Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pembentukan holding bisa perbesar kapasitas finansial BUMN

Pembentukan holding bisa perbesar kapasitas finansial BUMN gedung BUMN. wordpress.com

Merdeka.com - Demi meningkatkan efisiensi dan memperbesar kapasitas finansial untuk melakukan ekspansi usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor energi harus dibentuk penggabungan perusahaan energi. Sebab, sektor energi merupakan bisnis yang padat modal dan teknologi tinggi.

"Dengan kian besar size perusahaan (ukurannya adalah modal), akan dapat didorong efisiensinya," ujar Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada Tony Prasetyantono di Jakarta, Sabtu (9/7).

Kementerian BUMN telah memutuskan untuk menggabungkan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) ke dalam PT Pertamina (Persero) yang sekaligus menjadi perusahaan induk (holding) BUMN energi. Realisasi penggabungan kedua BUMN saat ini menunggu terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) tentang pembentukan holding BUMN.

Penggabungan PGN ke Pertamina akan membuat operasional yang makin efisien, keuntungan yang bisa diperoleh juga berpotensi makin besar. Dengan keuntungan yang makin besar, investasi yang bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur gas juga berpotensi meningkat pesat.

Tahun ini, Pertamina menganggarkan belanja modal USD 366,3 juta untuk pemanfaatan gas atau 6,9 persen dari total investasi perseroan yang mencapai USD 5,31 miliar. Sementara itu, belanja modal PGN sekitar USD 500 juta.

Menurut Tony, pembentukan holding pada dasarnya mempunyai dua tujuan, yakni pertama, meningkatkan efisiensi. Kedua, memperbesar tenaga perusahaan untuk melakukan ekspansi usaha.

"Holding company dilakukan di berbagai industri, misalnya semen, farmasi, konstruksi dan perkebunan. Holding juga dilakukan di industri pupuk," tegasnya.

Dia menegaskan holding berbeda dengan merger. Holding tidak mengubah identitas perusahaan aslinya. Hal ini seperti yang terjadi pada holding BUMN semen. Semen Padang, Semen Gresik dan Semen Tonasa tetap memiliki identitasnya masing-masing. Sedangkan, merger menghilangkan identitas perusahaan asalnya (legacy).

"Misal BDN, BBD, Bapindo dan Bank Exim sudah tidak ada karena sudah bergabung menjadi Bank Mandiri. Jadi holding BUMN energi, yakni Pertamina, PGN, dan Pertagas bukanlah merger," jelasnya.

Merger, lanjut Tony, belum dimungkinkan dilakukan pada BUMN energi. Selain isu yang sensitif dan agak rumit karena menyangkut regulasi di bursa efek. Namun demikian, holding BUMN migas perlu segera melakukan sinergi secara agak mengikat. Jika sinergi hanya sebatas kesepakatan biasa, hasilnya cuma jadi wacana di koran. Namun jika dilakukan merger, perlu proses panjang melalui mekanisme pasar modal.

"Karena itu, agar tujuan meningkatkan efisiensi dan memperbesar kapasitas finansial untuk melakukan ekspansi usaha, maka jalan satu-satu-nya adalah membentuk holding company. Ini persis sama dengan kasus BUMN bank," kata Tony.

Menurut Tony, di bank terdapat adagium 'size does matter', artinya semakin besar size bank, semakin kompetitif. Jadi, empat bank BUMN perlu berkonsolidasi jika ingin lebih efisien dan kompetitif.

"Bisnis di industri energi juga sama saja. Berlaku adagium 'size does matter'," pungkasnya.

(mdk/sau)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP