Jumlah Investor Pasar Modal Domestik Terus Tumbuh saat Ada Sentimen MSCI
Menariknya, pertumbuhan ini terjadi di tengah dinamika global dan sentimen rebalancing indeks MSCI.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan jumlah investor pasar modal domestik terus bertambah.
Menariknya, pertumbuhan ini terjadi di tengah dinamika global dan sentimen rebalancing indeks MSCI. Hingga saat ini, investor ritel tercatat bertambah sekitar 7 juta secara year to date.
Menurut dia, peningkatan jumlah investor tersebut turut mendorong pertumbuhan dana kelolaan industri reksadana nasional. Nilai Aktiva Bersih (NAB) atau Asset Under Management (AUM) reksadana kini mencapai Rp 718,44 triliun.
“Total AUM kita saat ini mencapai Rp718,44 triliun,” kata Friderica dalam Konferensi Pers di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026) dikutip dari Liputan6.
Sementara itu, pertumbuhan dana kelolaan reksadana sepanjang tahun ini bertambah sekitar Rp 49,71 triliun.
Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh net subscription dari investor ritel yang masih aktif melakukan akumulasi investasi di pasar modal.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi pasar modal masih cukup kuat.
Di tengah tekanan eksternal dan fluktuasi pasar global, investor domestik dinilai tetap optimistis terhadap prospek pasar keuangan Indonesia.
OJK juga melihat peningkatan partisipasi investor ritel menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar domestik.
IHSG Melemah Masih Batas Wajar
Perempuan yang akrab disapa Kiki ini pun menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir masih berada dalam batas wajar dan sejalan dengan pergerakan pasar saham di kawasan regional.
Menurutnya, tekanan terhadap pasar tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi situasi global, terutama meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
“Namun kalau kita lihat bahwa pelemahannya itu masih moderat, yaitu di 1,98 persen pada hari pertama pengumuman MSCI, dan juga kemarin di 1,85 persen pada18 Mei setelah hibur panjang,” kata Kiki.
Kiki menjelaskan, sentimen eksternal membuat investor cenderung berhati-hati sehingga berdampak pada pergerakan bursa di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Meski demikian, ia menilai koreksi yang terjadi di pasar saham Indonesia masih tergolong moderat.