Petani Lebak Siaga Hadapi Ancaman Banjir dan Serangan Hama di Musim Hujan
Petani Lebak di Kabupaten Lebak, Banten, bersiaga penuh mengantisipasi ancaman banjir dan serangan hama tanaman seiring tingginya intensitas curah hujan demi menjaga hasil panen.
Sejumlah petani di Kabupaten Lebak, Banten, kini tengah meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi ancaman banjir dan serangan hama tanaman. Peningkatan intensitas curah hujan yang terjadi selama beberapa pekan terakhir menjadi pemicu utama kekhawatiran ini, terutama bagi areal persawahan yang rawan tergenang. Upaya antisipasi dini dilakukan untuk memastikan keberlangsungan produksi pangan di tengah tantangan cuaca ekstrem.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Suka Bungah Kabupaten Lebak, Ruhiana, mengungkapkan bahwa lima hektare areal persawahan di wilayahnya telah tergenang banjir. Genangan ini berasal dari total 150 hektare lahan yang dikelola di Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak. Kondisi ini diperkirakan dapat meluas jika curah hujan tinggi terus berlangsung tanpa henti.
Ancaman tidak hanya datang dari banjir, tetapi juga dari perkembangbiakan hama penyakit tanaman yang dipicu oleh kelembaban tinggi akibat hujan. Petani di Lebak telah mempersiapkan berbagai strategi, mulai dari penyediaan pestisida hingga normalisasi saluran air, demi menyelamatkan tanaman padi mereka yang kini telah memasuki usia tanam 70 hari.
Kesiapan Petani Menghadapi Genangan Air dan Normalisasi Saluran
Ancaman banjir menjadi perhatian utama bagi petani di Lebak, mengingat beberapa areal persawahan memang rentan terhadap genangan air. Ruhiana dari Gapoktan Suka Bungah menjelaskan bahwa wilayah Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, seringkali menjadi langganan banjir saat curah hujan tinggi. Saat ini, lima hektare lahan sudah tergenang, dan potensi perluasan genangan sangat mungkin terjadi jika hujan tidak mereda.
Untuk meminimalisir dampak banjir, petani secara proaktif telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi. Salah satunya adalah dengan mempersiapkan alat berat yang akan digunakan untuk normalisasi saluran air. Normalisasi ini bertujuan untuk memastikan aliran air berjalan lancar dan tidak menyebabkan penumpukan yang berujung pada banjir di areal persawahan.
Beruntungnya, sebagian besar tanaman padi di wilayah tersebut telah mencapai usia tanam rata-rata 70 hari. Pada usia ini, tanaman padi dianggap lebih kuat dan tahan terhadap genangan banjir hingga enam hari. Kondisi ini memberikan sedikit kelegaan bagi petani, meskipun kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama dalam menghadapi musim hujan.
Waspada Serangan Hama dan Strategi Pengendaliannya
Selain banjir, curah hujan tinggi juga membawa ancaman serius berupa perkembangbiakan hama penyakit tanaman. Kelembaban yang meningkat akibat hujan deras menciptakan lingkungan ideal bagi hama seperti tikus, wereng, walangsangit, dan penggerak batang untuk berkembang biak dengan cepat. Petani Lebak menyadari betul risiko ini dan telah mengambil langkah antisipasi.
Ruhiana menegaskan bahwa petani di wilayahnya telah siap menghadapi serangan hama dengan menyediakan pestisida. Persediaan pestisida ini menjadi garda terdepan dalam upaya penyelamatan tanaman padi dari kerusakan yang disebabkan oleh hama. Penggunaan pestisida akan dilakukan secara terukur dan tepat sasaran untuk melindungi tanaman.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian Kabupaten Lebak. Kepala Bidang Produksi, Deni Iskandar, menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Petugas POPT ini akan siap diterjunkan jika terjadi serangan hama padi akibat curah hujan tinggi, dengan membawa persediaan pestisida untuk penyemprotan massal.
Optimisme Petani Menjelang Panen Raya
Meskipun dihadapkan pada tantangan banjir dan hama, petani di Lebak tetap optimis terhadap hasil panen mereka. Ketua Kelompok Tani Sentral Rangkasbitung, Udin, menyatakan bahwa pihaknya kini mewaspadai penuh situasi musim hujan agar tanaman padi dapat dipanen sesuai jadwal. Kewaspadaan ini menjadi kunci untuk menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen.
Kondisi tanaman padi yang sudah memasuki usia 70 hari juga menjadi faktor pendukung optimisme petani. Pada fase ini, tanaman padi sudah cukup kuat untuk bertahan dari berbagai gangguan, termasuk serangan hama ringan. Petani berharap curah hujan akan segera menurun sehingga proses pematangan dan panen dapat berjalan lancar.
Ruhiana meyakini bahwa tanaman padi di wilayahnya bisa dipanen pada Februari 2026. Keyakinan ini didasari oleh perkiraan bahwa intensitas curah hujan akan mulai menurun pada bulan tersebut. Dengan persiapan yang matang dan dukungan dari berbagai pihak, petani Lebak bertekad untuk menghasilkan panen yang optimal demi ketahanan pangan lokal.
Sumber: AntaraNews