Angka kematian yang tinggi akibat gelombang panas ekstrem selama pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi tahun lalu menjadi sebuah peringatan penting tentang perlunya mitigasi risiko panas ekstrem. Sekitar 1.300 jemaah haji kehilangan nyawa ketika suhu di kota suci Mekkah mencapai 51,8 derajat Celsius, sehingga menjadikan ibadah yang berlangsung selama lima hingga enam hari tersebut sebagai tantangan yang sangat berat.
Mayoritas dari korban yang tercatat tidak memiliki visa haji resmi, sehingga mereka tidak dapat menggunakan fasilitas seperti tenda ber-AC yang disediakan untuk jemaah yang terdaftar. Menurut pengamat, hal ini menunjukkan perlunya tindakan untuk mencegah kehadiran jemaah ilegal dan sekaligus meningkatkan infrastruktur demi keselamatan semua pihak.
Dikutip dari laman DW Indonesia pada Jumat (17/1), Abderrezak Bouchama dari Pusat Penelitian Medis Internasional Raja Abdullah menyatakan, mengurangi risiko jemaah haji ilegal harus menjadi prioritas utama.
"Pemerintah harus belajar dari pengalaman ini untuk menghindari terulangnya tragedi serupa," ujarnya.
Walaupun langkah mitigasi jangka panjang seperti sensor pendeteksi panas masih membutuhkan waktu untuk diimplementasikan, pemerintah Saudi telah mengambil berbagai langkah untuk menghadapi kondisi panas ekstrem. Ini termasuk pemasangan sistem pendingin udara di Masjidil Haram dan jalur antara Safa dan Marwa, serta pelapisan jalan dengan bahan pendingin berwarna putih.
Advertisement
Dampak Perubahan Iklim
Karim Elgendy, seorang peneliti di Chatham House, mengungkapkan meskipun telah dilakukan berbagai upaya mitigasi, tingginya angka kematian pada tahun lalu sebagian besar disebabkan oleh kondisi lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain itu, pelaksanaan ibadah haji yang mengikuti kalender lunar Islam akan terus bergeser ke musim panas dalam beberapa tahun ke depan, yang akan memperburuk dampak dari cuaca panas ekstrem.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Geophysical Research Letters pada tahun 2019 memprediksi bahwa antara tahun 2047 hingga 2086, suhu yang akan dihadapi oleh jemaah haji akan melebihi batas bahaya ekstrem akibat perubahan iklim. Pihak berwenang di Arab Saudi terus berupaya untuk meningkatkan fasilitas, seperti distribusi air, payung, dan penyemprotan air, untuk membantu jemaah dalam mendinginkan diri.
Para ahli juga merekomendasikan pengadaan unit pendingin bergerak di lokasi-lokasi keramaian untuk meminimalkan risiko hipertermia. Di samping itu, tantangan lain muncul dari adanya jemaah ilegal yang datang menggunakan visa wisata. Diharapkan pemerintah dapat membuat pengaturan yang tepat untuk mengakomodasi tambahan jemaah ini, terutama dengan menyediakan fasilitas pendinginan dan layanan kesehatan darurat.