Arkeolog Tercengang, Gempa Myanmar Munculkan Bangunan Kerajaan Kuno Berusia 273 Tahun

Temuan ini memberikan wawasan berharga tentang sejarah kerajaan Myanmar.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Arkeolog Tercengang, Gempa Myanmar Munculkan Bangunan Kerajaan Kuno Berusia 273 Tahun
Arkeolog Tercengang, Gempa Myanmar Munculkan Bangunan Kerajaan Kuno Berusia 273 Tahun (Merdeka.com)

Gempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Myanmar tengah pada 28 Maret 2025 telah menimbulkan kerusakan besar dan korban jiwa. Namun, bencana alam ini secara tak terduga mengungkap situs arkeologi penting di dekat kota kuno Inwa (sebelumnya Ratnapura), sekitar 10 kilometer dari Mandalay.

Situs di Kotapraja Tada-U ini memperlihatkan reruntuhan bangunan megah yang diperkirakan berasal dari Dinasti Konbaung (1752-1885). Penemuan ini memberikan wawasan berharga tentang sejarah dan tradisi kerajaan Myanmar.

Dikutip dari Greek Reporter, Rabu (16/4), beberapa bagian situs telah ditemukan sejak 2009 oleh penduduk setempat saat membuat batu bata, berupa tangga yang teduh oleh pohon mangga. Namun, gempa bumi terbaru menyebabkan retakan tanah yang dalam, mengungkap elemen arsitektur tambahan yang terkubur selama berabad-abad. Penggalian uji coba dimulai pada 6 April 2025 oleh Departemen Arkeologi dan Museum Nasional cabang Mandalay.

Temuan awal termasuk pegangan tangga bagian timur, platform bata, dan detail pengukuran seperti platform sepanjang 3 meter dan anak tangga setinggi 18 inci. Awalnya, situs ini diduga sebagai 'paviliun air kerajaan' yang disebut dalam manuskrip daun lontar 'Pura-pike'. Teks-teks ini diyakini ditulis oleh Menteri Letwe Nawrahta pada masa pemerintahan Raja Hsinbyushin dan Raja Sagaing.

Namun, setelah penyelidikan lebih lanjut, para arkeolog meyakini struktur tersebut kemungkinan besar adalah tempat tinggal kayu berukuran 61-76 meteri x 61 meter, dibangun dengan teknik tradisional Burma. Rincian ini membantu para arkeolog merekonstruksi tata letak dan skala bangunan asli.

Penggalian di situs arkeologi dekat Inwa terus berlanjut, memberikan informasi lebih lanjut tentang struktur bangunan yang ditemukan. Para arkeolog telah menemukan bukti penggunaan teknik konstruksi tradisional Burma dalam pembangunan struktur tersebut. Hal ini terlihat dari penggunaan material lokal dan metode konstruksi yang khas pada periode tersebut. Penggunaan kayu jati, misalnya, merupakan ciri khas arsitektur Burma pada masa lalu.

Gaya bangunan tersebut mungkin mirip dengan bangunan biara seperti Biara Bahakara di Inwa atau Biara Istana Emas di Mandalay, dengan tangga yang teduh pohon mangga dan tiang kayu. Kesamaan ini menunjukkan adanya kontinuitas dalam tradisi arsitektur kerajaan Burma selama berabad-abad.

Menurut manuskrip daun lontar 'Pura-pike', kompleks kerajaan tersebut memiliki lima tangga megah, aula dari kayu jati, dan hingga 20 ruangan yang dikelilingi pohon mangga.

Pentingnya lokasi ini semakin ditegaskan oleh hubungannya dengan ritual kerajaan, termasuk Festival Air Thingyan dan upacara mencuci rambut tradisional. Praktik-praktik ini merupakan inti dari kehidupan spiritual dan budaya istana Konbaung, yang memperkuat peran situs tersebut lebih dari sekadar tempat tinggal kerajaan.

Pihak berwenang telah meluncurkan upaya konservasi untuk melindungi area tersebut. Berbagai rencana telah disusun untuk melestarikan situs tersebut baik sebagai bangunan warisan budaya maupun sebagai sumber daya pendidikan bagi generasi mendatang.

Rekomendasi