Bulog Harap Dukungan APBN untuk Pengadaan 4 Juta Ton Beras di 2026
Perum Bulog berharap Dukungan APBN untuk pengadaan empat juta ton beras dan satu juta ton jagung pada tahun 2026 guna mengoptimalkan penyerapan gabah petani dan menjaga stabilitas pangan nasional.
Perum Bulog menyatakan harapannya terhadap dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pengadaan empat juta ton beras pada tahun 2026. Dukungan ini dianggap krusial untuk memastikan penyerapan gabah petani dapat berjalan optimal dengan pembiayaan yang efisien dan berkelanjutan. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan hal tersebut dalam sebuah jumpa pers bertajuk Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026 di Jakarta, Jumat (03/01).
Rizal Ramdhani menjelaskan bahwa pihaknya sedang dalam tahap persiapan anggaran dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk membahas skema pendanaan yang paling tepat. Target penyerapan yang akan dihadapi Bulog pada tahun 2026 mencakup empat juta ton setara beras, ditambah dengan satu juta ton jagung, menunjukkan skala kebutuhan yang besar.
Kebutuhan akan dukungan APBN ini muncul karena pembiayaan melalui perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) berpotensi menimbulkan beban bunga yang tinggi. Oleh karena itu, dukungan APBN atau alternatif pendanaan berbiaya rendah lainnya dinilai sangat penting guna menjaga efisiensi dalam proses pengadaan pangan nasional serta stabilitas harga di pasar.
Pentingnya Dukungan APBN untuk Efisiensi Pengadaan Pangan Nasional
Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan pentingnya dukungan dana dari APBN agar Bulog tidak terbebani oleh biaya bunga yang tinggi. "Anggaran sedang kita siapkan, kami koordinasikan dalam waktu dekat ini dengan Kementerian Keuangan. Kita akan rapat secepatnya khususnya untuk tugas penyerapan yang empat juta ton beras ditambah satu juta ton jagung," kata Rizal. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi pembahasan skema pendanaan dengan Kemenkeu.
Pembiayaan melalui pinjaman dari bank-bank Himbara, menurut Rizal, akan menambah beban bunga yang signifikan. "Kalau harus pinjam di bank-bank Himbara kan bunganya agak tinggi," ucapnya. Hal ini berpotensi mengurangi efisiensi operasional Bulog dalam menjalankan tugas stabilisasi harga dan pasokan pangan.
Sebagai alternatif, Bulog juga mempertimbangkan opsi dukungan dari dana Operator Investasi Pemerintah (OIP) yang menawarkan bunga rendah. Rizal berharap dapat memperoleh dana bantuan OIP dengan bunga sekitar dua persen. Opsi ini diharapkan dapat menjaga likuiditas Bulog dan memastikan penyerapan beras serta jagung dari petani tidak terhambat, terutama saat masa panen raya.
Dengan adanya dukungan anggaran yang memadai, Bulog optimistis bahwa proses pengadaan pangan akan berjalan lancar, harga pembelian di tingkat petani dapat terjaga, dan pada akhirnya dapat melindungi kesejahteraan petani. Selain itu, dukungan ini juga akan memperkuat cadangan pangan nasional dalam menyongsong tahun 2026.
Peningkatan Target Cadangan Beras Pemerintah dan Peran Bulog
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, sebelumnya telah mengumumkan peningkatan target pengadaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menjadi empat juta ton pada tahun 2026. Target ini naik dari sebelumnya tiga juta ton. Peningkatan ini bertujuan untuk memperkuat Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta penyaluran bantuan pangan.
Keputusan untuk menaikkan cadangan beras pemerintah ini diambil agar pemerintah memiliki kapasitas yang lebih besar dalam melakukan intervensi pasar. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga beras bagi masyarakat, baik melalui program SPHP maupun penyaluran bantuan pangan nasional secara cepat dan tepat sasaran. "Tadi kami putuskan cadangan beras pemerintah dari tiga juta ton, kita naikkan jadi empat juta ton agar lebih mudah nanti untuk SPHP, untuk bantuan pangan, dan lain sebagainya," kata Zulhas, sapaan akrabnya, pada Senin (29/12/2025).
Penambahan target serapan beras ini sangat krusial untuk memperkuat peran Perum Bulog sebagai pilar utama stabilisasi pangan nasional. Peran Bulog diharapkan dapat berjalan secara jangka panjang, berkelanjutan, adil, dan efektif bagi seluruh petani di Indonesia.
Dengan target yang lebih tinggi dan dukungan pendanaan yang efisien, Bulog akan semakin mampu menjalankan mandatnya dalam menjaga ketahanan pangan. Rizal Ramdhani juga menyebutkan rencana untuk segera bertemu dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa guna menindaklanjuti pembahasan penyerapan beras dan jagung ini.
Sumber: AntaraNews