Pejabat Israel Akui Citra Negaranya Rusak Setelah Hapus Ucapan Belasungkawa untuk Paus Fransiskus
Paus Fransiskus sebelum meninggal dunia menyerukan gencatan senjata di Gaza.
Kementerian Luar Negeri Israel menjadi sorotan internasional setelah menghapus unggahan berisi ucapan belasungkawa resmi untuk Paus Fransiskus yang baru meninggal dunia. Unggahan tersebut, yang menampilkan foto Paus Fransiskus di Tembok Barat dan ungkapan duka cita, dihilangkan dari berbagai akun media sosial resmi Israel. Tindakan ini telah memicu kontroversi dan kecaman dari berbagai pihak, baik dari dalam negeri maupun internasional. Kejadian ini terjadi beberapa hari setelah wafatnya Paus Fransiskus, pemimpin spiritual bagi jutaan umat Katolik di seluruh dunia.
Kritik pedas mengalir dari berbagai penjuru. Beberapa diplomat Israel sendiri mengecam tindakan tersebut, mengatakan penghapusan unggahan dilakukan tanpa penjelasan tersebut telah merusak citra Israel, khususnya di kalangan umat Katolik, seperti dikutip dari Middle East Eye, Kamis (24/4).
Beberapa duta besar Israel menyuarakan sentimen ini seperti dilaporkan harian Israel Yedioth Ahronoth yang menyatakan penghapusan unggahan tersebut telah memicu "perdebatan internal" atas penanganan kementerian terhadap pengumuman tersebut.
Menurut koran tersebut, beberapa duta besar bahkan telah menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap keputusan kementerian tersebut dalam obrolan grup WhatsApp internal.
"Kami menghapus cuitan sederhana dan tanpa dosa yang mengungkapkan belasungkawa mendasar - dan jelas bagi semua orang bahwa ini hanya karena kritik Paus terhadap Israel atas pertempuran di Gaza," kata seorang diplomat.
Tanpa memberikan penjelasan, kementerian menginstruksikan misi dan diplomatnya untuk menghapus semua unggahan media sosial berisi ucapan berkabung atas meninggalnya Paus Fransiskus, menurut Yedioth Ahronoth.
Seorang duta besar Israel mengatakan mereka diberi "perintah tegas untuk menghapus" tanpa klarifikasi lebih lanjut.
"Ketika kami bertanya, kami diberi tahu bahwa masalah tersebut 'sedang ditinjau'. Ini tidak memuaskan kami, dan tentu saja tidak memuaskan publik yang kami wakili Israel," tambah mereka.
Kementerian juga memerintahkan para duta besar untuk tidak menandatangani buku belasungkawa untuk Paus Fransiskus di kedutaan besar Vatikan.
Hancurkan Reputasi Israel
Para diplomat yang mewakili Israel memperingatkan tindakan tersebut dapat menimbulkan kerusakan jangka panjang pada citra publik Israel.
"Kami tidak hanya tidak mengucapkan kata-kata belasungkawa, tetapi kami memilih untuk menghapusnya - dan itu terlihat buruk. Sangat buruk," kata seorang diplomat.
Raphael Schutz, yang pernah menjabat sebagai duta besar Israel untuk Vatikan, mengatakan kepada The Jerusalem Post bahwa menghapus pesan-pesan duka cita adalah sebuah "kesalahan".
"Kita seharusnya tidak menyimpan catatan seperti ini setelah kematian seseorang," katanya, seraya menambahkan bahwa Israel seharusnya menanggapi sikap paus secara diplomatis saat ia masih hidup.
"Tetapi sekarang, kita tidak hanya berbicara tentang seorang kepala negara, tetapi juga seorang pemimpin spiritual bagi lebih dari 1 miliar orang - hampir 20 persen dari umat manusia. Menurut saya diam saja tidak akan menyampaikan pesan yang tepat."
Pejabat kementerian luar negeri mengungkapkan kepada The Jerusalem Post, ucapan belasungkawa di X itu "diunggah karena kesalahan".
"Kami menanggapi pernyataan Paus yang menentang Israel dan perang selama hidupnya, dan kami tidak akan melakukannya setelah kematiannya. Kami menghormati perasaan para pengikutnya," kata mereka.
Pejabat terkemuka Israel lainnya, terutama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, bungkam di tengah ungkapan duka cita yang disampaikan seluruh pemimpin dunia atas wafatnya Paus.
Sementara itu, beberapa pejabat seperti mantan duta besar untuk Italia, Dror Idar, mengatakan seharusnya tidak ada perwakilan yang menghadiri pemakaman Paus pada hari Sabtu karena Paus "menghasut antisemitisme".
Namun, Schutz yakin Israel harus mengirimkan delegasi, terutama karena acara tersebut akan dihadiri oleh para pemimpin dunia.
"Jika kami tidak hadir, itu akan mencolok dan berdampak buruk pada kami. Itu dapat memperkuat rasa keterasingan, yang sudah meningkat karena perang yang sedang berlangsung, dan secara tidak perlu menambah bahan bakar ke dalam api itu. Itu akan sangat disayangkan," katanya.
Paus Fransiskus, yang meninggal pada usia 88 tahun, merupakan pendukung vokal rakyat Palestina selama serangan Israel yang berlangsung selama 18 bulan di Jalur Gaza yang terkepung. Dalam pidato terakhirnya pada Minggu Paskah, yang disampaikan dari balkon Basilika Santo Petrus, Paus Fransiskus menyerukan gencatan senjata di Gaza.