Santai Terus Dicibir Gubernur Konten, Dedi Mulyadi: dari Pada Gubernur Tidur, Tukang Habisin Anggaran
Dedi memang getol mengunggah konten di media sosial terkait aktivitasnya sehari-hari.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali merespons anggapan sejumlah pihak yang men-cap dirinya sebagai gubernur konten. Dedi memang getol mengunggah konten di media sosial.
Dia berpandangan cibiran itu tak jadi soal, malahan lebih baik karena apa-apa yang dia kerjakan dapat terpantau langsung oleh masyarakat. Apalagi, katanya sebagian pendapatan dari konten yang dia buat disalurkan kepada masyarakat.
"Saya selalu ditanya, Pak Dedi duitnya dari mana? Ngonten. Habis itu dimasalahin lagi, gubernur konten, lebih baik jadi gubernur konten punya duit diberikan pada rakyat daripada gubernur molor (tidur)," kata dia Dedi dalam sambutannya di Gasibu, dikutip Rabu (21/5).
“Ya kan daripada gubernur tidur, gubernur gubernur protokoler, gubernur ingin dihargai, gubernur menghabiskan anggaran jalan-jalan ke luar negeri, teu hayang teuing aing (gak pernah mau saya). Kang Dedi masuk gorong-gorong, ya sebentar lagi akan saya naik ke pesawat," imbuh dia.
Seperti diketahui, Dedi memang rajin melakukan aktivitas tersebut, hingga sekarang menjelang 100 hari dirinya bekerja sebagai gubernur Jawa Barat. Dia pun menyadari bahwa ada sejumlah pihak yang kurang suka terhadap kebijakan-kebijakan yang dia buat.
Terkait ini, Dedi mengatakan bahwa untuk embuat perubahan di Indonesia diperlukan mental yang kuat. Hal itu lantaran menurutnya akan ada banyak omongan yang tidak enak ketimbang kritikan yang positif.
"Jadi Indonesia ini perlu mental yang kuat kalau ingin melakukan perbaikan. Kenapa, harus kuat menghadapi kaum nyinyir dan biarkan yang nyinyir suruh sakit hati selamanya. Karena Jawa Barat akan terus mengalami peningkatan pembangunannya," ucapnya.
Adapun di antara kebijakan yang belakangan ramai jadi sorotan ialah melakukan audit investigatif data penerima dana hibah. Belum lama ini, diketahui pernah terjadi penyaluran dana hibah untuk Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Di mana, sebelumnya kampus negeri tersebut menerima dana hibah sebesar Rp80 miliar saat masa Ridwan Kamil. Dedi Mulyadi pun memastikan persoalan itu akan diaudit terlebih dahulu.
"Ini baru tiga bulan. 100 hari itu tanggal 30 Mei 2025. 100 hari kepemimpinan saya. Belum 100 hari sudah banyak orang yang kepanasan, apalagi lima tahun," ucapnya.