Mengabdi di Daerah Terpencil, Guru Muda Ini Tunjukkan Arti Ketulusan Mengajar
Najib menegaskan kepada Tim Liputan6.com bahwa konten yang ia bagikan dibuat secara natural sebagai gambaran nyata kondisi di lokasi tempatnya bertugas.
Seorang guru muda, Najib Nadir, tengah menjadi sorotan di media sosial berkat konten-kontennya yang mengangkat pengalaman mengajar di daerah terluar. Mengabdi di SD Negeri Terpencil Bainaa Barat, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Najib menegaskan kepada Tim Liputan6.com bahwa konten yang ia bagikan dibuat secara natural sebagai gambaran nyata kondisi di lokasi tempatnya bertugas.
"Perihal konten-kontennya, sebenarnya tidak ada konten yang betul-betul diniatkan untuk dibuat. Jadi sesampainya di sekolah, kalau misal ada momen-momen yang menarik, ya saya capture dengan HP yang saya gunakan. Seperti video terakhir pada saat banjir, itu spontan saja,” ujar Najib saat berbincang lewat sambungan telepon, Selasa (14/4).
Bercerita soal latar belakangnya, Najib adalah seorang lulusan sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dari Universitas Negeri Makassar. Selama mengenyam bangku kuliah, Najib adalah mahasiswa berprestasi.
Meraih Beasiswa
Hal itu terbukti dari keberhasilannya meraih beasiswa fully funded dari pemerintah yang mencakup uang kuliah tunggal, uang buku, dan uang keperluan kuliah lainnya.
Usai lulus, Najib mengaku terpanggil untuk mengabdi lebih bayak untuk dunia pendidikan di Indonesia. Tujuannya, semata memberikan ilmu yang bermanfaat bagi mereka yang memiliki keterbatasan
"Awal mula jadi guru, ya memang karena di saat pemilihan jurusan itu saya aktif mengikuti berbagai kegiatan volunteer. Bahkan sampai di tingkatan universitas, 4 tahun saya kuliah S1 itu mayoritas kegiatannya berupa pengabdian. Jadi datang ke pelosok-pelosok untuk mengajari anak-anak di sana dan juga membawa bantuan," tutur Najib.
Berbekal dari semangat tersebut, Najib akhirnya mengambil kesempatan untuk mengambil peluang sebagai guru dengan status P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) untuk ditempatkan dimana pun sesuai kebutuhan terdekat tempat tinggalnya.
"Saya dari Sulawesi Barat dan tempat mengabdi saya sekarang itu Sulawesi Tengah, dan itu formasi terdekat yang terbuka. Walaupun pada awalnya saya sadari Sulawesi Tengah ini, tepatnya di Parigi Moutong (kabupaten saya sekarang), memang banyak daerah terpencil. Namun karena memang sudah ada pengalaman sebelumnya, jadi saya tidak mempermasalahkan itu (mengabdi di tempat terpencil),” jelas dia.
Mengabdi Sebagai Guru di Tempat Terpencil
Najib mengamini, mengabdi sebagai guru di tempat terpencil bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak tantangan yang membuat kegiatan belajar mengajar terasa lebih berat dari sekolah yang ada di wilayah yang terjangkau. Mulai dari infrastruktur bangunan sekolah, akses dan keterbatasan tenaga pengajar. Termasuk soal kesejahteraan
"Dalam 5 bulan selama saya aktif sebagai guru di sini, kesenjangan guru yang ada di sekolahnya ada banyak sekali terutama guru-guru yang usianya sudah lanjut, yang sudah mengabdi bertahun-tahun, tapi karena terkendala pendidikan S1, jadi mereka mentok di PPPK paruh waktu. Bahkan ada salah satu rekan guru kami itu 3 tahun lagi masuk usia pensiun (usia 60 tahun), dan sekarang dia masih PPPK paruh waktu,” ungkap Najib.
"Alasannya, kendala pendidikan. Tapi alhamdulila mereka sekarang sedang mengenyam pendidikan S1 dari pemerintah. Posisinya mereka sudah semester 6 dan ada juga yang 1 sudah semester 7. Jadi memang administrasi dalam hal ijazah yang membuat mereka belum bisa masuk sebagai P3K kategori penuh jadi (masih) di bawah honorer (kesejahteraannya)," imbuhnya.
Najib berharap, situasi yang masih banyak perhatian ini harus menjadi atensi semua pihak. Dia tidak ingin angka putus sekolah di sekolah di wilayah terpencil terus bertambah. Sebab kendalanya bukan soal biaya, tapi juga keselamatan karena infrastruktur yang belum memadai, seperti harus menyebrang sungai dengan arus yang deras sedangkan tidak ada jembatan yang baik.
Pesan
Pesan kami, angka putus sekolah di sekolah terpencil itu bukan cuma karena kendala biaya, tapi juga kendala keselamatan. Jadi besar harapan kami, pemerintah betul-betul bisa memperhatikan akses siswa ke sekolah.
“Itu harus aman, supaya mereka berangkat dan pulang sekolahnya aman. Mungkin kami bisa dibilang beruntung karena viral dan dapat atensi cepat dari pemerintah untuk pembangunan jembatan. Tapi banyak rekan-rekan kami, khususnya di Parigi Moutong, yang juga berada di wilayah terpencil dan aksesnya sangat-sangat sulit, tapi kurang mendapatkan perhatian," katanya.