Rupiah Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Pengamat Ungkap Pemicunya
Rupiah melemah ke Rp17.885 per dolar AS. Pengamat menilai tekanan berasal dari faktor struktural domestik dan pelebaran defisit transaksi berjalan.
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 39 poin ke level Rp17.885 per dolar Amerika Serikat (AS), meski indeks dolar AS justru bergerak melemah di pasar global.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah kali ini menarik perhatian karena tidak sejalan dengan tren pelemahan dolar AS.
"Hari ini jam 11.13, rupiah melemah di 39 poin, Rp17.885. Pelemahan mata uang rupiah ini berbanding terbalik karena indeks dolar pun juga melemah sebenarnya dalam perdagangan di hari ini. Tetapi rupiah ini mengalami pelemahan yang menurut saya cukup signifikan," kata Ibrahim.
Ia memperkirakan level psikologis Rp18.000 per dolar AS belum akan tercapai pada pekan ini. Namun, peluang rupiah menyentuh level tersebut pada awal pekan depan dinilai cukup terbuka.
"Tetapi di minggu ini untuk mencapai level Rp18.000 sepertinya tidak akan tercapai. Tetapi di minggu depan, kemungkinan besar antara hari Senin pada saat libur atau Selasa, kemungkinan besar Rp18.000 itu akan tercapai," ujarnya.
Faktor Struktural Dinilai Menjadi Pemicu
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal maupun kebijakan moneter Bank Indonesia.
Ia menilai persoalan utama justru berasal dari faktor struktural yang berada di luar kendali otoritas moneter.
"Permasalahan utama kenapa rupiah melemah ini bukan merupakan kesalahan teknis dari Bank Indonesia. Ini moneter tetapi kesalahan struktural. Kesalahan struktural di luar kendali otoritas moneter, di luar kendali Bank Indonesia," katanya.
Ia menyoroti sejumlah perkembangan yang dinilai memengaruhi sentimen pasar, termasuk kebijakan pemerintah dan berbagai isu yang berkembang di sektor keuangan.
Selain itu, Ibrahim menyinggung keputusan lembaga indeks global MSCI yang disebut menurunkan penilaian terhadap saham-saham Indonesia akibat rendahnya porsi saham yang beredar di publik atau free float pada sejumlah emiten.
Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi minat investor asing terhadap pasar modal domestik.
Menurutnya, pasar juga masih menunggu langkah reformasi yang lebih besar untuk memperkuat daya tarik investasi di Indonesia.
Defisit Transaksi Berjalan dan Musim Dividen Tekan Rupiah
Ibrahim menjelaskan pelebaran defisit transaksi berjalan menjadi salah satu faktor yang membebani nilai tukar rupiah.
Pada kuartal I-2025, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar USD0,15 miliar, sedangkan pada periode yang sama tahun 2026 meningkat menjadi USD4,01 miliar.
Di saat bersamaan, surplus neraca perdagangan juga mengalami penyusutan. Surplus perdagangan Indonesia pada kuartal I-2025 tercatat USD13,07 miliar dan turun menjadi USD7,98 miliar pada kuartal I-2026.
Tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen kepada investor asing. Banyak perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia melakukan konversi rupiah ke dolar guna memenuhi kewajiban tersebut.
"Bahwa dividen itu harus menggunakan dolar. Dolar yang cukup tinggi, ini memaksa rupiah terus mengalami pelemahan. Walaupun Bank Indonesia sudah menurunkan dari USD100.000 berubah menjadi USD50.000, berubah menjadi USD25.000," ujar Ibrahim.
Menurutnya, kombinasi faktor struktural, kebutuhan devisa korporasi, serta berkurangnya surplus perdagangan menjadi sejumlah faktor yang saat ini memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.