Jurnalis Vogue merasa tertekan saat wawancara Asma Assad

Kabel sambungan internet di komputer jinjing milik Buck dilepas paksa dan rusak. Gerak-gerik dia pun diawasi.

Aryo Putranto Saptohutomo
Jurnalis Vogue merasa tertekan saat wawancara Asma Assad
Asma al-Assad, Ibu negara Suriah sedang berpose menggunakan kacamata. Joan Juliet Buck, jurnalis majalah Vogue hari ini menuliskan pengalaman tidak mengenakkan saat mewawancara istri Presiden Basyar al-Assad. (www.dw.de)

Joan Juliet Buck, jurnalis majalah mode ternama Vogue, merasa tertipu dan tertekan saat harus mewawancarai Asma al-Assad, istri presiden Suriah Basyar al-Assad. Bahkan setelah artikel dia dihapus dari situs majalah ternama itu kontraknya pun tidak diperpanjang lagi. Alhasil dia menuliskan pengalaman tidak mengenakkan itu di majalah Newsweek hari ini.

Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Senin (30/7), awalnya Buck diberikan penugasan oleh editornya buat mewawancarai Asma. Awalnya dia enggan melaksanakan tugas itu lantaran situasi Suriah dianggap berbahaya. "Lagipula mereka tidak mau bertemu dengan Yahudi," kata Buck. Dia meminta agar lebih baik mengirim jurnalis politik, tapi sang editor mengatakan ibu negara Suriah itu hanya mau bicara seputar kebudayaan, barang antik, dan museum.

Namun, lantaran editor Buck tetap memaksa dan dia pun terbang menuju Ibu Kota Damaskus sepekan kemudian. Tetapi rupanya Asma menyewa sebuah konsultan komunikasi bernama Brown Lloyd James (BLJ) berbasis di Kota New York, Amerika Serikat, dan memaksa dia bertemu empat mata dengan mereka terlebih dulu sebelum melakukan wawancara. Jurnalis perempuan itu pun menuruti syarat itu.

Menurut Buck, Vogue sudah mengincar wawancara eksklusif dengan Asma Assad sejak dua tahun lalu. Tetapi mereka kesulitan lantaran syarat mesti dipenuhi terlalu rumit. Apalagi setelah istri Basyar al-Assad itu menyewa konsultan komunikasi.

Setelah tiba di kantor perwakilan BLJ di Ibu Kota London, Inggris, Buck langsung bertemu dengan salah satu konsultan bernama Mike Holtzman dan seorang petugas penghubung Asma Assad bernama Sherry Jaafari. Sherry adalah anak duta besar Suriah untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dalam pertemuan itu, Buck diwanti-wanti agar tidak menanyakan berbagai hal sensitif terkait pemerintah Suriah dan tulisan dia hanya fokus pada masalah budaya dan lainnya. Tidak sampai di situ, Holtzman pun kembali menekankan syarat itu buat kedua kalinya lewat surat elektronik.

Buck menuliskan dalam artikel hari ini, saat dia tiba di Damaskus dan melakukan peliputan, gerak-gerik dia diawasi ketat oleh pihak keamanan Suriah. Pernah suatu hari, menurut pengakuannya, dia kembali ke hotel dan sudah mendapati kabel sambungan internet sudah dilepas secara paksa dari komputer jinjingnya. Bahkan sampai merusak bagian tutup plastik belakang.

Dalam pengalaman lain, Buck pernah secara tidak sengaja berbincang dengan duta besar Prancis untuk Suriah di sebuah bar. Saat sedang bercakap-cakap, tiba-tiba sang duta besar terlihat waspada dan langsung menyuruh dia mematikan telepon seluler dan melepas baterainya. Sekejap kemudian Sherry tiba-tiba muncul. Keesokan harinya orang kepercayaan Asma itu menanyai Buck perihal pertemuannya dengan sang diplomat. "Kami tidak mau kamu berbicara dengan duta besar Prancis," kata Jaafari ditirukan Buck.

Meski begitu, laporan wawancara Buck dengan Asma Assad tetap dimuat Vogue. Tetapi bukan mendapat pujian, artikel berjudul Mawar di Tengah Padang Pasir itu malah menuai kecaman. Lantas majalah ternama itu langsung menghapus isi tulisan dan profil ibu negara itu dalam situs mereka.

Rekomendasi