Setengah Juta Warga Gaza Kelaparan: Kami Tidak Meminta Keajaiban, Kami Meminta Makanan
Banyak anak-anak yang meninggal dan sakit karena kelaparan.
Setelah hampir tiga bulan Israel memblokade bantuan kemanusiaan di Gaza, warga Palestina di wilayah kantong tersebut menderita kelaparan. Dan anak-anak yang paling mengalami konsekuensi paling parah dari bencana ini karena banyak yang meninggal dan sakit karena kelaparan.
Menurut laporan yang dirilis 17 badan PBB dan NGO, hampir 500.000 warga Gaza menghadapi bencana kelaparan, seperti dikutip dari ABC News, Kamis (22/5).
Seorang dokter anak senior Palestina menggambarkan krisis kemanusiaan di Gaza sebagai hal yang "tidak dapat dipercaya," menyaksikan anak-anak meninggal karena kelaparan dan cedera yang dapat dicegah, pemandangan yang menurutnya telah ia pelajari dari buku teks, tetapi tidak pernah ia bayangkan akan ia lihat dalam kehidupan nyata.
"Kami melihat anak-anak dengan marasmus -- kulit dan tulang," kata kepala pediatri dan maternitas di Kompleks Medis Nasser di Gaza, Dr. Ahmmed Al-Farra, kepada ABC News.
"Beberapa hanya memiliki berat 40 persen dari berat badan yang diharapkan. Malnutrisi parah, tidak ada protein, tidak ada vitamin."
Marasmus adalah bentuk malnutrisi parah yang ditandai dengan kekurangan protein-energi, yang disebabkan kurangnya asupan kalori sehingga menyebabkan kehilangan lemak dan otot yang parah, menurut National Institutes of Health. Meskipun dapat terjadi pada siapa saja dengan malnutrisi parah, hal itu biasanya terjadi pada anak-anak.
Salah satu bayi Palestina di Gaza yang menderita malnutrisi parah adalah Siwar Ashour. Menurut Farra, enam bulan lalu Siwar relatif sehat. Namun hari ini, bayi perempuan ini sangat kekurangan gizi dan berjuang bertahan hidup di Rumah Sakit Nasser.
RS Nasser telah berulang kali dibom Israel, termasuk pada Senin. Al-Farra mengatakan, Siwar diikat dengan plastik. Berat badannya turun drastis sehingga dia tidak dapat lagi mengatur suhu tubuhnya sendiri. Dan pada usia 6 bulan, berat badannya hanya sekitar 3 kilogram. Itu kurang dari setengah berat rata-rata bayi perempuan Amerika, menurut Pusat Pengendalian Penyakit.
"Jika dia tidak minum susu formula yang tepat, sayangnya, dia tidak akan bertahan hidup," kata Al-Farra.
Kelaparan Meluas
Al-Farra juga menyoroti meluasnya kelaparan yang menimpa warga Palestina dari segala usia dan semua lapisan masyarakat di Gaza, yang kini telah memasuki minggu ke-11 sejak Israel melarang bantuan kemanusiaan memasuki wilayah tersebut. Bahkan sebagai seorang dokter dengan penghasilan yang relatif stabil, ia mengatakan belum pernah mengonsumsi daging segar, ayam, dan ikan selama lebih dari tiga bulan.
"Saya tidak makan ayam atau protein daging selama tiga bulan terakhir. ... Jika ini kenyataan yang saya alami, bayangkan bagaimana keadaan orang-orang di jalanan," katanya.
Menyoroti situasi mengerikan yang dialami para penyintas perang di Gaza, khususnya anak-anak, Al-Farra memohon agar bantuan segera datang ke wilayah tersebut.
"Kami tidak meminta keajaiban. Kami meminta makanan dan obat-obatan," cetusnya.
"Mereka bukan sekadar angka di atas kertas -- mereka adalah manusia yang diciptakan Tuhan. Mereka berhak untuk bertahan hidup."