Nestapa Bocah di Gaza yang Rambut dan Kepalanya Memutih, Dipicu Trauma Berat Akibat Bombardir Israel
Bocah di Gaza mengalami vitiligo setelah serangan panik parah yang dipicu bombardir Israel.
Serangan demi serangan membuatnya tampak menua lebih cepat. Kondisinya tidak bisa diobati di tengah perang yang berlangsung di Gaza, Palestina.
Dia adalah Lana al-Sharif yang baru berusia delapan tahun ketika perang Israel Gaza dimulai. Sembilan belas bulan kemudian, gadis Palestina itu kini dikenal di kamp pengungsiannya sebagai “anak tua.”
Rambut hitamnya berubah menjadi beruban, dan kulitnya mulai muncul bercak putih. Lana didiagnosis menderita vitiligo setelah mengalami serangan panik parah yang dipicu oleh bombardir Israel di lingkungan tempat ia tinggal pada Januari 2024.
Vitiligo merupakan kelainan autoimun kronis yang menyebabkan kulit kehilangan pigmen atau warna, sehingga muncul bercak-bercak putih.
Pada Juni 2024, UNICEF memperkirakan bahwa hampir semua dari 1,2 juta anak di Gaza membutuhkan dukungan kesehatan mental dan psikologis.
Gemetar sepanjang malam
Ayahnya, Khalil al-Sharif, menyampaikan kisahnya dari balik tenda darurat tempat keluarganya sekarang tinggal di Khan Younis, Gaza Selatan. Ia menggambarkan kejadian ketika Lana terkena serangan panik “Lana ketakutan dan gemetar. Ia terkena serangan panik yang sangat parah,” kata dia, seperti dikutip Middle East Eye, Senin (19/5).
“Kami membawanya ke rumah sakit dan dia dirawat di sana selama seharian penuh. Dia gemetar sepanjang malam, bahkan setelah pengeboman berhenti,” kenangnya.
“Dua hari setelah kami kembali kerumah, dua bintik putih muncul di wajahnya,” tambah Sharif.
Bahkan sebelum perang saat ini, sembilan dari sepuluh anak di Gaza menderita beberapa bentuk gangguan stress pasca trauma (PTSD) karena konflik yang terjadi. Sebagian besar merupakan akibat dari serangan militer Israel yang terus berulang.
‘Rambutnya memutih’
Orang tua Lana membawanya kembali ke rumah sakit setelah bintik-bintik putih pertama muncul di kulitnya. Saat itu, seorang dokter meresepkan salep dan obat-obatan untuknya. Namun kondisinya berangsur-angsur memburuk.
“Bintik-bintik itu semakin terlihat di wajahnya, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya. Selama enam bulan terakhir, keadaan menjadi sangat sulit dan rambutnya perlahan mulai memutih,” kata Sharif.
Ayahnya mengatakan bahwa mereka telah berkonsultasi dengan dokter selama lebih dari setahun.
“Mereka (dokter) menganggap obat itu akan membantu, tetapi tanpa perawatan yang tepat dan pengeboman terus-menerus yang membuat Lana panik, kondisinya terus memburuk.”
Antara akhir Januari 2024 dan Januari 2025, delegasi medis Prancis dan Amerika diberi akses terbatas ke Gaza pada kesempatan terpisah untuk mendukung tim medis yang kewalahan.
Lebih dari sepuluh obat
Orang tua Lana berjuang untuk menghubungi delegasi tersebut dan mendapat janji temu untuk putri mereka di tengah membanjirnya kasus penyakit yang mendesak. Pada akhirnya, mereka berhasil menghubunginya.
Setelah diperiksa, dokter asing itu memastikan diagnosisnya: vitiligo yang dipicu oleh trauma dan serangan panik yang parah.
