Ekonomi Indonesia Tumbuh Tinggi, Apindo Ingatkan Ancaman Tekanan Eksternal
Pengusaha memperingatkan ancama jangka panjang kondisi perekonomian Indonesia yang baru saja diumumkan tumbuh 5,61 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61% mendapat respons positif dari kalangan dunia usaha. Namun, di balik capaian tersebut, pelaku usaha mengingatkan adanya tantangan serius terkait keberlanjutan pertumbuhan dan kualitas struktur ekonomi nasional.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menilai, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di tengah pelemahan rupiah menunjukkan adanya ketahanan permintaan domestik. Meski demikian, tekanan eksternal dinilai tetap menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan.
Shinta mengatakan kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pelemahan rupiah mencerminkan dua kondisi berbeda yang terjadi secara bersamaan. Di satu sisi, fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat, terutama dari sisi konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi dalam negeri.
""Kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pelemahan rupiah sebenarnya mencerminkan dua hal sekaligus," kata Shinta kepada liputan6.com, Sabtu (9/5/2026).
Kekutan Utama Ekonomi Indonesia
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya domestic demand resilience atau ketahanan permintaan domestik yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi Indonesia.
"Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa fundamental domestik Indonesia masih cukup kuat, terutama dari sisi konsumsi dan aktivitas ekonomi dalam negeri. Ini adalah bentuk domestic demand resilience yang menjadi kekuatan utama ekonomi Indonesia," jelasnya.
Ia menilai kekuatan konsumsi domestik menjadi faktor penting yang menjaga pertumbuhan tetap positif di tengah ketidakpastian global. Aktivitas ekonomi masyarakat yang tetap berjalan dinilai berhasil menopang sejumlah sektor usaha.
Meski demikian, Shinta mengingatkan bahwa pertumbuhan yang tinggi belum tentu mencerminkan penguatan struktural ekonomi secara menyeluruh. Sebab, sejumlah tantangan eksternal masih memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Pelemahan Rupiah Jadi Sinyal Tekanan Eksternal
Namun di sisi lain, pelemahan rupiah yang signifikan, hingga mencapai level terendah sepanjang sejarah, tidak bisa diabaikan sebagai sinyal adanya tekanan eksternal yang cukup kuat.
Faktor seperti ketegangan geopolitik global, kenaikan harga energi, serta dinamika pasar keuangan internasional memberikan dampak nyata terhadap stabilitas nilai tukar.
"Dalam konteks ini, kondisi yang kita hadapi dapat dikategorikan sebagai 'externally driven pressure on an otherwise resilient economy.' Bagi dunia usaha, yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana kombinasi ini ke depan dapat mempengaruhi biaya produksi, daya beli masyarakat, serta keputusan investasi. Jika tekanan eksternal ini berlanjut, maka ada risiko bahwa pertumbuhan yang saat ini terlihat kuat dapat menghadapi tantangan dari sisi sustainability dan quality of growth," jelasnya.
Industri Padat Karya Hadapi Tekanan Besar
Apindo menilai momentum pertumbuhan 5,61% ini perlu dijaga melalui penguatan stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, serta kebijakan yang mampu meningkatkan daya saing industri nasional, khususnya sektor manufaktur dan industri padat karya yang saat ini menghadapi tekanan biaya cukup besar.
Ke depan, yang menjadi kunci bukan hanya menjaga pertumbuhan tetap tinggi, sehingga pertumbuhan tidak menjadi sekadar short-term spike yang belum sepenuhnya mencerminkan penguatan struktural ekonomi nasional.
"Perlu untuk memastikan pertumbuhan lebih broad-based, lebih inklusif terhadap dunia usaha, dan semakin memperkuat struktur ekonomi domestik agar lebih tahan terhadap guncangan eksternal," pungkasnya.