Tahukah Anda? Risiko Gluten bagi Penderita Alergi: Picu Kerusakan Pencernaan dan Malabsorpsi Nutrisi Fatal
Ahli gizi ungkap risiko gluten bagi penderita alergi atau celiac, picu kerusakan usus dan malabsorpsi nutrisi. Waspadai bahaya gluten yang mengintai kesehatan Anda!
Bagi sebagian orang, konsumsi gluten dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan pencernaan dan penyerapan nutrisi. Ahli gizi terkemuka, Dr. dr. Lucy Widasari, M.Si, baru-baru ini menyoroti bahaya ini, khususnya bagi individu yang rentan alergi atau penderita celiac.
Menurut Lucy, gluten berulang kali dapat merusak vili di usus halus, yang merupakan tonjolan penting untuk penyerapan nutrisi. Kerusakan ini pada akhirnya menyebabkan malabsorpsi kronis, menghambat tubuh mendapatkan zat gizi esensial.
Peringatan ini disampaikan Lucy kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap makanan yang mengandung gluten. Pemahaman akan risiko gluten sangat krusial untuk menjaga kualitas hidup dan mencegah komplikasi kesehatan jangka panjang.
Kerusakan Pencernaan dan Defisiensi Nutrisi Akibat Risiko Gluten
Konsumsi gluten secara terus-menerus oleh individu yang rentan alergi, termasuk penderita celiac atau autoimun, dapat memicu kerusakan serius pada sistem pencernaan. Dr. dr. Lucy Widasari, M.Si, menjelaskan bahwa kondisi ini berpotensi menyebabkan kekurangan nutrisi tertentu dalam tubuh.
Kerusakan utama terjadi pada vili, tonjolan halus di usus halus yang berperan vital dalam penyerapan nutrisi. "Sehingga menghambat penyerapan nutrisi seperti zat besi, vitamin B12, kalsium, folat, dan lain-lain," kata Lucy. Ia menambahkan bahwa kerusakan ini dapat berkembang secara perlahan dan berujung pada malabsorpsi atau gangguan penyerapan kronis.
Akibat dari kerusakan usus dan terganggunya penyerapan zat gizi, seseorang dapat mengalami berbagai masalah kesehatan. Beberapa di antaranya adalah anemia akibat defisiensi zat besi, kekurangan vitamin, serta penurunan massa tubuh. Pada anak-anak, kondisi ini bahkan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Komplikasi Sistemik dan Gejala Akut dari Paparan Gluten
Selain masalah pencernaan, paparan gluten bagi individu yang sensitif juga dapat menimbulkan komplikasi sistemik yang memengaruhi organ lain. Lucy Widasari menyebutkan risiko seperti osteoporosis, yang disebabkan oleh gangguan penyerapan kalsium dan vitamin D, serta infertilitas.
Lebih lanjut, kerusakan saraf, kelelahan kronis, dan berbagai manifestasi ekstraintestinal lainnya juga dapat terjadi. Gejala akut yang mungkin muncul segera setelah konsumsi gluten meliputi nyeri perut, diare, kembung, mual, dan muntah. Pada kasus alergi gandum, reaksi alergi yang lebih parah juga bisa terjadi.
Penurunan kualitas hidup menjadi konsekuensi nyata dari gejala berulang seperti kembung, nyeri, dan kelelahan. Gangguan mood hingga 'brain fog' atau kesulitan konsentrasi, serta nyeri sendi, dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari penderita. Memahami risiko gluten ini penting untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat.
Sumber Umum Gluten dan Waspada Kontaminasi Silang
Dr. Lucy Widasari juga menguraikan beberapa sumber makanan umum yang mengandung gluten, yang perlu dihindari oleh individu sensitif. Sumber utama meliputi gandum dan varietasnya, seperti tepung terigu, gandum utuh, spelt, kamut, dan farro. Barley atau jelai juga merupakan sumber gluten yang signifikan.
Produk olahan tepung seperti roti, kue, biskuit, dan donat yang menggunakan tepung gandum atau campuran tepung bergluten, serta pasta berbahan dasar gandum, juga termasuk dalam daftar. Sereal tertentu juga bisa mengandung gluten jika menggunakan gandum, barley, atau malt sebagai bahan baku.
Selain itu, risiko kontaminasi silang (cross-contamination) menjadi perhatian penting. Ini terjadi ketika makanan yang seharusnya bebas gluten tercemar oleh tepung atau debu gluten dari alat dapur yang sama. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam proses persiapan makanan sangat diperlukan untuk menghindari risiko gluten.
Gejala Penting dan Durasi Reaksi Setelah Konsumsi Gluten
Bagi masyarakat awam, penting untuk mengenali gejala-gejala yang muncul setelah mengonsumsi makanan bergluten, terutama jika ada kecurigaan sensitivitas. Gejala pencernaan meliputi nyeri atau kram perut, kembung, diare atau buang air besar cair yang sering, konstipasi, mual, muntah, dan nafsu makan berkurang.
Gejala umum lainnya yang perlu diwaspadai adalah kelelahan berlebihan, sakit kepala atau migrain, nyeri sendi dan otot, kesemutan atau mati rasa pada tangan atau kaki, serta ruam kulit atau dermatitis. Gejala-gejala ini dapat bervariasi tingkat keparahannya pada setiap individu.
Lucy menjelaskan bahwa dalam kasus alergi gandum, reaksi biasanya cepat, muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah konsumsi. Namun, pada kasus sensitivitas non-celiac, gejala seringkali baru muncul beberapa jam hingga satu atau dua hari kemudian. "Sebagai ilustrasi, gluten biasanya dikeluarkan dari tubuh dalam 1–2 hari, tetapi efek dan gejala yang timbul dari paparan gluten bisa bertahan jauh lebih lama," pungkasnya, menekankan bahwa tingkat keparahan gejala bergantung pada reaksi tubuh masing-masing.
Sumber: AntaraNews