Dinkes Jatim Investigasi, Begini Kondisi Siswa SD di Surabaya Diduga Keracunan Usai Santap Daging Menu MBG
Proses investigasi dilakukan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Dinas Kesehatan Jawa Timur masih menyelidiki dugaan keracunan massal dialami ratusan siswa di Surabaya setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (11/5). Dari total 197 siswa terdampak, tiga di antaranya masih menjalani rawat inap.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan, proses investigasi dilakukan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut. Pemeriksaan melibatkan Dinas Kesehatan bersama sejumlah pihak terkait.
“Betul, info yang kami peroleh ada 197 siswa,” ujar Emil , Senin (11/5).
Menurut Emil, penanganan terhadap para siswa dipusatkan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Ikatan Bidan Indonesia (RS IBI) Surabaya serta Puskesmas Tembok Dukuh. Dari perkembangan terakhir, mayoritas siswa telah dipulangkan setelah kondisi mereka membaik.
“Update sesuai data tersebut, yang masih menjalani rawat inap tiga siswa dan observasi lima siswa. Yang lain sudah rawat jalan atau dipulangkan,” kata Emil.
Proses Penyelidikan
Penyelidikan saat ini difokuskan pada makanan yang diproduksi satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Dapur tersebut diketahui mendistribusikan makanan ke 12 sekolah mulai tingkat TK hingga SMP.
Sekolah penerima distribusi MBG itu meliputi SDN Tembok Dukuh 1, SDN Tembok Dukuh 3, SDN Tembok Dukuh 4, SD Aletheia, TK Aletheia, SMP Aletheia, SD Pancasila, SMP Islam, TK Ubaid, SD Ubaid 1 hingga SD X Demak Jaya.
Puluhan Siswa SD di Surabaya Usai Santap Daging Menu MBG
Sebelumnya, ratusan siswa mengalami gejala mual, muntah, pusing dan sakit perut usai menyantap menu MBG pada Senin pagi. Dugaan sementara mengarah pada lauk daging yang disebut baru pertama kali disajikan dalam menu tersebut.
Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, Tyas Pranadani mengatakan, sampel makanan telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLK) Surabaya untuk dilakukan uji laboratorium.
“Masih belum tahu penyebab pastinya, masih kami cek ulang bersama Dinas Kesehatan,” ujar Tyas.
Sebagai langkah pencegahan, distribusi makanan dari dapur SPPG terkait untuk sementara dihentikan guna menghindari munculnya korban baru. Pemerintah juga memastikan seluruh biaya pengobatan siswa terdampak akan ditanggung pihak SPPG.