Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat ekspor Indonesia masih kalah dengan negara tetangga. Dia menyebut, ekspor Indonesia pada 2017 mencapai USD 145 miliar masih kalah dengan Thailand yang mencapai USD 231 miliar, Malaysia USD 184 miliar dan Vietnam yang mencapai USD 160 miliar. Menurutnya, ada yang salah dengan kebijakan ekspor dalam negeri.
Ketua DPR, Bambang Soesatyo mengatakan, pihaknya akan mendorong Komisi VI DPR yang membidangi perdagangan untuk mengagendakan rapat kerja dan dengar pendapat dengan semua institusi yang berwenang mengatur ekspor-impor, termasuk Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).
Bamsoet, panggilan akrab Bambang mengatakan, tidak semua masalah di bidang ekspor menjadi tanggung jawab Kementerian Perdagangan. "Sebagaimana praktik selama ini, mekanisme ekspor melibatkan kewenangan sejumlah kementerian dan lembaga," ujarnya di Jakarta, Selasa (6/2).
Menurut Bambang, kinerja ekspor juga ditentukan oleh faktor biaya produksi dalam negeri dan logistik. Dalam konteks biaya produksi, pelaku usaha sering mempersoalkan suku bunga dan harga energi.
Legislator berlatar belakang pengusaha itu menambahkan, pelaku usaha membandingkan tingginya suku bunga di dalam negeri yang mencapai dua digit. Sementara di China dan beberapa negara lain justru menawarkan kredit modal kerja dengan bunga di kisaran 5 persen.
Sedangkan pada aspek logistik ada persoalan inefisiensi. Menurut Bamsoet, faktor logistik sudah menjadi masalah sejak lama yang menyebabkan produk ekspor Indonesia tidak kompetitif.
"Pada faktor logistik inilah tergambar banyaknya kewenangan dari sejumlah kementerian dan lembaga, karena menyangkut angkutan darat, udara, laut, kereta api, manajemen pelabuhan, pergudangan hingga proses pengiriman," sebut legislator Golkar itu.
Guna meningkatkan kinerja ekspor, sambung Bamsoet, faktor biaya produksi dan logistik harus dikaji lagi. Sebab, kontribusi faktor suku bunga, harga energi dan faktor logistik cukup signifikan dalam menentukan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar internasional.
"Mendongkrak kinerja ekspor tidak cukup dengan mendeteksi kebutuhan dan permintaan pasar internasional. Upaya itu harus pula didukung oleh strategi produksi dan logistik yang efisien agar bisa mengalahkan produsen dari negara lain," cetusnya.
Karena itu Bamsoet menegaskan, pimpinan DPR akan mendorong upaya peningkatan kinerja ekspor. Mengingat kekuatan ekspor menjadi faktor yang menentukan tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi, selain investasi dan konsumsi masyarakat."