Ketika wabah Ebola mulai mengancam

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) wabah Ebola telah merenggut lebih dari 800 jiwa.

Vincent Asido Panggabean
Ketika wabah Ebola mulai mengancam
Virus Ebola. REUTERS/Edward Echwalu

Di saat virus Ebola menyebar di antara wabah terburuk dalam sejarah, mungkin saatnya kita mencari tahu mengenai virus ini, bagaimana melihat tanda-tandanya, dan apakah kita harus takut seperti yang dikatakan media. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) wabah Ebola, yang saat ini mengguncang Afrika Barat, telah merenggut lebih dari 800 jiwa, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Rabu (6/8).

Organisasi medis internasional telah menggambarkan penyebaran virus ini "di luar kendali" dan ketakutan semakin besar di saat warga asing bekerja di negara-negara yang terkena dampak, seperti Guinea, Liberia, Nigeria dan Sierra Leone, tertular penyakit itu. 

Digolongkan oleh WHO sebagai demam berdarah, Ebola dikatakan memiliki tingkat kematian hingga 90 persen. Namun, dalam wabah kali ini, sekitar 60 persen kasus berakibat fatal. 

Ebola pertama kali muncul pada tahun 1976. Wabah ini terutama terjadi di desa-desa terpencil di Afrika Tengah dan Barat, yang biasanya dekat hutan hujan tropis, menurut WHO. 

Dr Nishi Singh, seorang ahli medis mikrobiologi dan ahli virus di Sharjah Women College di Uni Emirat Arab, mengatakan kepada Al Arabiya News: "Virus ini bisa menjangkit ke manusia melalui kontak dekat melalui darah, cairan dan penanganan organ hewan yang terinfeksi virus itu, seperti bangsa primata, keluarga rusa dan bahkan landak yang ditemukan di hutan hujan".

Ebola kemudian menyebar di masyarakat melalui penularan manusia ke manusia melalui cairan tubuh dan kontak tidak langsung dengan benda-benda yang terkontaminasi dengan cairan tersebut. 

"Bahkan upacara pemakaman (untuk korban Ebola), di mana orang datang dan melakukan kontak dengan tubuh itu secara langsung, telah menyebarkan penyakit," tegas Singh. 

Manusia yang telah pulih masih bisa menularkan virus itu melalui air mani sampai tujuh pekan setelah sembuh. 

"Gejala biasanya terwujud dalam waktu dua hingga tujuh hari setelah infeksi, meskipun masa inkubasi 21 hari tidak pernah terdeteksi," kata Singh. 

Gejala-gejala awal berupa demam, sakit kepala, nyeri sendi dan otot serta kurangnya nafsu makan. 

Gejala kemudian meliputi muntah, diare, sakit perut, ruam, dan dalam beberapa kasus perdarahan internal dan eksternal, sering dari mata, hidung atau mulut. 

"Virus berkembang biak dalam sel-sel tubuh yang membentuk garis depan mekanisme pertahanan tubuh, makrofag (sel pada jaringan yang berasal dari sel darah putih disebut monosit) dalam jaringan tubuh dan sel-sel mononuklear dalam darah, menggunakan mereka sebagai pabrik untuk membuat jutaan salinan mereka sendiri," jelas Singh. 

Dr Nahid Bhadelia, asosiasi epidemiologi rumah sakit di Boston Medical Center dan direktur pengendalian infeksi di Boston University National Emerging Infectious Disease Laboratories, mengatakan kepada situs the Huffington Posta virus itu kemudian meledak dari sel-sel dan menghasilkan protein yang membuat kekacauan. 

Protein, yang disebut Ebolavirus glikoprotein, menempel pada sel-sel di bagian dalam pembuluh darah, dan meningkatkan permeabilitas mereka, menyebabkan darah bocor keluar. 

Virus menetapkan kembali kemampuan tubuh untuk membeku dan mengentalkan darah, yang bertanggung jawab atas gejala hemoragik. 

Ebola menghindar sistem pertahanan alami tubuh manusia. Virus ini memblok sinyal ke sel-sel darah putih yang memberitahu sistem kekebalan tubuh untuk masuk dan menyerang. 

"Pada dasarnya, virus ini mematikan fungsi semua sel-sel tubuh," kata Singh. "Sulit untuk mengenali gejala awal penyakit ini karena mereka tidak spesifik." 

Pasien menunjukkan gejala harus ditempatkan dalam keadaan isolasi, dengan semua petugas kesehatan atau anggota keluarga mereka (yang memberi perawatan) untuk menghindari terkena darah dan cairan tubuh sebagai tindakan pencegahan. Ini berarti mereka harus menggunakan sarung tangan, baju, masker dan terus menjaga kebersihan tangan secara ketat. "

Singh menjelaskan para pekerja laboratorium dan profesional medis juga harus diperingatkan karena mereka berisiko tinggi ketika melakukan tes pada darah pasien terjangkit virus itu.

Rekomendasi