Pejuang Hamas membunuh lima tentara Israel dan melukai setidaknya 14 lainnya pada hari Senin dalam sebuah penyergapan di Beit Hanoun, dekat perbatasan dengan Israel di Jalur Gaza utara.
Serangan terjadi di area yang telah dikosongkan paksa oleh pasukan Israel dari penduduk Palestina dan ditetapkan sebagai "zona penyangga", tempat operasi militer berlangsung selama berbulan-bulan.
Menurut militer Israel, investigasi awal menemukan bahwa para tentara diserang dengan alat peledak di pinggir jalan selama operasi darat.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menerima kabar serangan tersebut saat mengunjungi Washington, menyampaikan duka cita atas gugurnya para prajurit.
“Di pagi yang sulit ini, seluruh rakyat Israel menundukkan kepala untuk berduka atas gugurnya pejuang heroik kami, yang mempertaruhkan nyawa mereka dalam pertempuran untuk mengalahkan Hamas dan membebaskan semua sandera kami,” katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Middle East Eye, Selaa (8/7).
Advertisement
Keputusan paling bodoh
Abu Ubaida, juru bicara militer Brigade al-Qassam Hamas, menyebut penyergapan itu sebagai “operasi kompleks” dan “pukulan tambahan” terhadap apa yang ia sebut sebagai “gengsi tentara pendudukan yang lemah dan unit-unitnya yang paling kriminal di area yang dianggap aman oleh pendudukan setelah mengobrak-abrik segalanya.”
Dalam pernyataan di Telegram, ia memperingatkan bahwa pejuang Palestina akan terus menimbulkan kerugian pada pasukan Israel.“Bahkan jika [tentara Israel] baru-baru ini secara ajaib berhasil membebaskan tentaranya dari neraka, mereka mungkin gagal nanti, meninggalkan kami dengan tahanan tambahan.
“Keputusan paling bodoh yang bisa diambil Netanyahu adalah mempertahankan pasukannya di dalam Jalur Gaza,” tambahnya.
Menurut media Israel, penyergapan ini digambarkan sebagai salah satu serangan paling mematikan terhadap pasukan darat Israel sejak dimulainya perang di Gaza.
Advertisement
Seruan menghentikan perang
Laporan menunjukkan adanya kegagalan intelijen yang memungkinkan pejuang Palestina melacak pergerakan pasukan dan menanam bahan peledak di lokasi-lokasi kunci.
Stasiun televisi Israel, Kan 11, mengutip seorang perwira lapangan dari Brigade Nahal yang menggambarkan insiden itu sebagai “pertempuran sengit yang kompleks”.“
Alat peledak pertama menghantam kendaraan lapis baja. Kemudian peluru ditembakkan ke arah pengangkut personel dan buldoser D9, dan akhirnya, tim evakuasi menjadi sasaran. Kami tidak mengantisipasi skenario bertahap ini,” katanya.
Skala dan koordinasi serangan ini telah memicu kembali seruan di Israel untuk mengakhiri perang.
Berbicara kepada Kan 11, mantan mayor jenderal Yiftah Ron Tal mendesak para pemimpin politik untuk memprioritaskan gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tahanan.
“Kita perlu berupaya untuk satu kesepakatan menyeluruh tentang sandera. Siapa pun yang tidak kembali dalam kesepakatan yang akan datang, kita menutup nasib mereka. Siapa pun yang tidak kembali sekarang, kita bisa menjatuhkan hukuman mati kepada mereka,” katanya.
Pemimpin oposisi Yair Lapid menulis di X: “Demi para pejuang, demi keluarga mereka, demi para sandera, demi Negara Israel: perang ini harus diakhiri.”
Negosiasi tidak langsung untuk gencatan senjata dan pertukaran tahanan telah berlangsung di Doha selama tiga hari.
Seorang sumber mengatakan kepada AFP bahwa diskusi saat ini berfokus pada mekanisme untuk menerapkan usulan kesepakatan, yang dilaporkan mencakup gencatan senjata selama 60 hari yang mengarah pada akhir perang secara permanen.