Diskriminasi Negara dalam Kasus Pemerkosaan Massal Perempuan Kasta Dalit di India

Sabtu, 17 Oktober 2020 07:30 Reporter : Hari Ariyanti
Diskriminasi Negara dalam Kasus Pemerkosaan Massal Perempuan Kasta Dalit di India Wanita India protes kematian korban pemerkosaan beramai-ramai. ©SAJJAD HUSSAIN/AFP

Merdeka.com - Pada 29 September, perempuan 19 tahun meninggal karena luka yang dideritanya setelah diperkosa secara massal oleh sekelompok pria di sebuah lapangan di distrik Hathras negara bagian Uttar Pradesh, India utara. Dia adalah seorang Dalit, anggota komunitas yang berada di tingkat paling bawah sistem kasta India, sementara empat pelaku yang telah ditangkap dan didakwa dengan pembunuhan dan pemerkosaan, berasal dari kasta yang lebih tinggi.

Perempuan itu selama dua minggu bertahan hidup di rumah sakit di Delhi setelah diperkosa pada 14 September, yang membuat tulang bagian belakangnya hancur.

Pada malam dia meninggal, polisi membawa jenazah korban ke desanya. Alih-alih diserahkan ke keluarga yang berduka, keluarga korban mengatakan polisi bersikeras jenazah korban dikremasi di sana. Saat keluarga menolak, mengatakan mereka ingin menyampaikan ucapan perpisahan, polisi mengurung mereka di rumah dan membawa jenazah korban ke sebuah lapangan di mana jasadnya dibakar menggunakan bensin.

Pada 2014, Perdana Menteri Narendra Modi berkuasa dengan sebuah janji "nol toleransi" pada kekerasan terhadap perempuan, setelah pemerkosaan massal dan pembunuhan seorang perempuan di Delhi pada 2012 mengejutkan negara tersebut. Tapi India masih menjadi negara berbahaya di dunia bagi perempuan, menurut survei 2018 oleh Thomson Reuters Foundation, mengutip kekerasan seksual, tradisi kultural, dan perdagangan manusia menjadi alasan utama peringkat tersebut. Pada 2019, rata-rata 87 pemerkosaan dilaporkan per hari, menurut data statistik resmi.

Masalah yang menimpa suku Dalit jauh lebih parah. Lebih dari 3.500 orang diperkosa di India pada 2019, meningkat 18,6 persen dibandingkan 2018. Tetapi jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, kata Kiruba Munusamy, pengacara Dalit yang menangani kasus diskriminasi kasta dan kekerasan gender.

“Kelompok kasta atas menggunakan kekerasan seksual sebagai alat, untuk memperkuat hegemoni kasta mereka, dan supremasi kasta mereka,” jelas Munusamy, dikutip dari TIME, Jumat (16/10).

“Dan karena alasan itu, banyak keluarga yang takut mendatangi kantor polisi.”

Kasus Hathras memicu protes di seluruh negeri, termasuk di Delhi.

Baca Selanjutnya: Kasta Dalit...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini