2.837 Pekerja Migran Pulang Kampung, Paling Banyak dari Arab Saudi, Myanmar, Malaysia dan Brunei Darussalam
Demi memaksimalkan layanan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia telah menerapkan shift tambahan.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding memastikan kesiapan pelayanan penyambutan pekerja migran Indonesia oleh kantor P2MI Bandara Soekarno-Hatta bagi PMI melakukan perjalanan mudik lebaran 1446 Hijriah.
Dalam tinjauannya itu, Menteri P2MI melakukan pengecekan langsung terhadap sejumlah sarana dan prasarana seperti lounge khusus pekerja migran Indonesia yang ada di terminal 3 Soekarno-Hatta.
“Memastikan pelayanan KemenP2MI (Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia) dan BP3MI di Banten ini betul-betul siap siaga menerima dan mengatur pekerja migran Indonesia yang pulang menjelang dan setelah Lebaran,” kata Menteri P2MI Abdul Kadir Karding, Sabtu (29/3) di lounge P2MI Bandara Soekarno-Hatta.
Demi memaksimalkan layanan terhadap para PMI yang akan pulang ke kampung halaman setiba di tanah air Bandara Soekarno-Hatta, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia telah menerapkan shift tambahan.
“Kami menyiapkan 3 shift. H-5 Lebaran hingga H+10 Lebaran untuk antisipasi ini,” jelas Abdul Kadir.
Jumlah Pekerja Migran Indonesia
Abdul Kadir menerangkan sejak awal Maret 2025 PMI yang pulang ke Indonesia melalui Soekarno-Hatta telah mencapai 2.837 orang. Paling banyak berasal dari Arab Saudi, Myanmar, Malaysia dan Brunei Darussalam.
“Dari total pekerja migran yang pulang itu, 80 persen tercatat unprosedural. Tapi karena warga Indonesia, kita layani semua dan kita pastikan mereka pulang,” ujar politisi PKB ini.
Dalam kunjungannya ke terminal 3 Soekarno-Hatta, Menteri Abdul Kadir juga menyempatkan diri berbincang dengan sejumlah pekerja migran Indonesia yang bekerja di Malaysia dan Jepang. Dia bertanya kepada mereka yang berprofesi sebagai pengasuh lanjut usia (lansia).
Dia seolah menjadi seorang wartawan ingin tahu sejauh mana pelindungan dan kompensasi yang diperoleh pekerja migran Indonesia selama ini untuk menjadi bahan evaluasinya.
“Sorry nih kayak wartawan (bertanyanya),” terang Abdul Kadir.
Dalam perbincangan dengan mereka yang bekerja di Jepang melalui jalur prosedural, Menteri Karding memperoleh informasi gaji yang diterima mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan. Mereka juga mendapat benefit lainnya, yakni asuransi kesehatan, ketenagakerjaan hingga dana pensiun.
“Kalau bekerja prosedural, tentu banyak manfaat yang bisa dirasakan pekerja migran kita,” tandas Abdul Kadir Karding.