Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Parade Monolog Allit, rasa 'baru' gelaran teater

Parade Monolog Allit, rasa 'baru' gelaran teater Parade Monolog Teater Allit. istimewa ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Monolog salah satu bentuk kesenian teater lama namun rupanya masih minim peminat di Indonesia. Hal itu terlihat dalam Parade Monolog digelar oleh kelompok Teater Allit bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bagian Direktorat Pembinaan Kesenian dan Film. Meski jumlah peserta hanya belasan namun tidak mengurangi kemeriahan acara.

Puluhan penonton memadati Gedung Kesenian Jakarta Selatan di wilayah Bulungan, Blok M. Meski hujan mengguyur sebagian besar wilayah ibu kota namun penonton tetap antusias mengantri. "Jarang sekali ada pementasan monolog, parade pula. Saya tidak sabar melihat aksi para peserta," ujar Dian, salah satu mahasiswi universitas swasta pada merdeka.com. Dian mengaku jauh-jauh dari Tangerang ingin menyaksikan pertunjukan digelar pada Kamis (28/11) ini.

Beberapa peserta datang dari Medan, Bogor, Jakarta, Bekasi, hingga Bandung. Dengan tema besar Tradisikan Tradisi, penonton diajak mengenal kebudayaan daerah masing-masing peserta. Salah satu peserta yakni Febri Memei malah menceritakan kisah hidupnya dibesarkan oleh budaya China bercampur betawi.

Ada pula Andien, peserta asal Bekasi yang masih memegang kultur Yogyakarta di rumahnya membawakan naskah soal tokoh dipercaya wali ke-10 dalam jajaran utusan Islam di Jawa, Syeikh Siti Jenar. Ada pula penampilan Eka Haliem yang membawakan naskah Mujadilah karya seniman Arthur S Nalan, memadukan budaya gipsi dengan kultur modern soal keluh kesah perempuan di pelbagai tempat.

Secara keseluruhan pertunjukan dinilai berhasil, namun banyak hal yang harus diperhatikan oleh panitia terutama soal koordinasi dengan peserta. "Masih ada kurang sinkron antara keinginan peserta dengan bagian artistik. Ke depan mungkin bisa lebih dibenahi," ujar Bayu Aji dan Bastian yang bertanggung jawab di wilayah dekorasi dan tata lampu.

Penampilan puncak diisi oleh bintang tamu seniman Nur Rahmat membawakan naskah Cermin karya Nano Riantiarno. Nur Rahmat terlihat menyiapkan pentas monolognya dengan baik. Dia menyelipkan tari-tarian dari pelbagai daerah untuk memperkaya tontonannya.

Menurut Budi Sobar salah satu pengamat teater, monolog jenis seni pertunjukan yang paling rumit dan sulit serta membutuhkan ilmu keaktoran tinggi. "Gak sembarangan main monolog. Bukan cuma ingin coba main monolog tapi juga harus ada yang mengarahkan. Harus ada sutradaranya. Saya lihat persiapan masih pada kurang tapi keinginan dan semangat bermonolog tinggi. Ini cukup bagus menjadi modal," ujar Budi.

Pria berkacamata ini memberikan contoh monolog yakni mendalang. Dalang biasanya dalam pertunjukan wayang merupakan salah satu contoh monolog yang bisa dilihat dan dinikmati oleh pelbagai lapisan masyarakat. "Tidak mudah menjadi dalang. Dia harus bisa menirukan atau membuat macam-macam suara. Bayangkan jika dia membawakan lakon punakawan (gareng, petruk, bagong, semar) pasti suaranya beda-beda. Tak mungkin sama. Itu sulit," imbuhnya.

Budi dan sejumlah penikmat teater sangat mengapresiasi Parade Monolog ini lantaran jarang terjadi di Indonesia. Meski sudah dikenal nama namun acara ini menambahkan 'rasa baru' monolog terutama di kalangan anak muda. Budi yakin acara ini bisa menelurkan monologer besar di negeri ini. (mdk/din)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP