Jumlah Penonton Liga Malaysia Menurun Tajam, Hanya 500 Orang yang Menyaksikan Pertandingan Klub Saddil Ramdani

Jumlah penonton Liga Super Malaysia mengalami penurunan yang signifikan.

Wiwig Prayugi
Oleh Wiwig Prayugi - Reporter
Jumlah Penonton Liga Malaysia Menurun Tajam, Hanya 500 Orang yang Menyaksikan Pertandingan Klub Saddil Ramdani
Saddil Ramdani saat membela Sabah FC di Liga Super Malaysia 2022. (Instagram/@officialsabahfc) (© 2025 Bola.com)

Jumlah penonton Liga Super Malaysia mengalami penurunan yang signifikan. Meskipun sudah memasuki laga ke-19, suasana di stadion tetap sepi tanpa adanya sorakan dari penonton yang biasanya memenuhi kursi stadion atau kedai 'mamak' yang menyiarkan pertandingan secara langsung. Hal ini sangat disayangkan, karena kehadiran penonton di stadion semakin berkurang, seolah-olah mereka telah kehilangan harapan untuk memberikan dukungan kepada tim kesayangan mereka.

Contohnya, pertandingan antara Penang dan Selangor hanya menarik perhatian 2.198 orang. Pada masa lalu, Selangor dikenal memiliki basis pendukung yang sangat fanatik, baik di kandang maupun saat tandang. Selain itu, laga antara Terengganu dan JDT dihadiri oleh 2.046 orang, sementara Perak melawan KDN hanya dihadiri 1.106 orang. Pertandingan Sri Pahang melawan KL City mencatatkan jumlah penonton sebanyak 956, dan laga Negeri Sembilan melawan Sabah hanya dihadiri oleh 537 orang.

"Semuanya di kisaran 6.000 dalam lima pertandingan dan semua pertandingan itu berlangsung di akhir pekan," tulis Aidil Azlan, seorang pemerhati bola Malaysia, di laman Facebooknya, via Majority.

JDT Mendominasi?

Liga Malaysia Sedang Lesu Jumlah Penonton Turun Drastis, Klub Saddil Ramdani Away Hanya Ditonton 500 Orang
Saddil Ramdani saat membela Sabah FC di Liga Super Malaysia 2022. (Instagram/@officialsabahfc) © 2025 Bola.com

Hafiz Zainal Abidin, CEO PDRM, menyatakan bahwa meskipun Johor Darul Ta'zim (JDT) merupakan juara bertahan Liga Super, hal itu tidak cukup untuk menarik perhatian para suporter agar datang ke stadion. Bahkan, meski JDT mengunjungi stadion, minat pendukung tuan rumah tetap rendah. Dominasi JDT di Liga Super belum mampu meningkatkan angka kehadiran penonton. "Liga ini sudah mati, sekali lagi kita disuguhi angka-angka yang tidak mengejutkan kehadiran penonton ke stadion untuk menyaksikan Liga Super," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius, karena statistik kehadiran penonton yang baru-baru ini muncul menunjukkan angka yang memprihatinkan.

"Kita lihat statistik baru-baru mengenai kehadiran penonton memang agak merisaukan. Tim kecil seperti kamu mungkin sudah biasa, tapi kalau melawan tim besar tetap sepi, itu masalah liga kita sekarang," katanya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa masalah ini bukan hanya dialami oleh tim kecil, tetapi juga terjadi saat tim besar bertanding. Hal ini menunjukkan bahwa ada tantangan serius yang harus dihadapi oleh Liga Super untuk mengembalikan minat penonton dan meningkatkan kehadiran di stadion.

Pandangan Direktur JDT

Pemilik JDT, Tunku Ismail Idris, mengungkapkan pandangannya mengenai mengapa Liga Malaysia seolah 'didukung' oleh JDT. Menurutnya, banyak faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

"JDT menang, stadion dan lapangan kurang indah, pemain tim tidak digaji, pemain tidak digaji dan tidak semangat, musim hujan, orang-orang yang menjaga klub tidak peduli dan lain-lain," katanya.

"Jika rumah tetangga kita indah dan rumah kita tidak dikelola, gilakah kita membakar seluruh kawasan perumahan?" imbuhnya.

Lebih lanjut, Tunku Ismail menyatakan bahwa penting untuk memperbaiki manajemen klub. "Ibarat rumah yang tidak rapi dan tidak indah, mengajak orang duduk-duduk di hutan," ujarnya.

Ia mengkritik sikap yang tidak bertanggung jawab, di mana pihak tertentu tidak membayar gaji pemain namun tetap menyalahkan FAM dan MFL. "Segera terapkan financial fair play, Badan Wasit harus independen dan tidak berada di bawah FAM," tambahnya.

Ia juga menekankan perlunya menggunakan wasit asing untuk meningkatkan kualitas pertandingan. "11 tahun berbagai alasan dan konspirasi," tuturnya, menunjukkan frustrasinya terhadap situasi yang telah berlangsung lama. Akhirnya, ia menyoroti bahwa pola pikir yang benar sangat penting dalam mengatasi masalah ini, "Pola pikir adalah segalanya," tulisnya di X.

Rekomendasi