Tingkatkan produksi, pemerintah luncurkan buku peta jalan kopi
Merdeka.com - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian meluncurkan buku peta jalan (Roadmap) kopi berjudul Arah Kebijakan Kopi Indonesia Menghadapi Tantangan Kompetisi, Perubahan Iklim, dan Kondisi Kopi Dunia (Strategi Kopi Indonesia Jangka Pendek, Jangka Menengah, dan Jangka Panjang).
Penyusunan buku ini dilakukan guna mengumpulkan informasi yang komprehensif mengenai kondisi kopi secara domestik maupun global. Di dalamnya, dikupas tentang seluk beluk dunia kopi dari hulu ke hilir hingga strategi yang perlu dilakukan guna mengembangkan potensi kopi Indonesia.
Berbagai informasi lainnya yang dipaparkan dalam buku ini adalah potensi, tantangan, serta strategi kebijakan jangka pendek hingga jangka panjang pemerintah dalam merespons perkembangan komoditas kopi. Hal ini, sebagai respon terhadap kenyataan bahwa kopi telah menjadi komoditas penting yang disukai seluruh lapisan masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan bahwa Indonesia memiliki lahan perkebunan kopi yang luas. Sayangnya, produktivitas kopi di Indonesia masih belum optimal. Angka pertumbuhan konsumsi kopi Indonesia per tahun mengalami peningkatan sebesar 6,3 persen dalam lima tahun terakhir.
"Dengan luas lahan perkebunan yang mencapai 1,2 juta hektare, Indonesia belum memaksimalkan produktivitas lahannya," di Graha Sawala, Gedung Ali Wardhana, Jakarta, Kamis (26/4).
"Konsumsi dunia akan naik kali lipat. Artinya produktifitas harus diperbaiki 3 sampai 4 kali lipat. Ini perlu roadmap penanaman arabika dan robusta. Sehingga bisa merebut kembali kejayaan produksi dan penanaman kopi," lanjutnya.
Dia menambahkan, Indonesia masih belum memiliki strategi yang jelas terhadap arah pengembangan kopi yang benar guna meningkatkan hasil produksinya. Padahal, selama ini hasil produksi kopi Indonesia menempati urutan ke empat terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia.
Produktivitas kebun kopi di Indonesia, memang masih tertinggal dari negara penghasil kopi yang lebih besar. Bandingkan saja, produktivitas Indonesia hanya 500 kg per hektare, sementara Vietnam produktivitasnya mencapai 2,7 ton per hektare. Padahal, Indonesia memiliki luas lahan yang lebih besar, dibandingkan dengan luas lahan di Vietnam yang mencapai 630 ribu hektare.
Untuk itu pemerintah berupaya untuk menggerakan kepedulian lebih terhadap kopi dengan cara mengembangkan bibit kopi dengan baik, melakukan penanaman bibit kopi yang tepat untuk jenis tertentu sesuai dengan keadaan wilayah di Indonesia, dan memperbaiki produktivitas kopi melalui buku Roadmap Kopi.
"Kopi dilemanya selalu kalau kita kita besar-besaran minum kopi, akan over produksi. Dan sekarang situasi itu mulai terjadi. Oleh sebabnya harus di rancang bahawa kopi beda dengan komoditi lain, benihnya itu, fariasinya gak banyak dan selalu masih bisa di kelompok di arabika dan robusta sehingga terjadi penanaman. Setiap kali terjadi, perkebunan kita tidak ada perusahaan besar yang back up bibitnya jadi acak acakan. Dan produktifitas kita rata2 hanya setengah ton per hektar," kata Darmin.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya