Ilmuwan Temukan Bagaimana Nenek Moyang Manusia Bertahan dari Iklim Dingin Saat Keluar dari Benua Afrika

Ilmuwan Temukan Bagaimana Nenek Moyang Manusia Bertahan dari Iklim Dingin Saat Keluar dari Benua Afrika

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Ilmuwan Temukan Bagaimana Nenek Moyang Manusia Bertahan dari Iklim Dingin Saat Keluar dari Benua Afrika
Ilmuwan Temukan Bagaimana Nenek Moyang Manusia Bertahan dari Iklim Dingin Saat Keluar dari Benua Afrika (Merdeka.com)

Saat manusia bermigrasi dari benua Afrika 70.000 tahun lalu, mereka berubah dari pemburu dan pengumpul menjadi masyarakat agraris dan penggembala.

Ilmuwan menemukan peran sebuah gen yang membuat manusia purba mampu beradaptasi terhadap iklim yang lebih dingin hingga mereka mampu bertahan hidup saat berpindah dari Afrika.


Manusia modern bermigrasi keluar dari Afrika sekitar 70.000 tahun lalu, dan hampir semua orang yang saat ini tinggal di luar benua itu diperkirakan merupakan keturunan dari para pionir awal tersebut.

Karena Afrika melindungi nenek moyang manusia dari kondisi dingin ekstrem pada zaman es lampau, mereka kehilangan bulu tubuh tebal mereka dan beradaptasi dengan panas benua itu.


Namun, saat manusia bermigrasi ke daerah yang lebih dingin, mereka berubah dari pemburu dan pengumpul menjadi masyarakat agraris dan penggembala.

Dok. Istimewa
© copilot

Perubahan itu memaksa mereka beradaptasi dan memainkan peran penting dalam membentuk evolusi dan keanekaragaman manusia.

Namun, masih belum jelas bagaimana tepatnya manusia  purba yang bermigrasi

 dari Afrika menjaga tubuh mereka tetap hangat saat mereka pindah ke iklim yang sangat dingin.


Penelitian selama dua dasawarsa terakhir menunjukkan variasi DNA dalam massa lemak dan gen FTO yang terkait dengan obesitas dikaitkan dengan berkurangnya kapasitas pembangkitan panas dari sekumpulan sel lemak manusia.

Tikus tanpa perubahan gen ini – disebut varian tipe C – tampak menunjukkan peningkatan produksi panas dalam jaringan lemak cokelat mereka dan beberapa resistensi terhadap obesitas yang disebabkan oleh pola makan berlemak tinggi.


Ilmuwan berspekulasi varian tersebut dapat dikaitkan dengan adaptasi mamalia seperti manusia terhadap lingkungan dingin.

Dalam studi terbaru, peneliti menganalisis frekuensi varian gen di antara berbagai kelompok leluhur manusia dan menemukan korelasi terbalik yang "menonjol" antara frekuensi varian C dan suhu kulit bumi rata-rata pada bulan Januari.


Hal ini menunjukkan "semakin dingin lokasinya, semakin tinggi frekuensi varian ini".

Pergeseran frekuensi varian C pada populasi manusia awal melacak "peta rute migrasi manusia modern," kata ilmuwan, seperti dilansir the Independent.

Perubahan substansial dalam frekuensi varian C saat populasi berpindah dari Afrika ke Eurasia dapat disebabkan oleh manusia yang dipaksa beradaptasi dengan berbagai tingkat stres dingin, kata mereka.

Manusia dengan variasi gen ini dapat memiliki peningkatan produksi panas tubuh di iklim dingin, yang memberi mereka keuntungan bertahan hidup.

Ini bisa jadi salah satu dari banyak variasi gen yang membantu manusia purba beradaptasi dengan lingkungan dingin, kata ilmuwan, seraya menambahkan diperlukan penelitian lebih lanjut tentang lintasan evolusi manusia ini.


"Seperti lukisan batu yang menghiasi dinding Gua Blombos, DNA kita berfungsi sebagai perekam setia setiap peristiwa penting di sepanjang jalur rumit evolusi manusia," kata ilmuwan.

Rekomendasi