Jutaan penduduk Sudan Selatan terancam kelaparan

Selasa, 7 November 2017 05:40 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Jutaan penduduk Sudan Selatan terancam kelaparan Bocah penderita gizi buruk di Sudan. ©AFP PHOTO/ALBERT GONZALEZ FARRAN

Merdeka.com - Sudan Selatan adalah negara termuda di dunia yang porak-poranda akibat perang saudara. Namun, di balik itu ada ancaman lebih mengkhawatirkan.

Diperkirakan sekitar 1,25 juta penduduk setempat terancam kelaparan. Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, jumlah itu dua kali lipat sejak tahun lalu. Jika pemerintah setempat tidak tanggap, maka bisa saja prediksi itu terbukti.

Menurut koordinator lembaga pemantau REACH di Sudan Selatan, Katie Rickard, kalau kondisi terus memburuk, bukan tidak mungkin tahun depan bakal terjadi bencana kelaparan di negara itu. Menurut dia, konflik berdarah selama lima tahun sudah merenggut sekitar 50 ribu nyawa adalah faktor penting menyeret negara itu ke dalam situasi itu.

"Kesenjangan tingkat konsumsi yang meluas membikin kami khawatir akan hal terburuk, yakni kelaparan kemungkinan terjadi di sejumlah daerah di Sudan Selatan tahun depan," kata Katie, seperti dilansir dari laman Associated Press, Senin (6/11).

Februari lalu Sudan Selatan menyatakan mereka mengalami bencana kelaparan. Di dua kabupaten setempat, sekitar 100 ribu penduduk sudah kepayahan karena tidak mendapat asupan makanan. Beruntung kondisi itu cepat diketahui dan bisa ditanggulangi.

Meski demikian, kondisi ketahanan pangan di Sudan Selatan masih mengkhawatirkan. Setidaknya begitu yang ditunjukkan dalam laporan PBB dan badan Pusat Statistik Sudan Selatan.

Di dalam catatan itu tercantum kalau pada September lalu, sekitar enam juta orang atau 56 persen dari populasi mengaku pernah mengalami kelaparan. Di Kabupaten Ayod dan Baggari Besar, dikabarkan 25 ribu orang kesulitan mendapatkan makanan. Dua daerah itu dikuasai pemberontak dan kondisi penduduknya menyedihkan. Jangankan warga yang hendak bercocok tanam buat memenuhi kebutuhan perut, pengiriman bantuan makanan saja sulit dilakukan karena selalu dilarang dengan ancaman senjata. Kalau nekat, maka sangat berbahaya bagi relawan.

"Saya lari dari Baggari karena lapar," kata seorang penduduk setempat yang enggan ditulis namanya.

Lelaki berusia 52 tahun dan memiliki empat anak itu mengatakan, selama ini dia selalu melihat tetangganya kelaparan dalam tiga tahun belakangan. Kiriman bantuan pun bisa dihitung jari, cuma tiga kali. Dia tak habis pikir dengan sikap pemerintah setempat karena menghalangi pengiriman bantuan.

"Kami enggak bisa dan enggak punya apa-apa. Cuma bisa berdoa," lanjut dia.

Kalau Sudan Selatan sudah mulai memasuki musim kemarau, maka keadaan diperkirakan bakal semakin memburuk. Penduduk kelaparan dipastikan bakal menyerbu hutan lindung dan mengambil apa saja buat mengisi perut mereka supaya tidak keroncongan. Termasuk menyantap tumbuhan dianggap berbahaya karena beracun.

"2018 bakal kritis. Cara yang ampuh buat mencegahnya adalah perdamaian," kata perwakilan Lembaga Pangan dan Pertanian PBB, Serge Tissot.

Perwakilan PBB di Sudan Selatan, David Shearer, mengamini kalau ancaman kelaparan di negara itu dipicu oleh perang, bukan iklim. Sebab menurut dia, sebagai negara berada di kawasan khatulistiwa, curah hujan di beberapa kawasan di Sudan Selatan normal.

"Orang-orang pergi dari rumah mereka karena perang," kata Shearer.

Kepala BPS Sudan Selatan, Isaiah Chol Aruai, mengklaim tidak ada pembedaan dalam membantu penduduk terancam kelaparan di negara itu. Namun, buktinya pangan dipakai buat 'merawat' pertikaian.

"Baik pemerintah dan oposisi sama-sama memakai pangan sebagai senjata dalam perang. Mulai dari membatasi penduduk mendapatkan makanan, menghalangi pengiriman bantuan ke daerah tertentu, dan secara terstruktur merampok bahan makanan di toko atau rumah. Bahkan mereka tega merampok warga sipil," kata peneliti Amnesty International di Sudan Selatan, Alicia Luedke. [ary]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Sudan Selatan
  3. Lapar
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini