Tahukah Anda? Transaksi Mata Uang Lokal ASEAN Tembus USD 14,1 Miliar, BI Perkuat Komitmen Integrasi Keuangan Regional
Indonesia melalui BI terus memperkuat komitmen penggunaan Transaksi Mata Uang Lokal ASEAN (LCT) yang kini mencapai USD 14,1 miliar, dorong efisiensi perdagangan dan stabilitas ekonomi regional.
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk memperkuat penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam transaksi lintas batas di kawasan ASEAN. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan investasi antarnegara anggota, sekaligus mengurangi ketergantungan pada mata uang pihak ketiga.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menjelaskan bahwa LCT berperan vital dalam mengurangi risiko volatilitas nilai tukar dan mendukung pendalaman pasar keuangan regional. Langkah ini diharapkan dapat mewujudkan integrasi keuangan serta pertumbuhan ekonomi ASEAN yang berkelanjutan dan inklusif bagi seluruh anggotanya.
Komitmen ini terus diperkuat seiring dengan kinerja LCT yang mencatatkan transaksi signifikan hingga Juli 2025, mencapai 14,1 miliar dolar AS. Kerja sama ini telah dimulai sejak 2016 dan kini melibatkan enam negara mitra di ASEAN, menunjukkan adopsi yang semakin luas.
Peningkatan Signifikan Transaksi Mata Uang Lokal ASEAN
Data menunjukkan kinerja Transaksi Mata Uang Lokal ASEAN (LCT) mengalami peningkatan pesat, mencapai 14,1 miliar dolar AS (ekivalen) hingga Juli 2025. Angka ini melonjak 112 persen secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 6,7 miliar dolar AS. Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan inisiatif penggunaan mata uang lokal di ASEAN.
Total transaksi LCT hingga Juli 2025 ini setara dengan 87 persen dari target total transaksi sepanjang tahun 2024 yang diproyeksikan mencapai 16,28 miliar dolar AS. Lonjakan ini menunjukkan adopsi LCT yang semakin masif di kalangan pelaku usaha. Jumlah nasabah LCT juga meningkat signifikan, menandakan penerimaan yang positif.
Rata-rata nasabah LCT per bulan pada tahun 2025 mencapai 7.568, naik dari 5.020 per bulan pada tahun 2024. Hal ini mengindikasikan semakin banyaknya entitas bisnis yang memanfaatkan fasilitas transaksi mata uang lokal. Peningkatan ini didorong oleh berbagai kemudahan dan manfaat yang ditawarkan LCT.
Manfaat dan Harmonisasi LCT untuk Ketahanan Ekonomi Regional
Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas batas memberikan banyak manfaat strategis bagi negara-negara ASEAN. Inisiatif ini secara efektif mengurangi ketergantungan pada mata uang asing, khususnya dolar AS. Dengan demikian, risiko volatilitas nilai tukar global dapat diminimalisir, memperkuat stabilitas ekonomi.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menekankan bahwa LCT berperan penting dalam mendorong arus perdagangan dan investasi yang lebih efisien. Selain itu, LCT juga mendukung upaya pendalaman pasar keuangan di kawasan ASEAN. Ini merupakan langkah krusial untuk stabilitas ekonomi regional jangka panjang.
Kolaborasi antarbank sentral di ASEAN telah menjadi kunci keberhasilan inisiatif ini. Bank Indonesia, Bank Negara Malaysia, dan Bank of Thailand telah menyepakati harmonisasi LCT Operational Guidelines. Panduan ini menjadi acuan regional untuk meningkatkan konsistensi dan skalabilitas transaksi mata uang lokal.
Harmonisasi pedoman operasional ini membuat proses transaksi lebih terstandar dan transparan. Hal ini memudahkan negosiasi antarnegara ASEAN dan mempercepat adopsi LCT. Pemanfaatan LCT diharapkan dapat memperkuat ketahanan makroekonomi nasional dan mengurangi kerentanan terhadap gejolak global.
Dukungan Kuat dari Bank Sentral Mitra ASEAN
Direktur Departemen Internasional Bank of Thailand, Nithiwadee Soontornpoch, menegaskan potensi besar peningkatan penggunaan mata uang lokal. Ia menyoroti besarnya porsi perdagangan internasional Thailand dengan negara-negara ASEAN. Ini menunjukkan ruang pertumbuhan LCT yang masih sangat luas dan menjanjikan.
Pandangan serupa disampaikan oleh Asisten Gubernur Bank Negara Malaysia, Mohamad Ali Iqbal Abdul Khalid. Menurutnya, kolaborasi erat antarbank sentral telah mendorong tren peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral. Kerja sama ini menjadi katalisator penting bagi pertumbuhan kawasan ASEAN.
Inisiatif Transaksi Mata Uang Lokal (LCT) pertama kali dimulai pada tahun 2016 melalui penandatanganan MoU Local Currency Settlement dengan Malaysia dan Thailand. Implementasi resminya dimulai pada tahun 2018 dan sejak itu terus berkembang pesat. Saat ini, program LCT telah melibatkan total enam negara mitra di ASEAN.
Sumber: AntaraNews