaporkan hal itu secara langsung. Sedikit cerita unik, jurnalis Channel 7 harus berbagi tempat dengan penembak jitu kepolisian agar mendapat posisi terbaik bagi pemberitaan mereka.

Bendera dikibarkan oleh korban sandera di Kafe Lindt, kawasan Martin Place, Kota Sydney, Australia ternyata milik kelompok Front Jabat al Nusra, salah satu sayap ekstremis Al Qaidah.

Namun Front al Nusra beberapa waktu lalu mengumumkan mereka merapat ke Negara Islam untuk Irak dan Syam (ISIS). Meski bendera sudah teridentifikasi, polisi belum mengetahui siapa pelaku penyanderaan, seperti dilaporkan stasiun televisi CNN, Senin (15/12).

Beberapa saat sebelumnya tiga sandera terlihat keluar dari Kafe Lindt dan langsung mengarah ke polisi. Mereka ngacir lewat pintu belakang dan depan. Ketiga sandera itu lelaki dan salah satunya staf toko cokelat itu.

Para sandera diperkirakan berhasil kabur. Polisi belum melansir nama korban selamat tadi. Diperkirakan masih ada puluhan sandera dalam Kafe Lindt.

Seorang ibu korban penyanderaan di kafe Lindt, Sydney, hari ini mengatakan kepada penyiar stasiun radio 2GB di Australia Ray Hadley , dia menerima pesan singkat dari putranya.

"Ibu, aku ada di Kafe Lindt. Jantungku seperti mau copot. Saya tidak apa-apa, bu. Belum bisa bicara sekarang," bunyi pesan singkat itu.

"Sejak itu saya belum mendapat kabar lagi," kata ibu korban.

Hadley mengklaim dia sempat tiga kali berbincang dengan sandera di Kafe Lindt, tempat penyanderaan terjadi hari ini.

Hadley yang terus melaporkan peristiwa penyanderaan itu secara langsung lewat radio mengatakan kepada pemirsanya, dia sudah berbicara dengan seorang lelaki yang sedang jadi korban penyanderaan dua pria bersenjata itu, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Senin (15/12).

"Saya bisa mendengar suara di latar belakang telepon. Ada orang yang sedang sakit parah. Dia perlu perawatan segera. Mereka sudah disandera selama lima jam," kata dia.

Hadley mengatakan akan sangat tidak bertanggung jawab jika dia meminta putra si ibu tadi berbicara lewat siaran langsung.

Diduga dua pelaku penyanderaan di kawasan Martin Place, Kota Sydney, Australia, meminta pertukaran tawanan dengan hal tak diduga. Mereka hanya bersedia melepaskan korban jika dapat bendera kelompok Negara Islam untuk Irak dan Syam (ISIS).

Stasiun televisi CNN melaporkan, Senin (15/12), dalam satu tulisan berita singkat disebutkan pelaku sebelumnya sudah mengibarkan bendera milik salah satu kelompok ekstremis yakni Front Jabat al Nusra.

Sejauh ini sekitar lima tawanan sudah berhasil kabur dari pelaku. Tiga lelaki dan dua perempuan. Mereka segera mendapat pengamanan ketat polisi, salah satunya bahkan harus dilarikan ke rumah sakit sebab sesak nafas hebat.

Belum diketahui siapa nama pelaku dan apa motif mereka. Namun permintaan untuk menukar tawanan dengan bendera sungguh menggelikan, janggal, dan bikin melongo.

Craig Stoker, lelaki asal Eastlakes, sebelah selatan Kota Sydney, Australia, mengaku sempat berpapasan dengan seorang tersangka penyandera beberapa saat sebelum penyanderaan terjadi.

Koran the Daily Mail melaporkan, Senin (15/12), kejadian itu, kata Stoker, terjadi setelah dia membeli secangkir kopi di kafe Lindt.

Stoker menjelaskan, pelaku penyandera itu memakai kaus hitam dan ikat kepala putih. Dia juga membawa tas biru dan berjalan bersama dua pria berpakaian sama.

"Tasnya menabrak saya dan terasa ada sesuatu yang keras di dalamnya. Lalu saya bilang, 'hati-hati kalau jalan,'" kata Stoker.

"Dia berbalik dan mengatakan,'kau mau juga saya tembak.' Saya menatap matanya dan kelihatannya mereka gila."

Beberapa saat kemudian sejumlah saksi mengatakan satu atau dua pria masuk ke kafe Lindt dan mengeluarkan senjata dari tas biru. Tak lama kemudian polisi sudah mengepung kawasan di sekitar kafe itu.

Rekomendasi