“Mereka mengatakan Lana membutuhkan perawatan yang tepat dan terapi laser di luar negeri jika ingin cepat pulih. Tetapi saya gagal dalam setiap upaya untuk meyakinkan para dokter agar Lana masuk ke dalam daftar rujukan medis,” kata Sharif.
Sharif menambahkan bahwa saat ini Kementerian Kesehatan memprioritaskan pasien kanker dan jantung. Dan kasus Lana tidak dianggap sebagai kasus yang mendesak seperti ribuan kasus lainnya yang dirujuk.
“Sementara itu, dokter meresepkan pengobatan topikal sementara. Namun pengobatan ini sangat mahal, dan sebagian besar tidak tersedia di rumah sakit atau apotek di Gaza,” ujar Sharif.
Lebih dari sepuluh obat yang diresepkan dokter untuk Lana tidak bisa ditemukan di apotek manapun atau di tempat lain.
Trauma yang kembali muncul
Dalam upaya yang sangat putus asa, dokter merujuk Lana untuk menjalani terapi psikologis gratis. Namun hal tersebut tidak banyak membantu meringankan penderitaannya.
“Saat ini, Lana menerima dukungan psikologis,” kata Sharif. “Namun, untuk membawanya ke sesi-sesi tersebut, saya harus meminjam uang untuk menutupi biaya transportasi yang kini sangat mahal karena Gaza kekurangan bahan bakar dan taksi,” tambahnya.
Sejak ia dan keluarganya meninggalkan rumah mereka di Rafah dan mencari perlindungan di Khan Younis, Lana sangat takut ketika ditinggalkan di tenda sendirian.
“Dia takut dengan pengeboman, tetapi juga takut diganggu. Dia tampak berbeda dari anak-anak lain.”
Menyendiri
Lana merupakan satu-satunya anak perempuan di antara dua saudara laki-lakinya. Ia kini menghabiskan sebagian besar waktunya sendirian.
“Kadang saya melihatnya menggambar sambil menangis. Saya mencoba untuk duduk bersamanya, bermain dengannya, agar ia tak merasa begitu kesepian. Saya bilang ke Lana kalau dia lebih cantik daripada teman-temannya, bahkan lebih cantik daripada saya. Tetapi ia tahu yang sebenarnya, dia tahu ada yang tidak beres.”
Lana berbicara dengan kata-kata singkat dan penuh ragu. Ia berkata bahwa hal yang paling menyakitkan baginya adalah ketika merasa berbeda dari yang lainnya.
“Saya masih takut dengan pengeboman. Saya nggak akan pernah bisa terbiasa dengan suara itu. Mengerikan sekali,” katanya.
Terjebak
“Kini kami tinggal di tenda, dan suara bom itu terdengar lebih keras.”
Namun yang paling membuatnya takut adalah bagaimana orang-orang memandangnya.
“Orang-orang di jalan menatap saya. Tetangga yang dulu bermain dengan saya bertanya, ‘kenapa rambutmu memutih seperti orang tua?’” kata Lana. “Itu membuat saya sangat sedih, dan saya menangis.”
Menurut Dr. Muhammad Abu Salmiya, direktur Kompleks Medis al-Shifa di Gaza, setidaknya terdapat 20.000 pasien dan warga Palestina yang saat ini terluka dan membutuhkan perawatan.
Dari jumlah tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan antara 12.000 hingga 14.000 pasien yang sakit kritis memerlukan evakuasi untuk perawatan medis.
Hingga Maret 2025, setidaknya 4.500 anak di Gaza dilaporkan sangat membutuhkan evakuasi medis di luar negeri.
Namun, sejak Mei 2024 Israel menutup perbatasan Rafah yang menjadi satu-satunya pintu gerbang Gaza ke dunia luar melalui Mesir. Saat itu, hanya sekitar 500 kasus medis yang diizinkan meninggalkan Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan, sekitar 37 persen obat-obatan penting, 54 persen obat kanker, dan 59 persen perlengkapan medis sekali pakai benar-benar kehabisan stok.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey