'Aku Melihat Langsung Kaki dan Jariku Diamputasi,' Serangan Israel Hancurkan Mimpi Remaja Gaza
Ahmad Ghalban berlatih di tengah pengungsian dan perang, namun serangan udara pada Maret lalu merenggut nyawa saudara kembarnya dan kedua kakinya.
Ahmed al-Ghalban berlatih selama sembilan tahun sebagai pesenam di Gaza dan menolak untuk membiarkan 16 bulan perang serta pengungsian menghapus semua usaha kerasnya.
Ia dan saudara kembarnya, Muhammad, tetap berlatih di tempat pengungsian darurat bahkan di tengah pengeboman dan perintah pengusiran yang terus menerus. Mereka berpegang teguh pada impiannya untuk menjadi pelatih dan mewakili Palestina di kancah internasional.
Namun tiga bulan setelah kembali ke Gaza utara awal tahun ini, Ghalban duduk di sebuah tenda di Universitas Islam. Kedua kakinya telah diamputasi dan saudara kembarnya syahid. Masa depan yang ia dambakan hancur.
“Aku mulai senam sejak umur tujuh tahun,” ujar Ghalban yang kini berusia 16 tahun, seperti dikutip dari Middle East Eye, Rabu (11/6).
Bermimpi menjadi juara
“Muhammad dan aku berlatih di klub dan sekolah. Kami berdua berkembang pesat dan mulai melatih para pemula. Bahkan kami tampil di hadapan pengunjung asing. Kami seharusnya tampil di Mesir, tapi perang memuncak sebelum kami sempat berangkat.”
“Kami bermimpi menjadi juara dan pelatih untuk Gaza.”
Ghalban berasal dari al-Shaima di Belt Lahia, Gaza utara. Ia telah tujuh kali mengungsi sebelum akhirnya terluka, dan tiga kali lagi setelahnya.
Pada Maret lalu, sebuah serangan udara Israel menghantam mereka di saat keluarganya kembali mengungsi. Ia selamat namun Muhammad tewas.
‘Hari-hari paling bahagia dalam hidup’
Saat mengungsi di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah, Ghalban dan saudaranya tidak membiarkan pengeboman menghentikan latihan mereka.
Beberapa kali dalam sepekan, mereka pergi ke pantai untuk berlatih dan saling mengajarkan gerakan satu sama lain. Mereka mengulang kembali rutinitas yang mereka kuasai sebelum perang dimulai pada Oktober 2023.
“Saat kami berlatih, sering ada serangan udara,” kenang Ghalban, “tapi kami punya mimpi, dan tidak ingin buang-buang waktu.”
Saat pantai tidak bisa diakses, mereka mencari gang-gang sepi di dekat kamp untuk terus berlatih demi menjaga semangat mereka agar tetap hidup di tengah kekacauan.
Setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada Januari lalu, lebih dari satu juta warga Palestina yang mengungsi diizinkan kembali ke rumah mereka di Gaza utara.
Keluarganya termasuk yang pertama melakukan perjalanan kembali ke sana. Setibanya di rumah lama, mereka mendapati setengah rumah mereka yang hancur dan sisanya hangus terbakar.
“Aku kaget melihat tingkat kehancurannya. Aku tak pernah membayangkan rumah-rumah itu akan rata dengan tanah. Tapi kami bisa menerima kenyataan dan membersihkan puing-puing agar bisa menetap.”
Butuh empat hari bagi mereka untuk membersihkan reruntuhan. Begitu selesai, ia dan kembarannya langsung kembali berlatih di klub mereka.
Lima puluh hari berikutnya yang cenderung tenang merupakan “hari-hari paling bahagia” dalam hidup Ghalban bersama saudara kembarnya.
“Kami memulai usaha kecil, membersihkan rumah-rumah yang rusak, membuang puing, dan menggosok noda bekas terbakar di dinding.
“Muhammad yang mencari pekerjaan, lalu mengajakku untuk membantu dan menemaninya. Kami seperti satu jiwa.”
‘Aku menyaksikan kaki-kakiku dipotong’
Pada 18 Maret, Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas dan melancarkan salah satu serangan paling mematikan sejak perang dimulai. Empat hari kemudian, militer Israel mengeluarkan perintah pengusiran baru. Mereka memerintahkan warga Gaza utara untuk pergi lagi.
Ghalban, saudara kembarnya, paman, dan sepupu mereka yang berusia enam tahun berjalan kaki meninggalkan rumah. Sementara keluarga lainnya menyusul dari tempat berbeda.
“Kami membawa galon air dan alas tidur, lalu mulai berjalan,” kata Ghalban.
Baru berjalan sekitar 100 meter, sebuah peluru artileri Israel menghantam mereka secara langsung. Paman dan sepupunya tewas seketika. Ghalban terluka parah dan berdarah hebat dan mencoba duduk untuk mencari saudara kembarnya.
“Aku terus bertanya dalam hati, “apa salah kami? Kenapa? Kami sudah mengikuti perintah evakuasi, tapi tetap dibom.”
Ia menemukan Muhammad tak jauh dari tempatnya, kembarannya itu dalam kondisi kritis dan nyaris tak sadarkan diri. “Separuh tubuhnya terputus. Tubuh pamanku tercerai berai. Dan sepupuku meninggal di tempat.”
“Meski begitu, aku tak pernah membayangkan Muhammad akan meninggal. Kami adalah atlet. Aku percaya tak ada rudal yang mampu membunuh kami. Aku terus memanggilnya dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Tapi Muhammad tak menjawab, dia sedang membaca lantunan Alquran dan berdoa.”
Karena ambulans tidak menjangkau area tersebut akibat banyaknya daerah yang diserang, sekelompok anak muda mengangkut korban yang terluka dengan becak motor menuju Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara.
Di rumah sakit, dokter langsung mengamputasi kedua kaki Ghalban di atas lutut karena luka yang sangat parah. Empat jari tangan kanannya juga harus dipotong.
“Saat itu aku dalam kondisi sadar,” ujarnya. “Aku menyaksikan langsung saat mereka memotong kedua kakiku. Keluargaku menangis, dan aku melihat semuanya.”
“Mereka memotong anggota tubuh yang dulu kupakai untuk berlatih senam. Itu merupakan bagian terpenting dari diriku.”
Saat itu, Ghalban belum tahu bahwa saudara kembarnya telah meninggal dunia. Keluarganya menunggu 17 hari sebelum mereka memberi tahunya.
“Mereka membawa teman-temanku ke kamar rumah sakit, lalu menyampaikan kabar itu. Sebagian jiwaku hancur saat itu.” katanya.
Menurut UNICEF, antara 3.000 hingga 4.000 anak-anak di Gaza telah menjalani amputasi sejak perang dimulai. Lembaga tersebut mengatakan itu merupakan “jumlah amputasi anak per kapita tertinggi di dunia.”
Serikat Media Olahraga Palestina melaporkan sedikitnya 708 atlet Palestina tewas dalam serangan Israel sejak 7 Oktober 2023, 95 dari korban itu adalah anak-anak.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey