Keanekaragaman hayati atau biodiversity asli Indonesia makin dilirik dunia internasional untuk dimanfaatkan berbagai macam industri. Kondisi ini tentu menunjukkan bahwa kesejahteraan alam perlu dijaga pemerintah.Deputi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas) Endah Murniningtyas mengungkapkan, banyaknya bahan yang bisa diolah dari biodiversity membuat sektor ini makin diminati. Sementara, peran pemerintah dirasa belum cukup signifikan dalam mengembangkan sektor tersebut.Padahal, pihaknya meyakini bahwa biodiversity mampu menjadi pemasukan kas negara. Sebab hal ini dianggap menjadi dasar untuk sebuah industri. "Selain sebagai kedaulatan bangsa. Ini manfaatnya untuk revenue (penerimaan) juga," kata Endah di Jakarta, Rabu (22/4).Peran pemerintah yang dirasa perlu untuk memajukan sektor biodiversity ini adalah upaya memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM). Terutama kepada para peneliti yang sejauh ini diakuinya hanya berjumlah 200 orang.Jumlah ini lantas dianggap belum memenuhi dari total luas wilayah keanekaragaman hayati. "Kan kita negara mega biodiversity, masa cuma ada 200 orang peneliti," ungkapnya.Selain menambah jumlah, regenerasi peneliti berusia uzur juga menjadi kendala untuk mengembangkan sektor ini. Maka itu, pihaknya meminta diperlukannya dorongan lebih kepada sektor keanekaragaman hayati ini.Sebab bukti besarnya kontribusi keanekaragaman hayati untuk perekonomian Indonesia cukup besar. Pihaknya mencatat total keanekaragaman hayati dan ekosistem pada tahun 2012 tembus Rp 3.000 triliun.
Keanekaragaman hayati Indonesia senilai Rp 3.000 T terancam punah
Bappenas menyebut Indonesia krisis peneliti keanekaragaman hayati yang saat ini hanya sekitar 200 orang.
Rekomendasi