Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk kaya dan miskin di Indonesia (gini ratio) pada September 2016 sebesar 0,394, menurun tipis 0,003 poin dibanding Maret 2016 yang mencapai 0,397. Dibanding September 2015, gini ratio ini juga menurun 0,008 poin dari 0,402.
Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi dengan nilai gini ratio tertinggi yaitu sebesar 0,425. Sementara gini ratio terendah terjadi di Provinsi Bangka Belitung sebesar 0,288.
"Gini ratio di Yogyakarta ini lebih tinggi dibanding gini ratio nasional yang sebesar 0,394," kata Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Rabu (1/2).
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS M. Sairi Hasbullah menambahkan, Yogyakarta merupakan provinsi dengan ketimpangan tertinggi di Indonesia. Indikasi statistik menunjukkan total pengeluaran penduduk 20 persen terbawah di Yogyakarta hanya 5,66 persen dari total seluruh pengeluaran penduduk terendah se-Indonesia.
Sedangkan Bangka Belitung selalu konsisten menunjukkan angka gini ratio yang paling rendah di Indonesia, dengan angka kemiskinan yang relatif rendah hanya 5,04 persen di antara yang terendah di Indonesia.
Untuk DKI Jakarta menunjukkan penurunan ketimpangan yang cukup tinggi antara September 2015 sampai September 2016. "Artinya, selama setahun terakhir DKI Jakarta berhasil menurunkan tingkat ketimpangan ekonomi masyarakatnya," jelas Sairi.