Ho Chi Minh, 'Soekarno' dari Vietnam yang kalahkan Prancis dan AS
Merdeka.com - Hari ini, atau tepat 125 tahun lalu, Nguyen Sinh Cung dilahirkan ke dunia. Setelah dewasa nanti, bocah ini akan mengganti namanya menjadi Ho Chi Minh sekaligus menjadi salah satu tokoh kemerdekaan Vietnam dari Prancis dan Amerika Serikat.
Saat berusia 21 tahun, dia memilih bekerja sebagai tukang masak dan menghabiskan satu tahun hidupnya di laut, dalam perjalanan ke Afrika, Amerika Serikat dan beberapa lokasi lainnya. Pada 1919, dia memilih tinggal di Prancis sekaligus mengorganisir imigran asal Vietnam.
Nguyen memanfaatkan keberadaannya di Eropa untuk belajar di berbagai universitas. Mulai dari Prancis, Inggris, Amerika Serikat hingga Soviet. Meski mendatangi banyak negara, dua tak melupakan tanah kelahirannya dan memperjuangkan agar Vietnam terbebas dari penjajahan Prancis.
Usaha untuk mendapat kemerdekaan sudah dilakukannya sejak 1925 dengan mendirikan 'kelompok belajar pemuda' di Kanton China. Di sini, dia membentuk jiwa nasionalis bagi pemuda Vietnam. Dia pun mengganti namanya dari Nguyen menjadi Ho Chi Minh yang berarti 'Dia yang bercahaya'.
Lama berpetualang di berbagai negara, Ho Chi Minh memutuskan pulang pada 1941. Setelah pulang, dia langsung memimpin pergerakan kemerdekaan 'Viet Minh'. Dia juga memimpin 10 ribu pasukan gerilya, pasukan ini dijuluki 'men in black'. Hal ini karena seragam pasukan mereka yang serupa dengan pakaian petani berwarna hitam. Selama itu pula dia berhasil mengalahkan pemerintahan Vichy Prancis maupun Jepang selama Perang Dunia Kedua.
Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, Viet Minh memproklamirkan kemerdekaannya. Ho Chi Minh melakukan upaya diplomasi terhadap Prancis dan AS. Namun, pendekatan damainya malah dijawab dengan pengiriman ribuan tentara Prancis, di bawah dukungan AS, untuk menancapkan kembali kekuasaannya di Vietnam.
Sebelum pasukan Prancis tiba, Vietnam kedatangan 200 ribu tentara dari China di bawah kepemimpinan Jenderal Lu Han. Keterlibatan China di Vietnam membuat Prancis menggelar kesepakatan di Shanghai. Namun, kesepakatan ini justru membuat Ho Chi Minh kecewa, sebab Vietnam dibentuk sebagai negara otonom di bawah Federasi Indochina dan Uni Prancis.
Pertempuran antara kedua negara pun dimulai ketika China menarik pasukannya. Meski kecewa dengan penarikan itu, Ho Chi Minh mengungkapkan kemarahannya.
"Terakhir kali bangsa China datang, mereka bertahan selama ribuan tahun. Prancis adalah orang asing. Mereka lemah. Kolonialisme akan mati. Kulit putih telah berakhir di Asia. Tapi jika China tetap tinggal, mereka tak akan pernah pergi. Bagiku, aku memilih mencium kotoran Prancis untuk lima tahun daripada menyantap kotoran bangsa China di sisa hidupku."
Setelah bertempur selama delapan tahun, akhirnya Vietnam mampu mendesak Prancis untuk menandatangani perjanjian damai di Genewa, Swiss. Namun, perjanjian ini malah membuat Vietnam terbagi menjadi dua, yakni Vietnam Utara dan Selatan. Meski begitu, dia berusaha mempersatukan negerinya di bawah pemerintahan komunis.
Awal 1960-an, pasukan Vietnam Utara atau dikenal Vietcong bergerak untuk mempersatukan seluruh Vietnam. Tindakan itu langsung dijawab AS dengan menerjunkan pasukannya. Marinir AS tiba sekitar tahun 1965 dan terlibat berbagai pertempuran seru dengan Vietcong yang bergerilya.
"Tidak ada lebih dicintai dalam hati rakyat Vietnam selain kemerdekaan dan pembebasan," ucapnya menanggapi kedatangan pasukan AS.
Kata-kata ini kemudian menjadi penyemangat tentara Vietcong selama pertempuran berlangsung. Serangan total yang dilakukan Vietcong membuat Presiden AS Lyndon Johnson memilih berdamai dan menunda seluruh pertempuran. Namun, kesehatan Ho Chi Minh malah makin memburuk.
Ho Chi Minh ternyata tidak mampu bertahan hingga akhirnya meninggal dunia di usia ke-79 tahun, pada 2 September 1969. Dia tak pernah melihat penyatuan Vietnam yang diimpikannya saat langkah kaki terakhir pasukan AS meninggalkan Vietnam pada Maret 1973 dan jatuhnya ibu kota Saigon ke tangan Komunis pada April 1975.
Setelah mendapatkan kekuasaan pernuh terhadap Saigon, pemerintah persatuan Vietnam menggantinya nama kota tersebut menjadi Ho Chi Minh City.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya