PB Akuatik Fasilitasi Beasiswa Atlet Renang Perairan Terbuka, Tingkatkan Daya Saing di Kancah Internasional

PB Akuatik Indonesia memfasilitasi beasiswa pelatihan atlet renang ke luar negeri untuk meningkatkan kapasitas daya saing di kancah internasional.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
PB Akuatik Fasilitasi Beasiswa Atlet Renang Perairan Terbuka, Tingkatkan Daya Saing di Kancah Internasional
PB Akuatik Indonesia memfasilitasi beasiswa pelatihan untuk atlet renang perairan terbuka ke luar negeri guna meningkatkan kapasitas dan daya saing atlet di kancah internasional. (AntaraNews)

PB Akuatik Indonesia memfasilitasi beasiswa pelatihan bagi atlet renang perairan terbuka (OWS) ke luar negeri. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas, daya saing, serta jam terbang para atlet nasional. Inisiatif ini diharapkan mampu membawa prestasi lebih baik di kancah internasional.

Ketua Bidang Branding dan Marketing PB Akuatik Indonesia, Kiki Taher, mengungkapkan hal tersebut di Jimbaran, Bali, pada Minggu (14/6). Kiki Taher juga menjabat sebagai Ketua Panitia Penyelenggara Asian OWS Championship 2026. Ia menekankan pentingnya pengalaman bertanding di level global, terutama untuk renang perairan terbuka.

Salah satu atlet profesional dari Indonesia yang telah menerima beasiswa pelatihan dari induk organisasi olahraga akuatik dunia atau World Aquatics adalah Hefrisyanthi Izzy Dwi Faiva. Izzy, atlet wanita nomor satu Indonesia di OWS, kini berlatih di Paris, Prancis. Ia sebelumnya juga berpartisipasi dalam SEA Games 2025 di Bangkok, Thailand, meskipun belum berhasil meraih medali untuk Merah Putih.

Selain program beasiswa, PB Akuatik Indonesia secara aktif mengirimkan atlet untuk mengikuti berbagai kejuaraan nasional dan internasional. Upaya ini diharapkan dapat menambah pengalaman serta kapasitas atlet secara signifikan. Kiki Taher mengakui bahwa kawasan Asia Tenggara masih didominasi oleh atlet-atlet dari Vietnam, Thailand, dan Singapura.

Pengiriman atlet ke ajang kompetisi global menjadi strategi penting untuk mengejar ketertinggalan. Dengan lebih banyak kesempatan bertanding di level tinggi, atlet dapat mengukur kemampuan mereka. Ini juga akan membantu mereka beradaptasi dengan standar kompetisi internasional yang lebih ketat.

Fasilitasi beasiswa dan partisipasi dalam kejuaraan merupakan bagian integral dari strategi jangka panjang PB Akuatik. Tujuannya adalah untuk mencetak atlet renang perairan terbuka yang mampu bersaing. Diharapkan, atlet-atlet Indonesia dapat meraih medali di berbagai ajang multievent di masa mendatang.

Penyelenggaraan kejuaraan OWS di tanah air diakui masih kurang optimal. Hal ini disebabkan oleh faktor alam atau cuaca yang sangat memengaruhi jadwal dan lokasi kompetisi. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan olahraga renang perairan terbuka di Indonesia.

Meski demikian, PB Akuatik Indonesia tetap berkomitmen menyelenggarakan kejuaraan nasional (kejurnas) setiap tahun. Pada tahun 2025, kejurnas OWS telah diadakan di Bali. Untuk tahun ini, rencananya kejurnas akan digelar di Belitung pada bulan September mendatang.

Penyelenggaraan kejurnas juga dilaksanakan bersamaan dengan A Stream OWS. Program ini dibuka khusus untuk perenang perairan terbuka kategori pemula. Tujuannya adalah untuk menjaring bibit-bibit atlet OWS potensial dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, A Series OWS juga telah diadakan di beberapa lokasi. Pada tahun 2026, A Series sudah sukses dilaksanakan di Lampung dan Jimbaran, Bali. Rencananya, seri berikutnya akan kembali diadakan di Belitung pada bulan September 2026, melanjutkan upaya penjaringan dan pembinaan atlet.

Asian OWS Championship 2026 baru saja berlangsung di perairan InterContinental Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, pada 13-15 Juni. Kontingen dari China dan Vietnam menunjukkan dominasinya. Mereka menguasai podium untuk nomor tunggal putra dan putri 5 kilometer pada penyelenggaraan hari pertama.

Pada hari kedua kejuaraan, nomor estafet 4x1.500 meter dipertandingkan. Medali emas kembali berhasil digondol oleh tim China. Sementara itu, medali perak disabet oleh Korea Selatan, dan medali perunggu diraih oleh Vietnam, menunjukkan kekuatan mereka di regional Asia.

Tim Indonesia yang turun pada nomor estafet tersebut belum berhasil mempersembahkan medali. Mereka finis di urutan kedelapan dengan catatan waktu 1 jam 4 menit dan 32,7 detik. Catatan waktu ini terpaut sekitar 8 menit dari peraih medali emas dari China, yang mencatatkan waktu 56 menit 42,3 detik.

Wakil Indonesia pada nomor estafet tersebut adalah Gusti Ayu Made Nadya Saraswati, Mochamad Akbar Putra Taufik, Sang Arka Ning Jaladri Prawatya, dan Hefrisyanthi Izzy Dwi Faiva. Hasil ini menjadi bahan evaluasi penting bagi PB Akuatik Indonesia. Tujuannya adalah untuk merumuskan strategi pelatihan yang lebih efektif di masa mendatang guna meningkatkan performa atlet.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi