Miris, laut Indonesia sangat luas tapi impor ikan asin dari Taiwan

Produk ikan asin impor menyerbu pasar tradisional dalam negeri.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Miris, laut Indonesia sangat luas tapi impor ikan asin dari Taiwan
ikan asin. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Indonesia merupakan salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Lautan di Indonesia lebih luas dibanding daratan. Namun demikian, Indonesia masih menjadi pasar empuk ikan impor.

Produk ikan asin impor menyerbu pasar tradisional di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, bahkan lebih diminati oleh konsumen karena harganya yang murah.

"Hampir seluruh lapak didominasi penjualan ikan asin impor seperti dari Thailand dan Taiwan," kata salah seorang pedagang ikan asin di Pasar Cisaat Kabupaten Sukabumi, Deni Supriadi seperti ditulis Antara Sukabumi.

Mendominasinya produk ikan asin impor ini karena minimnya pasokan dari pengolah dalam negeri, sehingga pedagang lebih memilih produk impor itu dari pada tidak mendapatkan pasokan. Selain itu, harganya pun lebih murah dibandingkan produk ikan asin dari dalam negeri sehingga cukup banyak peminatnya.

Mirisnya lagi, beberapa bulan terakhir ikan asin lokal sulit ditemukan, kalaupun ada jumlahnya hanya terbatas. Padahal produk ikan asin dalam negeri lebih baik dibandingkan impor, tapi produk lokal tersebut tidak bisa bertahan lama karena pengolahannya masih tradisional dan organik atau tidak menggunakan bahan pengawet kimia.

"Seharusnya yang menguasai pasar adalah produk ikan asin dalam negeri, karena Indonesia memiliki lautan yang sangat luas dibandingkan Taiwan dan Thailand. Apalagi di dua negara tersebut jarang ada jenis ikan sepat dan teri," tambahnya.

Cuaca buruk jadi kambing hitam kurangnya pasokan ikan asin dalam negeri.

Ketua Komunitas Pengepul dan Pengolah Ikan Pelabuhanratu, Telly Supriatna mengatakan ikan asin dari sejumlah tempat di Indonesia memang kurang, mungkin karena sulitnya mendapat ikan yang disebabkan cuaca sedang tidak baik. Sejak Desember 2015 hingga April tahun ini dipastikan pasokan akan semakin berkurang.

Saat memasuki musim penghujan ini, pengolahan ikan asin berkurang karena untuk proses pengeringannya membutuhkan waktu yang lama ditambah sampai April mendatang memasuki musim paceklik ikan sehingga pasokan akan semakin berkurang.

Mayoritas pengolah ikan asin di Indonesia masih tradisional dan mengandalkan alam untuk pengeringannya. Jika dibandingkan dengan produk impor yang sudah menggunakan alat modern menyebabkan produk kita kalah bersaing di pasaran.

Pihaknya menjamin bahwa produk ikan asin dalam negeri bisa bersaing dengan produk impor karena Indonesia mempunyai sumber daya ikan laut yang melimpah, apalagi memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini produk usaha kecil menengah di bidang pengolahan ini dipastikan mempunyai kualitas.

Sejalan dengan itu, usaha mikro pembuatan ikan asin di bantaran Sungai Musi, Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I Palembang, Sumatera Selatan terkendala bahan baku sejak dua bulan terakhir akibat berkurangnya hasil tangkapan nelayan.

Pemilik usaha ikan asin Marliah (38) di Palembang mengatakan, lima unit kapal motor yang telah menjalin kerja sama dengannya hanya mampu memasok sekitar 300 kilogram ikan laut per hari.

Sementara, di saat cuaca baik mendapatkan pasokan 3-4 ton per pekan atau sekitar 500 kilogram per hari.

"Pasokan bahan baku berkurang drastis jadi terpaksa mengurangi tenaga kerja, biasanya 20 orang, kini hanya setengahnya. Itu pun bekerjanya hanya setengah hari karena siang sudah selesai," kata Lia yang telah menggeluti usaha ini selama tujuh tahun.

Omzet pengusaha ikan asin dalam negeri juga anjlok parah.

Akibat berkurangnya bahan baku ini, omzet pengusaha ikan asin yang semula berkisar Rp 30 juta per pekan kini merosot menjadi sekitar Rp 10 juta-Rp 15 juta.

Namun, lantaran sudah berpengalaman di bisnis ikan asin ini, Marliah tidak terlalu terkejut dengan kondisi ini karena rutin terjadi setiap tahun untuk periode Desember-April. "Biasanya di April sudah normal lagi hingga akhir tahun," kata dia.

Usahawan ikan asin lainnya, Muhammad Mansyur (70) membenarkan bahwa saat ini pasokan bahan baku sedikit berkurang.

"Sekarang ombak lagi tinggi, tapi karena masih ada nelayan yang melaut jadi tetap dapat bahan baku, tapi tidak banyak. Saat ini juga tangkapan nelayan untuk ikan tawar juga berkurang karena air sedang dalam," kata dia.

Pengaruh cuaca saat ini membuat ikan asin air laut, seperti ikan kepala batu, belis, dan lidah menjadi buruan di pasar tradisional.

Harga ikan asin kepala batu pun mulai bergerak naik dari Rp 18 ribu menjadi Rp 20.000 - 22.000 per kg. Sementara itu, dia membeli di nelayan Rp 7.000 per kg untuk kemudian diolah menjadi ikan asin selama dua hari dengan mempekerjakan 10 orang.

Dalam satu hari, Mansyur menjual sekitar 200 kg ikan asin dengan omset sekitar Rp 4 juta yang disebar di pasar tradisional Palembang hingga ke Kabupaten tetangga, Banyuasin, Musi Banyuasin.

Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Selatan diketahui produksi ikan laut mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2013 tercatat 44.762,90 ton dari target 41.028,82 ton, kemudian 2014 tercapai 45.256,63 ton.

Pemerintah saat ini mengiatkan industri pengolahan ikan untuk meningkatkan nilai tambah sektor perikanan.

Rekomendasi