Sikap dan tajuk rencana media-media internasional terhadap Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo seragam. Masuknya nama-nama kroni Megawati Soekarnoputri tidak disukai, sedangkan sorotan justru diarahkan pada sosok Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi, sosok perempuan pertama menduduki jabatan tersebut sepanjang sejarah Indonesia.Ambil contoh judul berita surat kabar the Guardian hari ini, Senin (27/10), adalah "Joko Widodo menunjuk Menlu Perempuan Pertama di Indonesia". Sedangkan tajuk rencana situs berita Filipina Rappler, memasang judul "Kabinet Kerja Jokowi disikapi hati-hati", sambil menekankan bahwa 8 perempuan kini menjadi menteri, termasuk untuk posisi menlu.Media massa Australia, misalnya The Australian dan ABC online, memajang foto Menlu Retno Marsudi sendirian, dibanding momen pengumuman kabinet di halaman belakang istana negara, kemarin. Retno dianggap diplomat progresif yang sukses memimpin negosiasi lintas bidang Indonesia-Uni Eropa. Perempuan pernah disebut harian Belanda De Telegraf sebagai 'De Ijzeren Dame' alias wanita besi ini, adalah pilihan terbaik di kabinet menurut Analis Concord, Keith Loveard. Pilihan bagus Jokowi lainnya, bagi pengamat asing, adalah Bambang Brodjonegoro di posisi menteri keuangan.Dua sektor itu, keuangan dan diplomasi yang dianggap mentereng. Adapun media-media internasional kurang menyukai sosok menko di bidang polhukam maupun kemaritiman. Hanya Sofyan Djalil yang bukan bagian dari parpol maupun orang dekat Megawati Soekarnoputri. Kritik paling besar terutama buat penunjukan Puan Maharani sebagai Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan."Nama-nama yang mengisi menteri koordinator tidak menggugah," kata Loveard.Dengan sentimen positif buat Retno, Pengamat Politik Luar Negeri Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah berharap Presiden Jokowi memberi wewenang besar kepada Kemlu memimpin pembukaan pasar baru untuk ekspor produk lokal. Satu dekade terakhir, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan tidak terlalu akur dalam merumuskan diplomasi perekonomian. "Karena harus kita akui, keduanya selama ini saling bersaing. Misalnya dalam forum-forum APEC, yang membuka kemlu, tapi begitu teknis perjanjian, semua diambil kemendag," kata Reza saat dihubungi merdeka.com. Supaya kerja sama itu berjalan, Reza mengatakan Menko Perekonomian Sofyan Djalil harus berperan aktif. Indonesia amat butuh menggenjot ekspor, lantaran target pertumbuhan ekonomi Presiden Jokowi cukup tinggi."Saya sebenarnya berharap, antara Kemlu dan Kemdag sinergis, ini tergantung menkonya. Pak Djalil punya latar pendidikan diplomasi perdagangan internasional dari Flecther, Amerika. Seharusnya Pak Djalil sanggup menjadi pengampu dari dua kementerian tersebut," urainya.
Soroti kabinet Jokowi, media asing antusias pada menlu Retno
Masuknya Puan paling dikritik. Tapi berkat Retno, Jokowi dianggap punya modal lakukan diplomasi ekonomi.

Advertisement
Rekomendasi

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476531/original/069494900_1768788179-000_936V2NU.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490104/original/053721500_1769996978-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5399338/original/005717900_1761934567-david-syphers-HDDDuX-dNe4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479481/original/046549400_1768979490-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384206/original/020396000_1793161433-Pemilu_Israel_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384175/original/006716500_1793159511-Untitled.jpg)