Tahukah Anda? OJK Dorong PUJK Sesuaikan Produk untuk Tingkatkan Inklusi Keuangan Masyarakat
OJK mendesak Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) menyelaraskan produk dengan kebutuhan masyarakat demi mempercepat **inklusi keuangan** dan melindungi konsumen dari penipuan. Simak selengkapnya!
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) untuk lebih adaptif dalam menyajikan produk keuangan. Hal ini bertujuan agar setiap layanan dapat benar-benar sesuai dengan kebutuhan spesifik masyarakat. Pernyataan ini disampaikan oleh Friderica Widyasari Dewi pada sebuah acara penting.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK itu menegaskan bahwa tidak semua produk cocok untuk setiap individu. Oleh karena itu, penyesuaian harus dikembalikan kepada profil dan kebutuhan masing-masing konsumen. Ini adalah langkah krusial dalam meningkatkan inklusi keuangan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) yang berlangsung di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu lalu. OJK berharap PUJK dapat memperluas akses pembiayaan dan kredit. Akses ini harus cepat, mudah, dan menawarkan tingkat pengembalian yang wajar bagi masyarakat.
Pentingnya Penyesuaian Produk untuk Inklusi Keuangan
Friderica Widyasari Dewi menekankan pentingnya pendekatan personal dalam penyediaan produk keuangan. Ia menyatakan bahwa pemahaman mendalam terhadap kebutuhan individu adalah kunci utama. Hal ini akan memastikan bahwa setiap produk yang ditawarkan benar-benar bermanfaat bagi penerima.
Upaya ini secara konkret bertujuan agar masyarakat dapat menjangkau produk dan jasa layanan keuangan sesuai kebutuhan mereka. Dengan demikian, akses terhadap layanan finansial yang relevan akan semakin merata. Ini juga mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif di seluruh lapisan masyarakat.
Ke depan, OJK sangat menginginkan peningkatan sinergi dan kolaborasi yang erat. Kemitraan ini melibatkan OJK sendiri, para Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK), serta pemerintah daerah. Kolaborasi ini diharapkan dapat semakin meningkatkan tingkat inklusi keuangan di masyarakat luas.
Literasi Keuangan dan Ancaman Penipuan Digital
Di sisi lain, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyoroti pentingnya kecerdasan finansial di kalangan masyarakat. Ia mengingatkan agar warga Indonesia semakin cerdas dan bijak dalam mengelola keuangan pribadi. Selain itu, masyarakat juga perlu melindungi diri dari berbagai risiko penipuan yang kian marak.
Sadewo berbagi pengalaman mengenai modus penipuan yang memanfaatkan teknologi canggih. Ia bercerita tentang seseorang yang melakukan penipuan menggunakan artificial intelligence (AI) dengan memalsukan wajah dirinya. Modus ini menunjukkan evolusi kejahatan siber yang memerlukan kewaspadaan ekstra dari masyarakat.
Menurut Sadewo, "inovasi" penipuan semacam ini semakin sering terjadi dan meresahkan. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat memahami pentingnya literasi dan inklusi keuangan. Pemahaman ini krusial agar mereka terhindar dari praktik-praktik penipuan yang merugikan secara finansial.
Capaian dan Kolaborasi dalam Memperluas Akses Keuangan
Kepala OJK Purwokerto Haramain Billady melaporkan capaian signifikan dalam upaya peningkatan inklusi keuangan. Pihaknya telah melakukan 340 kegiatan literasi dan inklusi keuangan selama periode September-Oktober 2025. Dari kegiatan tersebut, berhasil dibuka 74.400 rekening bank baru bagi masyarakat.
Billady mengungkapkan bahwa penyelenggaraan kegiatan semacam ini sangat efektif. Masyarakat menjadi semakin paham tentang pengelolaan keuangan yang baik dan benar. Selain itu, mereka juga mampu melindungi diri dari berbagai praktik penipuan keuangan yang marak terjadi.
Ketua Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJS) Purwokerto Heru Senjaya juga mengemukakan pentingnya kolaborasi. Pihaknya telah melakukan berbagai bentuk kerja sama dengan OJK, seperti program Gerak Syariah Ramadhan dan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah. Kolaborasi ini memperkuat ekosistem keuangan daerah.
Heru berharap kegiatan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) dapat memperkuat peran edukatif dan inklusif dari seluruh pemangku kepentingan. BIK diharapkan tidak hanya menjadi ajang sosialisasi. Lebih dari itu, BIK harus mampu mendorong inovasi dan pendekatan baru yang lebih efektif, masif, serta berkelanjutan. Tujuannya adalah memperluas akses keuangan masyarakat, khususnya bagi segmen unbanked dan underbanked.
Ragam Akses Keuangan di Financial Expo
Sebagai penutup rangkaian BIK yang telah dimulai sejak September 2025, digelar Financial Expo. Acara ini mengusung tema "Inklusi Keuangan Untuk Semua, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju". Kegiatan ini diselenggarakan bersama Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Purwokerto dan Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kantor OJK Purwokerto.
Financial Expo dimeriahkan oleh pameran dari berbagai lembaga jasa keuangan. Sektor perbankan, industri keuangan nonbank, dan pasar modal turut berpartisipasi. Selain itu, terdapat pula pameran UMKM yang menghadirkan komoditas unggulan dan produk khas dari wilayah eks Karesidenan Banyumas.
Agenda BIK pada hari tersebut juga mencakup penyerahan simbolis inklusi keuangan oleh beberapa perwakilan lembaga jasa keuangan (LJK). Berikut adalah beberapa contoh akses keuangan yang diserahkan:
- Akses permodalan kepada UMKM untuk mendukung ketahanan pangan oleh PT Bank BRI Cabang Purwokerto, diberikan kepada UD Hasil Bumi Lumbung Padi.
- Pembukaan rekening tabungan Simpanan Pelajar oleh PT BPR BKK Purbalingga (Perseroda) kepada 515 siswa SMKN 1 Bukateja.
- Akses permodalan kepada pedagang di Banyumas melalui penyaluran kredit Bawor (program kredit/pembiayaan melawan rentenir (KPMR)) oleh PT BPR BKK Purwokerto (Perseroda) kepada 37 nasabah.
- Pembukaan rekening tabungan Emas oleh PT Pegadaian kepada 173 nasabah.
- Pembukaan rekening efek dalam program "guruku investor saham" oleh Bursa Efek Indonesia Kantor Perwakilan DIY kepada 282 guru.
- Pembukaan polis asuransi SIMAS Rumah dan SIMAS Motor oleh PT Asuransi Sinar Mas Cabang Purwokerto kepada salah satu kantor notaris di Purwokerto.
Kegiatan Financial Expo ini berhasil diikuti oleh 16 LJK, baik secara langsung maupun melalui perwakilan asosiasi. Selain itu, 10 UMKM dari wilayah Eks Karesidenan Banyumas turut berpartisipasi. Hal ini menunjukkan antusiasme dan komitmen tinggi dalam mendukung inklusi keuangan.
Sumber: AntaraNews