Sosok IDS, Pelajar Yogyakarta Korban Pengeroyokan Brutal hingga Meninggal Dunia
Pengeroyokan yang terjadi dipicu oleh rasa dendam. Korban sempat diinterogasi mengenai keterlibatannya dengan geng tertentu sebelum insiden tersebut.
IDS, seorang pelajar SMA di Bantul, Yogyakarta, menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok pemuda di Lapangan Gadung Mlati pada malam Selasa, 14 April 2026.
Motif dari tindakan tersebut diduga karena dendam, dan insiden ini mengakibatkan korban mengalami luka parah yang akhirnya merenggut nyawanya.
Selama hidupnya, IDS dikenal sebagai anak yang baik dan disiplin, tidak pernah pulang malam.
"Biasanya, dia sudah berada di rumah sebelum pukul 21.00 WIB atau paling lambat pukul 22.00 WIB," ungkap Sugeng, ayah IDS, kepada wartawan pada Selasa, 21 April 2026.
Jika IDS terlibat dalam kegiatan lain yang membuatnya pulang lebih larut, dia selalu mengabarkan keluarganya.
"Jika pada jam tersebut dia belum pulang, ibunya akan menghubungi untuk memintanya segera pulang," tambahnya.
Kejadian tragis ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan teman-teman korban, yang mengenang IDS sebagai sosok yang penuh kebaikan dan tanggung jawab.
Pihak berwenang diharapkan dapat mengusut tuntas kasus ini agar pelaku dapat diadili sesuai dengan hukum yang berlaku.
Malam Pengeroyokan
Sugeng menceritakan bahwa pada Selasa malam, anaknya dijemput oleh dua pemuda yang mengendarai sepeda motor sekitar pukul 22.00 WIB.
Saat itu, Sugeng mengaku sudah tertidur dan tidak menyadari anaknya keluar rumah.
Berdasarkan keterangan salah satu teman korban yang mengikuti, IDS sebelumnya dibawa ke belakang SMAN 1 Bambanglipuro oleh sejumlah kakak kelas dan kelompoknya.
Kemudian, IDS dibawa oleh dua orang berbeda ke Lapangan Gadung Mlati.
"Menurut rekannya, di sana anak saya sudah ditunggu sekitar 10 orang. Ia hanya sempat ditanya soal ikut geng, kemudian langsung dikeroyok," ujarnya.
Saat ditemukan, tubuh IDS dilaporkan mengalami kekerasan yang sangat parah menggunakan selang dan pipa paralon.
Selain itu, tubuh korban juga disundut api rokok sehingga mengakibatkan luka serius. Ketika dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, korban IDS tidak sadarkan diri dan kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu malam.
Sugeng juga menjelaskan bahwa penyiksaan oleh pelaku tidak berhenti di situ. IDS yang sudah tidak berdaya bahkan disebut dilindas sepeda motor berulang kali.
Seorang pelaku juga diduga sempat hendak melukai telinga korban, tetapi dicegah oleh temannya yang mengikuti dari belakang.
"Waktu sudah pingsan, masih mau dipotong telinganya, tetapi temannya berhasil merebut gunting," ungkap Sugeng.
Atas kejadian ini, Sugeng mengatakan pihaknya telah melaporkan peristiwa tersebut ke polisi disertai dengan hasil visum anaknya. Ia berharap pelaku segera ditangkap dan dihukum berat.
"Saya minta pelaku dihukum seberat-beratnya. Ini sudah sangat sadis," tegas Sugeng.