Cerita Haru Pelatih Tinju Asal Iran Tinggalkan Karir di China Demi Kembali ke Pelukan Keluarga
Keputusan pelatih tinju asal Iran untuk meninggalkan posisinya di China dan kembali ke negaranya menjadi sorotan, meskipun ia harus menghadapi berbagai risiko.
Konflik Timur Tengah kian memanas. Serangan udara yang dilancarkan AS-Israel ke Iran memicu ketegangan. Hal itu yang membuat seorang pelatih tinju asal Iran meninggalkan karirnya di China. Ia memilih pulang ke tanah air di tengah ketidakstabilan kondisi kawasan.
Kisah menyentuh hati pelatih tersebut dibagikan oleh atasannya di media sosial dan mendapatkan hampir satu juta suka, menurut laporan dari Xiaoxiang Morning Herald.
Pria berusia 33 tahun asal Iran, yang hanya dikenal dengan nama Saeed, telah bekerja di sebuah sasana tinju di prefektur Xiangxi, Hunan, China, sejak tahun 2024. Berdasarkan informasi yang dilansir dari SCMP pada Minggu (15/3), pemilik sasana tersebut, Huang Zhaoxin, pertama kali bertemu Saeed pada tahun 2016 di Thailand dan terkesan dengan kemampuan tinjunya.
Dua tahun lalu, Saeed menghubungi Huang untuk mencari pekerjaan karena kesulitan mendapatkan pekerjaan di Iran akibat ketidakstabilan di Timur Tengah.
Huang pun mempekerjakan Saeed sebagai pelatih tinju, di mana sebagian dari tugasnya adalah mengajarkan tinju kepada anak-anak. Huang menyatakan bahwa semua muridnya sangat menyukai Saeed, dan orang tua mereka memuji rasa tanggung jawab yang dimilikinya.
Saeed hidup sederhana dengan menyisihkan uang saku sebesar 300 yuan (USD45) untuk dirinya sendiri dan mengirimkan sisa uangnya kembali ke keluarganya di Iran, yang terdiri dari orang tua, saudara laki-laki, dan saudara perempuannya yang tinggal di Teheran.
Setelah serangan udara gabungan yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, Saeed segera menghubungi keluarganya. Meskipun sebuah lokasi dekat rumahnya terkena bom, beruntungnya keluarganya tidak mengalami cedera. Keesokan harinya, Saeed memberi tahu Huang bahwa ia telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Reaksi Masyarakat
"Dia terus meminta maaf kepada saya. Namun, karena situasi perang, dia harus kembali untuk bersama keluarganya," ungkap Huang dalam kutipan. "Walaupun ada kemungkinan dia tidak akan selamat, dia berharap bisa bersama keluarganya di akhir hayat," tambahnya.
Huang, yang telah mengenal Saeed sebagai teman lama, sangat menghargai keberaniannya dan bahkan membelikan tiket pesawat untuknya. Dalam beberapa hari setelah itu, Saeed hampir tidak menyentuh makanan karena rasa cemas yang mengganggu pikirannya menjelang kepulangannya. Pada tanggal 5 Maret, Huang mengantar Saeed ke stasiun kereta api di Kabupaten Fenghuang, tempat Saeed akan naik kereta menuju Beijing sebelum melanjutkan perjalanan ke Turki.
"Saeed sangat tidak ingin meninggalkan Tiongkok karena dia memiliki pekerjaan yang stabil di sini. Dia sempat mengatakan kepada saya bahwa setelah perang berakhir dan keluarganya aman, dia pasti akan kembali ke Tiongkok," jelas Huang. Setelah mengantarkan Saeed, Huang mengaku tidak bisa menghubunginya lagi.
"Saya berharap dia dan keluarganya dalam keadaan selamat," harap Huang. Kisah Saeed menjadi viral di media sosial di Tiongkok, dengan banyak pengguna internet yang menyampaikan rasa simpati dan harapan baik untuknya. "Dia adalah pria sejati. Saya sangat mengaguminya," komentar seorang netizen. "Harap berhati-hati. Kami menunggu kepulanganmu," tulis pengguna lainnya.
Sementara itu, seorang pengguna lain menambahkan, "Saya berdoa untuk perdamaian dunia." "Cerita ini mengingatkan saya pada generasi tua kita yang kembali ke Tiongkok dari berbagai penjuru untuk berjuang melawan penjajah Jepang selama Perang Dunia II. Hormat kepada para pahlawan kita, hormat kepada Saeed," ungkap seorang netizen.