IHSG Anjlok 4,5 Persen 2 Februari 2026, Tembus ke Bawah Level 8.000
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pembukaan yang negatif pada hari Senin, 2 Februari 2026. Tekanan terhadap IHSG terus berlanjut.
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang signifikan saat dibuka pada perdagangan saham hari Senin, (2/2/2026). Penurunan ini terjadi di tengah sentimen dari MSCI yang menuntut transparansi dalam struktur kepemilikan saham di Indonesia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) segera mengambil tindakan untuk mempercepat reformasi pasar modal.
Mengacu pada data dari RTI, IHSG dibuka dengan penurunan 23,44 poin, mencapai 8.306,16. Pada pukul 09.03 WIB, IHSG kembali merosot 1,77% ke level 8.180,57, sementara indeks saham LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 1,06% menjadi 824. Sebagian besar indeks saham acuan menunjukkan tren negatif.
Pada awal sesi perdagangan, IHSG mencatat level tertinggi di 8.313,05 dan terendah di 8.166,06. Sebanyak 343 saham mengalami tekanan yang signifikan, berkontribusi pada penurunan IHSG, sementara 195 saham mengalami penguatan dan 150 saham tetap stagnan.
Total frekuensi perdagangan mencapai 277.606 kali dengan volume perdagangan saham sebanyak 3,6 miliar saham, dan nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp 2,5 triliun.
Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran 16.760. Koreksi IHSG terus berlanjut pada pukul 09.15 WIB, di mana IHSG terperosok 4,52% ke posisi 7.948, dengan seluruh sektor saham mengalami penurunan.
Sektor saham basic mengalami pelemahan terbesar, yakni 6,2%, diikuti oleh sektor saham energi yang melemah 3,89% dan sektor saham industri yang susut 3,29%.
Selanjutnya, sektor saham consumer nonsiklikal turun 0,56%, sektor saham siklikal tergelincir 5,52%, dan sektor saham kesehatan merosot 0,79%.
Selain itu, sektor saham keuangan terpangkas 0,56%, sektor saham properti mengalami penurunan 1,71%, sektor saham teknologi melemah 2,66%, sektor saham infrastruktur tertekan 3,12%, dan sektor saham transportasi merosot 1,22%.
Pada awal sesi perdagangan, harga saham BUMI turun 2,33% menjadi Rp 252 per saham, setelah sebelumnya dibuka naik dua poin ke posisi Rp 260 per saham.
Saham BUMI mencatat level tertinggi di Rp 264 dan terendah di Rp 248 per saham, dengan total frekuensi perdagangan sebanyak 30.401 kali dan volume perdagangan mencapai 10.602.457 saham, serta nilai transaksi sebesar Rp 272,1 miliar.
Pergerakan Harga Saham
Sementara itu, harga saham TLKM mengalami kenaikan sebesar 0,28% dan mencapai posisi Rp 3.610 per saham. Saham TLKM dibuka dengan kenaikan 70 poin, menembus angka Rp 3.670 per saham.
Dalam perdagangan, harga saham TLKM tercatat pada level tertinggi di Rp 3.700 dan level terendah di Rp 3.590 per saham. Total frekuensi perdagangan saham ini mencapai 2.833 kali dengan volume perdagangan sebanyak 220.045 saham, serta nilai transaksi yang tercatat sebesar Rp 80,2 miliar.
Di sisi lain, harga saham BIPI mengalami penurunan drastis sebesar 14,80%, yang membuatnya berada di posisi Rp 167 per saham.
Saham BIPI dibuka dengan penurunan enam poin, sehingga berada pada level Rp 190 per saham. Dalam perdagangan, harga saham BIPI tercatat pada level tertinggi di Rp 190 dan terendah di Rp 167 per saham.
Total frekuensi perdagangan untuk saham ini mencapai 3.934 kali dengan volume perdagangan sebanyak 1.916.029 saham, dan nilai transaksi yang tercatat sebesar Rp 33 miliar.
Sementara itu, harga saham ZATA mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 11,21%, sehingga berada di posisi Rp 119 per saham. Saham ZATA dibuka stagnan di posisi Rp 107 per saham.
Dalam perdagangan, harga saham ZATA mencapai level tertinggi di Rp 123 dan level terendah di Rp 98 per saham. Total frekuensi perdagangan untuk saham ini tercatat sebanyak 26.266 kali dengan volume perdagangan sebanyak 5.431.338 saham, serta nilai transaksi yang mencapai Rp 62,8 miliar.
Dinamika Saham Top Gainers dan Top Losers
Saham-saham yang mencatatkan kenaikan terbesar (top gainers) meliputi:
- Saham EDGE mengalami lonjakan sebesar 25%
- Saham INTD naik 18,40%
- Saham TIFA meningkat 18,37%
- Saham ASPI tumbuh 17,39%
- Saham ESTI bertambah 13,86%
Saham-saham yang mengalami penurunan terbesar (top losers) antara lain:
- Saham NSSS mengalami penurunan sebesar 15%
- Saham VKTR juga turun 15%
- Saham GTSI merosot 15%
- Saham FILM menurun 14,99%
- Saham MORA turun 14,99%
- Saham PSKT merosot 14,93%
Saham-saham yang paling aktif berdasarkan nilai transaksi meliputi:
- Saham BUMI dengan nilai transaksi mencapai Rp 543,2 miliar
- Saham BBCA senilai Rp 419,8 miliar
- Saham ANTM bernilai Rp 327,1 miliar
- Saham BBRI mencapai Rp 309,1 miliar
- Saham BMRI dengan nilai Rp 260,9 miliar
Saham-saham yang paling aktif berdasarkan frekuensi transaksi antara lain:
- Saham BUMI tercatat melakukan transaksi sebanyak 54.810 kali
- Saham ZATA tercatat 31.273 kali
- Saham ANTM tercatat 24.516 kali
- Saham BBRI tercatat 17.100 kali
- Saham DEWA tercatat 15.067 kali