Pandangan Ustaz Adi Hidayat tentang Belajar Agama di Media Sosial

UAH menjelaskan bahwa belajar syariat Islam harus dengan guru yang membimbing dan memiliki sanad keilmuan hingga Rasulullah Saw.

Muhamad Husni Tamami
Oleh Muhamad Husni Tamami - Reporter
Pandangan Ustaz Adi Hidayat tentang Belajar Agama di Media Sosial
Ilustrasi muslimah belajar agama lewat media sosial. (Foto dibuat oleh AI) (© 2025 Liputan6.com)

Rasulullah Saw. menekankan dalam sebuah hadis mengenai pentingnya mencari ilmu bagi setiap umat Muslim. "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim." (H.R. Ibnu Majah). Salah satu ulama dari Mesir, Syaikh Ibnu Ruslan, menyatakan dalam salah satu karya tulisnya bahwa amal yang dilakukan tanpa landasan ilmu akan ditolak.

Ini menunjukkan bahwa jika seseorang berbuat tanpa didasari ilmu yang benar, maka amalannya tidak akan diterima oleh Allah Swt. Hal ini terutama berlaku pada amal ibadah, karena tindakan yang dilakukan tanpa ilmu tidak memiliki dasar yang kuat dan tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Ulama kharismatik Ustadz Adi Hidayat (UAH) dalam kajiannya juga mengungkapkan bahwa untuk mempelajari ilmu syariat Islam, seseorang harus memiliki seorang guru yang dapat membimbingnya, yang memiliki hubungan sanad keilmuan yang jelas hingga kepada Rasulullah Saw. "Kalau antum ingin belajar (agama) tentang yang benar, tersambung kepada nabi, maka carilah ulama," ungkap UAH dalam sebuah video yang diunggah di YouTube Point Kajian Islam pada Ahad (2/2/2025).

Para ulama adalah Penerus Ajaran Nabi

Menyendiri atau Bergaul, Mana yang Lebih Utama bagi Seorang Muslimah?
Ilustrasi muslimah belajar agama lewat media sosial. (Foto dibuat oleh AI) © 2025 Liputan6.com

Dalam hadis disebutkan bahwa para ulama merupakan pewaris nabi. Mereka mewarisi ilmu serta kebijaksanaan dari para nabi dan memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan ajaran agama kepada masyarakat. UAH menjelaskan karakteristik ulama yang terdapat dalam Al-Qur'an. Allah Swt. berfirman:

...

Artinya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Pengampun." (QS Fatir: 28). UAH menekankan bahwa saat Allah menyebutkan ulama, tidak ada penekanan pada kecerdasan mereka, karena sudah menjadi hal yang pasti bahwa ulama adalah orang-orang yang cerdas. Namun, yang ditekankan dalam Al-Qur'an adalah sifat khasyyah, yaitu rasa takut kepada Allah. Kepintaran yang dimiliki oleh ulama seharusnya mampu mengarahkan mereka untuk senantiasa takut kepada-Nya.

Belajar Agama lewat Media Digital, Bolehkah? Ini Penjelasan UAH

Penampakan Galaxy S25 Edge, HP Samsung Slim yang Bikin Penasaran
Penampakan Galaxy S25 Edge, HP Samsung Slim yang Bikin Penasaran X/Cellunlocker.net

Seiring dengan kemajuan teknologi di era modern, cara mempelajari ilmu syariat Islam telah meluas tidak hanya terbatas pada majelis ilmu. Saat ini, banyak pengetahuan yang dapat diakses melalui media sosial (medsos).

Lantas, apakah diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk belajar melalui perangkat media? "Kalau antum ingin cari guru, baik secara langsung ataupun lewat media perantara ketika tidak mendapatkannya (secara tatap muka), ada yang lewat YouTube karena tidak bisa langsung bertemu dengan yang bersangkutan misalnya, ada yang lewat perangkat yang lainnya, silakan," jawab UAH. Ia menegaskan bahwa tidak ada masalah dalam belajar Islam melalui media.

Namun, UAH juga menambahkan bahwa jika ada aspek-aspek yang belum dipahami, maka hal tersebut perlu dilengkapi. Poin penting dalam menuntut ilmu adalah mencari guru yang memiliki ketakwaan dan rasa takut kepada Allah SWT.

"Jadi ilmunya membuat ia takut kepada Allah, bukan sekadar pintar. Kalau yang (hanya) pintar, banyak. Nonmuslim pun ada yang pintar, bahkan ada yang hafal Al-Qur'an," jelas UAH. Dengan demikian, penting untuk memilih sumber ilmu yang benar dan dapat membimbing kita dalam memahami ajaran Islam dengan baik. Wallahu a'lam, dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber, Selasa (4/2/2025).

Rekomendasi