Pramono Anung Optimis Pengolahan Sampah di Pasar-Pasar Jakarta Mampu Tekan Volume Sampah Bantargebang
Pramono Anung optimistis pengolahan sampah di pasar dapat mengurangi beban pengiriman sampah Jakarta ke TPST Bantargebang.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meyakini program pengolahan sampah di pasar-pasar Jakarta dapat menekan volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang.
Salah satu program yang mulai dijalankan berada di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, melalui pengolahan sampah organik dengan kapasitas sekitar lima ton per hari.
"Saya meyakini kalau program ini bisa dijalankan, maka ini akan sangat bermanfaat baik untuk mengurangi beban pengiriman sampah dari pasar ke Bantargebang," kata Pram di Pasar Kramat Jati, Senin (11/5/2026) seperti dikutip dari Antara.
Saat ini Perumda Pasar Jaya, lanjut Pram, mengelola 153 pasar di Jakarta dengan total sampah yang dikirim ke Bantargebang diperkirakan mencapai sekitar 500 ton setiap hari.
Pramono berharap sistem serupa nantinya diterapkan di pasar lain, termasuk pasar yang tidak berada di bawah pengelolaan Pasar Jaya.
Pengolahan Sampah Akan Diperluas
Selain pasar, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berencana menerapkan pengolahan sampah organik di sektor hotel, restoran, dan kafe.
Sektor tersebut dinilai turut menyumbang volume sampah cukup besar ke Bantargebang.
"Mudah-mudahan akan berjalan dengan baik dan bisa mengatasi persoalan sampah yang akan membawa manfaat lebih green, karena bisa sebagai fertilizer dari yang organik," ujar Pramono.
Ia menilai pengolahan sampah organik dapat memberikan manfaat tambahan karena hasil akhirnya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.
Pilah Sampah Mulai Digencarkan
Pramono menegaskan gerakan pemilahan sampah akan segera diterapkan secara lebih luas di Jakarta.
Ia mengaku telah menginstruksikan jajaran wali kota, camat, lurah hingga RT dan RW untuk mulai menjalankan program tersebut di lingkungan masing-masing.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga disebut tengah menyiapkan sarana dan prasarana pendukung secara bertahap.
"Secara perlahan, tentunya sarana prasarananya juga akan kami persiapkan. Tetapi yang paling penting adalah ini harus berkelanjutan, tidak boleh berhenti, karena inilah yang akan mengubah wajah Jakarta," ucap Pramono.