NTP Kaltim Desember 2025 Turun 0,30 Persen, Daya Beli Petani Tertekan
Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur melaporkan **NTP Kaltim Desember 2025** mengalami penurunan 0,30 persen, dipicu kenaikan biaya yang dibayar petani yang lebih tinggi.
Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Timur pada Desember 2025 tercatat sebesar 147,89, atau mengalami penurunan 0,30 persen dibandingkan NTP November 2025. Data ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur pada Rabu, 21 Januari 2026. Penurunan ini menjadi sorotan utama dalam dinamika ekonomi pertanian di wilayah tersebut.
Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa faktor utama di balik penurunan NTP ini adalah kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang lebih signifikan dibandingkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It). Kenaikan Ib melampaui Indeks Harga yang Diterima Petani (It), menciptakan tekanan pada daya beli petani.
Indeks Harga yang Diterima Petani hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,13 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani melonjak 0,43 persen. Disparitas ini menyebabkan pendapatan riil petani berkurang, meskipun harga hasil produksi pertanian juga mengalami kenaikan. Kondisi ini mengindikasikan adanya tantangan bagi sektor pertanian di Kaltim.
Faktor Utama Penurunan NTP Kaltim Desember 2025
Penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Timur pada Desember 2025 tidak lepas dari tekanan pada biaya produksi dan konsumsi rumah tangga petani. Yusniar Juliana dari BPS Kaltim mengungkapkan bahwa kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) menjadi pemicu utama. Biaya yang dikeluarkan petani untuk kebutuhan sehari-hari dan operasional usaha pertanian terus meningkat.
Peningkatan Ib ini didorong oleh naiknya biaya konsumsi rumah tangga petani serta biaya produksi dan penambahan barang modal. Beban finansial yang ditanggung petani semakin berat, sementara kenaikan harga hasil panen mereka relatif terbatas sehingga belum mampu menahan penurunan NTP. Kondisi ini secara langsung menggerus keuntungan yang seharusnya didapatkan oleh para petani.
Meski mengalami penurunan secara bulanan, NTP Kalimantan Timur pada Desember 2025 masih menunjukkan kinerja positif jika dilihat dalam skala tahunan. Jika dibandingkan dengan Desember 2024, NTP mengalami kenaikan 1,75 persen. Ini menandakan bahwa secara jangka panjang, sektor pertanian Kaltim masih memiliki ketahanan, meskipun menghadapi fluktuasi bulanan.
Kinerja Subsektor Pertanian di Kaltim
Pada Desember 2025, beberapa subsektor pertanian di Kalimantan Timur menunjukkan performa yang beragam terkait Nilai Tukar Petani. Tiga subsektor utama tercatat mengalami penurunan NTP. Subsektor tanaman pangan turun 0,03 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 1,13 persen, dan subsektor perikanan mengalami penurunan 0,34 persen.
Penurunan pada subsektor-subsektor ini mengindikasikan adanya tantangan spesifik yang dihadapi oleh para petani di bidang tersebut. Kenaikan biaya input produksi atau stagnasi harga jual hasil panen bisa menjadi faktor penyebab. Kondisi ini memerlukan analisis mendalam untuk memahami akar masalah di setiap subsektor.
Namun, tidak semua subsektor menunjukkan tren negatif. Dua subsektor lainnya berhasil mencatatkan kenaikan NTP yang signifikan. Subsektor hortikultura mengalami peningkatan sebesar 3,62 persen, sementara subsektor peternakan naik 0,78 persen. Kenaikan ini menunjukkan adanya potensi pertumbuhan di sektor-sektor tertentu yang mampu beradaptasi dengan kondisi pasar.
Dinamika Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP)
Selain NTP, BPS Kalimantan Timur juga merilis data Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) untuk Desember 2025. NTUP tercatat sebesar 153,93, mengalami penurunan tipis 0,13 persen dibandingkan November 2025 yang berada di angka 154,13. Penurunan ini mencerminkan kondisi serupa dengan NTP, di mana biaya yang dikeluarkan rumah tangga petani cenderung meningkat.
Penurunan NTUP ini terutama terjadi pada dua subsektor. Subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan sebesar 0,84 persen, dan subsektor perikanan turun 0,14 persen. Data ini memperkuat indikasi bahwa rumah tangga petani di kedua subsektor tersebut menghadapi tekanan ekonomi yang lebih besar.
Di sisi lain, tiga subsektor menunjukkan kenaikan NTUP yang positif. Subsektor tanaman pangan naik 0,14 persen, subsektor hortikultura melonjak 3,23 persen, dan subsektor peternakan meningkat 1,05 persen. Kenaikan ini menegaskan bahwa rumah tangga petani di subsektor-subsektor ini memiliki daya tawar yang lebih baik atau mampu mengelola biaya dengan lebih efektif.
Sumber: AntaraNews