Sarwendah menghadiri upacara kremasi dengan rasa sedih, mengucapkan selamat tinggal kepada nenek tercinta yang telah pergi dengan tenang dan penuh penghormatan.
Pada acara itu, Sarwendah terlihat hadir sendirian tanpa ketiga anaknya, yang tidak ikut dalam perjalanan ke Jambi untuk prosesi kremasi neneknya.
Dalam suasana yang penuh emosi, Sarwendah menyampaikan pesan perpisahan kepada orang yang sangat dicintainya, "R.I.P Ama, sekarang Ama sudah tidak merasakan sakit lagi, semoga bahagia di sana."
Advertisement
Upacara kremasi dilaksanakan dengan kuatnya nuansa tradisi Tionghoa, mencerminkan betapa pentingnya budaya dan warisan nenek moyang bagi keluarga.
Pada foto-foto yang dibagikan, tampak bahwa setiap anggota keluarga memiliki peran yang signifikan dalam mempertahankan kesakralan acara hingga prosesi kremasi selesai.
Keluarga besar Sarwendah terlihat mengenakan busana berwarna biru dan putih sebagai tanda berkabung, dilengkapi dengan ikat kepala yang melambangkan penghormatan dan rasa duka cita.
Advertisement
Keluarga menyiapkan perlengkapan kremasi, termasuk kertas sembahyang dan bunga-bunga, dengan tertata rapi sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang.
Sarwendah tampak sedang menyusun kertas sembahyang, yang merupakan elemen penting dalam tradisi Tionghoa untuk memandu arwah menuju kehidupan setelah mati.
Ketika keluarga mengikuti prosesi persembahan bunga, suasana yang penuh emosi dan khidmat terasa jelas, mencerminkan sebuah ritual simbolis dalam tradisi Tionghoa untuk mendoakan arwah yang damai.
Advertisement
Dengan penuh rasa hormat, Sarwendah dan anggota keluarga lainnya mengatur bunga-bunga duka, yang menambah nuansa sakral dalam prosesi ini.