ISIS Belum Habis, Ini Daftar Negara yang Jadi Tempat Kebangkitannya
Merdeka.com - Kelompok ekstremis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) belum sepenuhnya hilang. Meski wilayah kekuasaan mereka di Irak maupun Suriah sudah dihancurkan SDF atau pasukan militer Suriah, nyatanya hingga saat ini ISIS masih membangun wilayah kekuasaan baru di negara lain.
Sejumlah pemimpin dunia memperingatkan munculnya kembali ISIS. Apalagi ISIS merekrut anggota mereka dari berbagai belahan dunia. Berikut markas baru ISIS di berbagai negara:
Filipina
Pada tahun 2019, muncul bendera hitam ISIS di Pulau Mindanao, Filipina selatan. Wilayah ini telah lama menjadi surga bagi para pemberontak karena hutan belantara yang lebat dan pengawasan yang lemah. ISIS menarik sejumlah jihadis militan.
"ISIS memiliki banyak kekuatan," kata Motondan Indama, seorang mantan pejuang anak di pulau Basilan dan sepupu dari Furuji Indama, seorang pemimpin militan yang telah berjanji setia kepada ISIS.
Kelompok ini pertama kali sangat mendorong perekrutan di Filipina selatan pada tahun 2016. Mereka menyebarkan video sebagai isyarat kepada militan yang tidak bisa berangkat ke Irak dan Suriah. Dari situ, kata pejabat intelijen, ratusan pejuang berdatangan dari Chechnya, Somalia dan Yaman.
Tahun berikutnya, gerilyawan yang berjanji setia kepada ISIS mengambil alih kota Marawi di Mindanao. Pada saat tentara menang lima bulan kemudian, kota berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di negara itu hancur lebur. Setidaknya 900 pemberontak tewas, termasuk pejuang asing dan Isnilon Hapilon, pimpinan ISIS Asia Timur.
Irak
Ada sejumlah indikasi yang muncul bahwa ISIS melakukan reorganisasi di Irak, dua tahun setelah kehilangan wilayah kekuasannya di negara tersebut. Tepatnya di Pegunungan Hamrin, sebuah kawasan pegunungan jarak jauh dan sangat sulit diawasi tentara Irak. Terdapat banyak tempat persembunyian dan gua.
Namun kali ini, militan ISIS dinilai lebih terlatih dan lebih bahaya daripada Al Qaida, menurut pejabat tinggi kontra terorisme Kurdi, Lahur Talabany.
"Mereka memiliki teknik yang lebih baik, taktik yang lebih baik dan lebih banyak uang yang mereka miliki. Mereka mampu membeli kendaraan, senjata, persediaan makanan dan peralatan. Secara teknologi mereka jauh lebih canggih. Jauh lebih sulit membersihkan mereka," lanjutnya.
Di markasnya di Sulaimaniya, yang terletak di perbukitan wilayah Kurdistan di Irak Utara, ia melukis gambar sebuah organisasi yang telah menghabiskan 12 bulan terakhir membangun kembali reruntuhan kekhalifahan.
Dia memperingatkan ISIS dapat memanfaatkan kerusuhan saat ini di ibu kota Irak, Baghdad, dan akan mengeksploitasi rasa keterasingan di antara sesama Muslim Sunni-sebuah komunitas minoritas di negara mayoritas Syiah tersebut.
"Jika ada kerusuhan politik," katanya, "ini adalah Surga atau Natal yang datang lebih awal untuk ISIS".
Libya
Muncul kabar bahwa ISIS akan muncul di Libya. Kabar ini menjadi peringatan bagi Amerika dan negara sekitarnya.
"Pemerintahan Donald Trump melihat kebangkitan 'kecil' ISIS di Libya sejak orang kuat Khalifa Haftar memulai serangan berdarah di ibu kota Tripoli lebih dari dua bulan lalu," kata pejabat militer peringkat kedua Pentagon, seperti dilaporkan koresponden Pentagon, Al-Monitor.
Sebelumnya pada 4 Agustus 2016, Pejuang pasukan Libya yang beraliansi dengan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung Amerika Serikat (AS) menembakkan roket ke pejuang ISIS di Sirte, Libya.
Pejabat Pentagon, Wakil Ketua Gabungan Kepala Staf Paul Selva, menggambarkan pertarungan di Tripoli antara Jenderal Khalifa Haftar yang bermarkas di Benghazi dan GNA yang didukung-PBB dan diakui Turki, memberi ruang bagi bangkitnya ISIS di negara itu.
Dalam tiga tahun terakhir, di tengah kekacauan pasca perang AS-NATO 2011 yang menggulingkan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, ISIS sebenarnya memiliki benteng di kota pesisir Sirte sebelum dikalahkan pasukan Libya yang didukung AS.
"Karena mereka sekarang saling kejar di ibu kota, itu benar-benar mengalihkan perhatian mereka dari ISIS dan kami telah melihat kebangkitan kecil dari kamp (ISIS) di wilayah tengah," kata Paul Selva, seperti dikutip dari Almasdar News, Jumat (17/1).
Hal yang dikhawatirkan, ini akan dijadikan celah oleh ISIS untuk menjadi orang ketiga dalam konflik. Pasukan AS membantu memerangi ISIS di Libya meninggalkan negara itu pada April ketika kondisi keamanan memburuk. Selva mengatakan dia khawatir ISIS menjadi "pihak ketiga dalam pertarungan di Libya."
Peringatan Raja Yordania Soal Kemunculan ISIS di Timur Tengah
Raja Yordania Abdullah II memperingatkan ISIS mulai membentuk kelompoknya lagi dan bangkit kembali di Timur Tengah. Beberapa bulan setelah ISIS terusir dari wilayah kekuasannya di Suriah, Raja Abdullah mengatakan fokus utama pihaknya adalah memantau ISIS. Pihaknya pun melihat tahun lalu ISIS mulai bangkit dan membangun kembali wilayahnya, tidak hanya di wilayah timur selatan Suriah, tapi juga di barat Irak.
"Kita harus berurusan dengan kebangkitan kembali ISIS," jelasnya.
Dia juga mengatakan banyak pejuang asing dari Suriah sekarang berada di Libya.
"Dari perspektif orang Eropa, dengan Libya jauh lebih dekat ke Eropa, ini akan menjadi pembahasan penting dalam beberapa hari ke depan," jelasnya, Selasa (14/1).
"Beberapa ribu pejuang telah meninggalkan Idlib (Suriah) melalui perbatasan utara dan berakhir di Libya, itu adalah sesuatu bagi kita di wilayah ini tetapi juga kawan-kawan Eropa kita harus mengatasi ini pada tahun 2020".
(mdk/dan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya